Jumat, 24 April 2015
Apakah Bakat Saya yang Sebenarnya?
Selamat siang kawan-kawan pembaca blog. Pada kesempatan kali ini, saya akan menuliskan tentang menggali bakat dalam diri kita sendiri. Tapi sebenarnya, saya pun masih bingung hingga detik ini akan bakat saya yang sebenarnya. Karena, saya merupakan orang yang terbilang 'penasaran' akan hal-hal baru dan unik.
Sabtu, 18 April 2015
Apa Perbedaan Bakat Dan Kreativitas?
Pada
tulisan kali ini penulis akan menulis tentang perbedaan bakat dan kreativitas.
Sebelumnya, penulis menulis di blog ini untuk memenuhi tugas Softskill.
Pada
dasarnya belum terdapat pengertian yang sama tentang keberbakatan dari beberapa
ahli. Hagen dan Hollingworth (dalam Hawadi, 2002) membedakan antara gifted dan talented. Gifted ditujukan pada individu dengan kemampuan unggul
dibidang seni, musik, dan drama. Kemudian Cutts dan Musseley (1957 dalam
Hawadi, 2002) membedakan antara bright dengan
gifted dan talented. Menurut kedua tokoh tersebut, bright diartikan individu yang mampu menempuh pendidikan tingkat
Sekolah Menengah Atas (kolese) dan
lancar dalam karier yang dipilihnya. Gifted
diartikan individu yang memiliki potensi yang lebih tinggi daripada
individu dengan tingkat bright, sedang
talented menunjuk pada individu yang
memiliki kemampuan tidak lazim (luar biasa dibidang akademis, tanda umum adalah
adanya kemampuan yang tergolong superior).
Pandangan
yang terbaru mempersepsikan keberbakatan tidak hanya dari satu segi saja yaitu
kemampuan intelektual, tetapi juga dari segi lain atau kemampuan lain, misalnya
kreativitas, seni, olahraga, dan lain-lain. Pandangan terakhir tersebut
dikategorikan dalam pendekatan yang menggunakan kriteria majemuk atau
multi-kriteria. Contoh pandangan yang menggunakan pendekatan tersebut adalah
pandangan USEO (United States Office of Education) dan pandangan Renzulli.
Sedangkan
kreativitas secara konvensional didefinisikan dengan pendekatan tiga P, yaitu
pribadi yang kreatif, proses kreatif,
dan produk kreatif (Barron 1988 dalam Davis 1993: 39). Santrock
(2008:366) kreativitas ialah kemampuan berpikir tentang sesuatu dengan cara
baru dan tak biasa dan menghasilkan solusi yang unik atas suatu
problem. Selain itu Samsunuwiyati (2010:175) berpendapat bahwa
kreativitas merupakan konsep yang majemuk dan multi-dimensional, sehingga sulit
didefinisikan secara operasional.
Kreativitas
membutuhkan rangsangan dari lingkungan untuk berkembang secara optimal.
Beberapa faktor yang menentukan adalah:
1. Kebebasan:
orang tua yang percaya untuk memberikan kebebasan kepada anak.
2. Respek:
orang tua yang menghormati anaknya sebagai individu, percaya akan kemampuan
anak mereka, dan menghargai keunikan anak mereka.
3. Kedekatan emosi yang sedang: kreativitas akan
dapat dihambat dengan suasana emosi yang mencerminkan rasa permusuhan,
penolakan, atau rasa terpisah.
4. Prestasi bukan angka: orang tua anak kreatif
menghargai prestasi anak, mendorong anak untuk berusaha sebaik-baiknya, dan
menghasilkan karya-karya yang baik.
5. Orang tua aktif dan mandiri: sikap orang tua
terhadap diri sendiri amat penting karena orang tua merupakan model bagi anak.
6. Menghargai
kreativitas: anak yang kreatif memperoleh banyak dorongan dari orang tua untuk
melakukan hal-hal yang kreatif.
Kendala
terhadap produktivitas kreatif dapat bersifat internal, yaitu berasal dari
individu itu sendiri. Dapat pula bersifat eksternal, yaitu terletak pada
lingkungan individu, baik lingkungan makro maupun lingkungan mikro. Kendala
internal yaitu keyakinan bahwa lingkunganlah yang menyebabkan dirinya tidak
mempunyai kesempatan mengembangkan kreativitasnya. Kendala eksternal antara
lain yaitu tentang evaluasi, pujian, perasaan diamati selagi mengerjakan
sesuatu, pemberian hadiah dan persaingan.
Menurut Utami Munandar (2009:71) kreativitas
adalah kemampuan seseorang untuk mengekspresikan ide-ide baru yang ada dalam dirinya
sendiri. Adapun ciri-ciri dari kreativitas adalah:
1.
Rasa ingin tahu yang luas dan mendalam
2.
Sering mengajukan pertanyaan yang
baik
3.
Memberikan banyak gagasan atau usul
terhadap suatu masalah
4.
Bebas dalam menyatakan pendapat
5.
Mempunyai rasa keindahan yang dalam
6.
Menonjol dalam salah satu bidang seni
7.
Mampu melihat suatu masalah dari berbagai
segi/sudut pandang
8.
Mempunyai rasa humor yang luas
9.
Mempunyai daya imajinasi
10.
Orisinal dalam ungkapan gagasan dan dalam
pemecahan masalah
Jadi, bakat dan
kreativitas adalah saling berkaitan satu sama lain. Kebutuhan sosial akan kreativitas
dirasakan di mana-mana dan tampak dalam sistem pendidikan, penggunaan waktu
luang, pengembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan keluarga. Makna dari
pengembangan kreativitas berkaitan dengan kualitas perwujudan diri, peningkatan
kemampuan berpikir kreatif, kepuasan dalam mencipta, dan peningkatan kualitas
hidup. Sikap orang tua dalam mendukung kreativitas anak juga sangat diperlukan
dengan menyediakan sarana pendukung dan motivasi serta mengembangkan hobi dalam
keluarganya masing-masing. Dalam kegiatan pembelajaran guru harus senantiasa
berusaha memikirkan bagaimana cara menumbuhkan kreativitas siswa dalam belajar,
dengan mempertimbangkan tahap-tahap munculnya kreativitas (persiapan, inkubasi,
iluminasi, verifikasi).
Sumber:
Minggu, 12 April 2015
Anak Indonesia yang Berbakat di Negeri Paman Sam
Selamat sore para
pembaca blog, kali ini saya akan membagi informasi tentang salah satu anak
Indonesia yang berbakat di negara Amerika Serikat yang bernama Erica Kaunang.
Pada tahun 2014 yang lalu, gadis cilik berdarah Kawanua
asal Indonesia kembali menunjukkan kelasnya, karena masuk deretan siswa paling
pintar di New York, Amerika Serikat. Pada sebuah acara yang bertajuk National Junior Society Induction Ceremony,
namanya kembali menggema di seantero ruangan sebagai salah satu dari sedikit
anak-anak yang dianggap dan diyakini sebagai siswa genius pada penerima award
bergengsi di dunia pendidikan Amerika.
Di awal tahun 2014, penghargaan yang diterima Erica tentu
akan menjadi kebanggaan bagi orang tua dan warga Indonesia lainnya yang tinggal
di Amerika. Untuk yang ketiga kalinya Erica mendapat penghargaan Gold Honor Roll, setelah pada tahun 2012
dan 2013, ia juga memperolehnya secara penuh. Hanya saja, acara penghargaan Gold Honor Roll tahun 2014 yang
lalu terbilang lebih istimewa oleh karena dirayakan secara besar-besaran di
salah satu state di Negeri Paman Sam itu. Tamu yang hadir pun tidak
hanya dari kalangan akademisi, namun juga para politisi dan penguasa setempat.
Sebut saja di antaranya ada Senator asal NYC, Mr. Joseph P, Addobbo Jr,
kemudian ada juga NYC Councilwoman, Elizabeth Crowley, Principal Dr. Jeanne
Fagan bersama wakilnya, Mr. Frederick Baumann. Dari pihak NJHS (National Junior Honor Society Advisor)
hadir pula Mrs. Kim. Puterbaugh,
kemudian ada PIA President, Mrs. Christina De Simone. Mewakili Community School District 24 Superintendent
Madelin Taub-Chan. Banyak juga politisi lokal lainnya turut hadir untuk
memberikan apresiasi terhadap anak-anak pintar ini.
Dalam acara pemberian Award tersebut, ada 49 siswa dari Gifted and Talented Class (sebuah
kelas khusus anak-anak genius dan berprestasi) yang menerima penghargaan. Salah
satu dari beberapa penerima penghargaan tersebut adalah Erica Kaunang. Gadis
cilik putri tercinta dari pasangan Joutje Kaunang dan Eva Purba (pasangan
Manado – Batak) ini memang adalah anak yang sangat pintar dan berprestasi.
Menurut sang ayah, Joutje, bahwa penerima award ini memanglah hanya dikhususkan
kepada mereka yang memiliki nilai report card di atas 90%. Dan Erica
sendiri mendulang hasil, yang menurut pendapat saya amat fantastis yaitu 99.93%
atau hampir sempurna (nilai sempurna adalah 100%).
Ke-49 penerima penghargaan ini datang dari kelas yang
memang sudah terpilih, yaitu berjumlah 300 orang yang dipilih dari seluruh
Amerika Serikat. Mereka adalah siswa-siswa jenius yang dipilih dan diseleksi
secara ketat untuk masuk dalam kelompok Gifted
and Talented. Ini adalah sebuah peghargaan tertinggi di dunia pendidikan
New York City.
“Torang (kami) orang tua merasa terharu ketika nama
anak kami disebutkan oleh Senator New York ketika membawakan pidatonya”,
demikian komentar Joutje Kaunang. Ketika nama Erica dipanggil, gemuruh tepuk
tangan para hadirin yang memenuhi ruangan itu sontak terdengar. Mereka sangat
mengapresiasi anak-anak yang hebat dalam dunia pendidikan itu.
Dalam sambutannya, Principal Kim mengatakan bahwa tidak mudah
untuk terpilih mendapatkan penghargaan dari National Junior Honor Society. Karena apa? Karena untuk mendapatkan
nilai seperti itu tidaklah mudah. Dari 300 siswa terpilih dan diyakini
sangat pintar itu maka dipilihlah 49 penerima penghargaannya, yaitu
mereka-mereka yang memiliki nilai di atas 90%.
Dan yang lebih membanggakan lagi, dari 49 siswa itu
ternyata ada 29 siswa yang dianggap terpintar, yaitu mereka yang memiliki nilai
di atas 99% (atau hampir 100%). Erica adalah salah satu dari 29 siswa tersebut
dengan nilai 99.93%. Ini tentu menuntut kerja keras dan usaha maksimal dari seorang
Erica. Tidak hanya tatkala hendak memperolehnya, namun juga untuk mempertahankan
apa yang sudah diperolehnya itu. Mungkin sekali, tidak ada lagi waktu untuk
bermain-main layaknya anak sebaya dia. Waktunya digunakan hanya untuk belajar,
dan terus belajar.
Erica memang adalah seorang gadis cilik yang amat
berbakat. Ia memang tak pernah berhenti belajar, tidak pula ia terlena dengan
apa yang sudah dicapainya. Ia tidak hanya sudah pernah mendapat tugas menulis
surat ke Presiden Amerika, dan akhirnya mendapat balasan jawaban dari Sang
Presiden. Ia pun pernah diwawancarai Majalah Forbes, hal mana sesuatu yang
sangat langka diperoleh. Untuk masuk Majalah sekaliber Forbes tentu tidak
mudah. Bulan ini juga, sosoknya akan masuk menghias Majalah Infosulut, sebuah
majalah ternama dan bergengsi di Sulawesi Utara.
Ia adalah contoh anak muda belia berprestasi. Anak yang
mengejar mimpi setinggi langit. Yang berusaha mendapatkan apa yang ia selalu
mimpikan dan impikan, dan yang tidak pernah kalah sebelum berperang. Bagi
Erica, sekali layar terkembang maka sangat pantang untuk diturunkan kembali.
Sekali bertekad untuk maju, jangan pernah berpaling ke belakang. Kuncinya
adalah belajar dan teruslah belajar, sebab tanpa itu, acap kali kegagalanlah yang
menunggu kita di ujung jalan.
Pada dasarnya bakat adalah sesuatu yang amat ideal
apabila kita dapat memberikan pendidikan yang benar-benar sesuai dengan peserta
didik kita. Masalah bakat adalah masalah yang sama tuanya dengan manusia itu
sendiri. Semenjak dahulu, orang sudah berusaha membahas masalah bakat ini. Urgensinya
masih tetap aktual sampai saat ini, meski dari kacamata ilmu pegetahuan
hasilnya masih jauh dari memuaskan. Urgensi dalam mengaplikasikan bakat tidak
hanya terbatas pada bidang pendidikan saja, melainkan juga dalam hal pemilihan
lapangan kerja (Suryabrata, 1995).
Pengaturan diri
tingkah laku (self-regulation of
behavior) mencakup berbagai bidang, diantaranya pengaturan diri dalam
belajar di sekolah (self-regulated
academic learning, selanjutnya disebut self-regulated
learning dan disingkat menjadi SRL). Uraian selanjutnya akan dikemukakan
tentang SRL dan perannya dalam mengatur belajar sehingga tercapainya tujuan
yaitu adanya peningkatan prestasi akademik.
Pintrich dan de Groot (1990) menjelaskan bahwa terdapat
beberapa macam definisi SRL. Namun, dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan
tiga komponen penting yang berkaitan dengan kegiatan belajar di kelas. Ketiga komponen
tersebut sebagai berikut:
1)
Strategi metakognisi siswa untuk
merencanakan, memantau, dan memodifikasi kognisi mereka (Brown, Branford,
Campione&Ferrara, 1983; Corno, 1986; Zimmerman, Pons, 1986, 1988 dalam
Pintrich&de Groot, 1990).
2)
Cara siswa mengelola dan mengontrol
usaha mereka dalam tugas-tugas akademik. Contoh siswa yang mampu menekuni atau
tidak menyerah pada tugas-tugas yang sukar atau mampu menghindari
gangguan-gangguan, akan dapat mempertahankan dorongan untuk menyelesaikan tugas-tugas
sehingga memungkinkan mereka berprestasi lebih baik (Corno, 1986;
Corno&Rohr Kemper, 1985 dalam Pintrich&de Groot, 1990).
3)
Aspek SRL yang sangat penting yang
diajukan para peneliti dalam konseptualisasi mereka adalah strategi kognisi
yang secara nyata digunakan siswa untuk belajar, mengingat, dan memahami materi
bidang studi (Corno&Mandinech, 1983; Zimmerma&Pons, 1986, 1988 dalam
Pintrich&de Groot, 1990). Strategi kognisi yang lebih baik yang digunakan
siswa seperti mengulang, mengolaborasi, dan mengorganisasikan materi bidang
studi ternyata membantu mendorong kegiatan kognisi dan menghasilkan prestasi
yang lebih tinggi dalam belajar (Weinsten&Mayer, 1986 dalam Pintrich&de
Groot, 1990).
Kegiatan
komponen SRL tersebut digunakan sebagai definisi kerja dalam penelitiannya.
Dari ulasan teori di atas, dapat
disimpulkan bahwa Erica memiliki pengaturan diri yang baik dalam belajar dan
mengasah bakat/kemampuan yang dimilikinya. Oleh sebab itu, mari kita mengasah
kemampuan kita masing-masing. Semangat!.
Sumber:
- Basuki, H.2005.Kreatifitas, Keberbakatan, Intelektual, dan Faktor-Faktor Pendukung
dalam Pengembangannya.Jakarta: Gunadarma.
Label:
Bakat,
Psikologi Pendidikan
Kamis, 19 Maret 2015
Minimnya Mutu Pendidikan di Indonesia
Sebenarnya saya cukup prihatin
dengan keadaan pendidikan di Indonesia yang masih belum merata dirasakan oleh
anak-anak Indonesia, terutama pada anak-anak yang tinggal di daerah terpencil. Di
lain sisi pasti banyak harapan untuk menganyam pendidikan yang layak dari
tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi, namun banyak juga yang tidak
dapat mewujudkan harapan tersebut. Meskipun jumlah institusi pendidikan dasar
dan menengah terus meningkat sejak zaman kemerdekaan. Namun sangat disayangkan,
masih banyak sekolah di Indonesia yang tidak memenuhi standar minimal
pendidikan. Selain itu juga mutu pendidikan di Indonesia masih jauh dari
harapan, lalu mutu guru-guru di Indonesia kurang mendapat perhatian dari
pemerintah, sarana dan prasarana yang kurang dipenuhi, dan masalah lainnya.
Selain
itu, saya juga cukup prihatian dengan pendidikan yang tujuannya sebenarnya adalah
untuk membentuk pribadi anak-anak bangsa untuk memiliki moral dan sikap yang
baik, menjadikan anak-anak yang baik yang dapat beradaptasi dengan adanya
globalisasi yang kian meningkat, dan tentunya membantu mewujudkan cita-cita
anak dan menjadikan bangsa yang berkualitas. Namun jika saya bahkan anda yang
melihat berita-berita dan tayangan di televisi, sudah banyak anak dan usia
remaja yang melakukan hal-hal yang tidak seharusnya mereka lakukan. Seperti terjerumus
dalam pergaulan bebas, pornografi, lalu melakukan tindakan kriminal, penyalahgunaan
obat-obatan terlarang, dan banyak anak di bawah umur yang sudah mencari nafkah
hanya karena untuk menyambung hidupnya.
Sudah
dituliskan dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945 dalam pasal 31 ayat (1),
mengatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Dan pasal
31 ayat (2), bahwa setiap warga negara wajib mengkuti pendidikan dasar dan
pemerintah wajib membiayainya. Begitu pun dengan adanya Ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR) Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia yang
menegaskan jaminan hak atas pendidikan. Pasal 60 Undang-undang Nomor 39 Tahun
1999 tentang Hak Asasi Manusia, menjelaskan bahwa memperkuat dan memberikan
perhatian khusus pada hak anak untuk memperoleh pendidikan sesuai minat, bakat,
dan tingkat kecerdasannya. Penegasan serupa tentang hak warga negara atas
pendidikan juga tercantum dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Lalu pada pasal 53 ayat (1) Undang-undang Nomor 23
Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menegaskan bahwa negara dalam hal ini
memiliki tanggung jawab memberikan biaya pendidikan dan/atau bantuan cuma-cuma
atau pelayanan khusus bagi anak dari keluarga tidak mampu, anak terlantar, dan
anak yang bertempat tinggal di daerah terpencil.
Mungkin
pemerintah juga tidak dapat bergerak sendirian untuk memecahkan masalah-masalah
tersebut, tapi kita sebagai kawula muda juga sudah sepatutnya bergerak untuk
membantu memecahkan masalah-masalah tersebut. Mungkin dengan mengadakan
perpustakaan keliling untuk menambah minat baca anak-anak agar semakin ‘penasaran’
dengan wawasan yang masih sangat luas untuk diketahui, lalu mengadakan
penyuluhan atau motivasi ke sekolah-sekolah baik itu sekolah dasar, menengah,
ataupun tingkat sekolah atas.
Dan
harapan saya sendiri sejujurnya ingin sekali memiliki sekolah di daerah
terpencil dengan tujuan agar anak-anak daerah dapat mengenyam pendidikan secara
layak dan tahu akan perkembangan zaman yang semakin pesat. Selain itu, saya
ingin memiliki rumah baca untuk anak-anak di daerah, dan juga saya ingin
mengurangi angka buta aksara di Indonesia. Saya harap tidak hanya saya sendiri
yang memiliki harapan seperti ini, tetapi juga para kawula muda lainnya agar
kita dapat bergerak bersama untuk mewujudkan Indonesia dengan bangsa yang
berkualitas baik. Aamiin...
Sumber:
Label:
Tugas Psikologi Pendidikan
Rabu, 18 Maret 2015
PERSEPSI
Berikut ini merupakan bagan dari proses sensasi-persepsi
pada manusia:
Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi
menurut Walgito (2004: 89-90):
1.
Faktor Internal:
■
Alat
indera, syaraf dan penysusunannya: Alat indera (reseptor) berfungsi untuk
menerima stimulus atau rangsangan dari luar. Sedangkan syaraf sensori berperan
dalam meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat syaraf, yaitu otak
sebagai pusat kesadaran. Supaya terjadinya respon diperlukan syaraf motorik.
■
Perhatian:
Perhatian merupakan tahap pertama sebagai persiapan mengadakan persepsi. Perhatian
adalah pemusatan atau pengonsentrasian seluruh aktivitas individu pada satu
atau sekelompok objek.
2. Faktor
Eksternal:
■
Objek
yang dipersepsi: Persepsi mengandaikan adanya objek yang dipersepsi. Suatu
objek dapat menimbulkan stimulus yang memicu atau merangsang alat indera atau
reseptor. Sebagian stimulus itu datang dari luar dan ada juga stimulus yang
datang dari dalam individu yang memersepsi.
■
Nilai-nilai
dan kebutuhan individu: Salah satu faktor ini sangat mempengaruhi proses
persepsi. Seorang seniman akan berbeda dalam pengamatan dibandingkan dengan
orang yang bukan seniman. Penelitian menunjukkan pengamatan bahwa anak-anak
dari golongan kurang mampu melihat koin (mata uang logam) lebih besar daripada
anak-anak orang berada.
Berikut
merupakan proses sensasi-persepsi:
1.
Stimulus,
ada stimulus yang disadari dan tidak disadari. Walaupun perhatian individu
cukup besar, tetapi bila stimulusnya tidak cukup kuat maka stimulus itu tidak
dapat disadari dan karenanya tidak dapat dipersepsi oleh individu bersangkutan.
Itu berarti stimulus harus memiliki batas kekuatan minimal (ambang stimulus) agar
dapat menimbulkan kesadaran di pihak individu.
2.
Proses
Transduktif adalah proses memunculkan energi fisik ke dalam aktivitas
sistem syaraf. Transduktif terjadi dalam reseptor, yaitu sel-sel yang
dikhusukan untuk mengubah secara paling efektif satu jenis energi. Umumnya selama
proses transduktif, sel reseptor mengeluarkan energi fisik ke dalam suatu
potensi atau voltasi listrik yang disebut Reseptor Potensial.
3. Primary
Area (Brain), korteks otak besar ini terhubung dengan bermacam struktur
seperti talamus dan ganglia dasar guna pengiriman informasi melalui lintasan
eferen dan aferen. Informasi dari indera diterima melalui talamus, sedangkan
informasi olfactory akan melalui olfactory bulb menuju korteks olfactory. Korteks otak besar terbagi
menjadi tiga area yaitu indera, gerakan, dan asosiasi.
4. Association
Area (Brain) adalah area pada korteks otak besar yang berfungsi untuk
merekam pengalaman persepsi agar manusia dapat lebih efisien dalam melakukan interaksi
dengan lingkungan di sekitarnya. Area ini juga berfungsi sebagai abstraksi dari
pemikiran dan bahasa.
5. Personalized
Perception (Persepsi Pribadi), menurut
Walgito (1993): Persepsi seseorang merupakan proses aktif yang memegang
peranan, bukan hanya stimulus yang mengenainya tetapi juga individu sebagai
satu kesatuan dengan pengalaman-pengalamannya, motivasi, serta sikap yang
relevan dalam menanggapi stimulus.
Minggu, 15 Maret 2015
Berbakat itu Karena Diasah
Hai para bloggers, hari ini hari Minggu. Meskipun hari
Minggu adalah hari libur, berhenti bermalas-malasan. Ayo kita cari kegiatan
positif yang bermanfaat! Nah untuk tulis-menulis kali ini, saya akan menuliskan
bakat yang sering terasah dan cukup menghasilkan prestasi.
Subjek yang
saya pilih kali ini adalah adik sepupu saya sendiri yang bernama Ilham Riyadi,
siswa kelas XI dari salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di wilayah
Jakarta Selatan. Mungkin sewaktu dia kecil, saya belum terlalu melihat
kira-kira apa sih bakat anak yang satu ini. Namun lama-kelamaan, semakin dia
dewasa saya selalu mendengar curahan hati dari ibunya bahwa dia itu sering
sekali keluar bersama teman-temannya setelah pulang sekolah untuk bermain sepak
bola atau futsal. Kadang saya berpikir, “Kenapa sih harus sering pulang malam
gara-gara main bola gitu? Memangnya gak capek sama rutinitas sekolah yang
tugasnya aja bikin pusing?”. Tapi ternyata saya salah, adik saya ini sudah
membuktikan bahwa selama ini dia itu mengasah dan semakin mengasah kemampuannya
atas kegiatan yang dia senangi. Presetasinya di beberapa turnamen sudah menjadi
bukti bahwa dia berbakat dalam hal tersebut, ya meskipun dalam turnamen sudah
dipastikan dia bermain bersama timnya.
Nah di
atas ituadalah salah satu foto yang diambil setelah turnamen di SMAN 65
Jakarta. Tim dari SMAN 90 Jakarta mendapatkan juara 1 pada tahun 2014.
Sekian tulisan
saya untuk kali ini. Saya harap kita semua (kawula muda) dapat semakin mengasah
dan menggali bakat yang kita miliki sebenarnya. Have a nice weekend, Pals!
Rabu, 11 Maret 2015
Apakah Bakat Dan Pengalamannya Penting?
Selamat malam penikmat huruf di
blog...
Kali
ini saya akan berbagi tulisan mengenai pentingnya dan pengalaman bakat pada
setiap individu. Kira-kira apakah kalian sudah tahu atau bahkan sudah
menyalurkan bakat apa yang kalian miliki sejak kecil?
Sadar
atau tidak, setiap orang memiliki bakat dan potensinya masing-masing. Meskipun terkadang
diri kita sendiri masih suka bingung akan bakat yang kita miliki. Jadi, arti
bakat yang sebenarnya adalah talenta, kepandaian, anugerah yang dibawa sejak
lahir. Misalnya bakat dalam bernyanyi, melukis, dan bakat lainnya.
Bakat
bukanlah sifat tunggal, melainkan sifat tunggal yang secara bertingkat
membentuk bakat. Bakat baru muncul bila ada kesempatan untuk berkembang atau
dikembangkan. Sehingga, mungkin saja seseorang tidak mengetahui dan tidak tahu
bagaimana cara mengembangkan bakatnya sehingga tetap merupakan kemampuan yang
laten (terpendam atau tak terlihat). Bakat akan sulit berkembang dengan baik
apabila tidak diawali dengan adanya minat pada bidang yang akan ditekuni. Untuk
itu, guru, orang tua, pembimbing perlu mengenal bakat anak-anaknya sehingga
dapat memberikan pendidikan, pelatihan, dan menyediakan pengalaman sesuai
dengan kebutuhannya masing-masing.
Menurut
Crow&Crow (1989), bakat dapat dianggap sebagai kualitas yang dimiliki oleh
semua orang dalam tingkat yang beragam. Bakat juga dapat dianggap sebagai
keunggulan khusus dalam bidang perilaku tertentu, seperti musik, matematika,
atau olahraga. Cattel (dalam Crow&Crow, 1989), mencoba menemukan
perbedaan-perbedaan diantara individu dalam bidang-bidang seperti di bawah ini,
yang berhubungan dengan ketajaman sensoris (indera), kekuatan otot dibandingkan
dengan kemampuan mental lainnya yang lebih kompleks:
1. Kekuatan
menggenggam atau memegang
2. Kecepatan
gerkan lengan
3. Dua
ambang mata pada belakang tangan
4. Jumlah
tekanan yang diperlukan, yang mengakibatkan rasa sakit pada dahi
5. Perbedaan
berat yang tidak begitu kentara
6. Waktu
dalam bereaksi terhadap bunyi
7. Waktu yang dibutuhkan dalam menyebutkan
sepuluh warna
8. Membagi
garis menjadi dua yang masing-masing panjangnya 50cm
9. Kemampuan
untuk mereproduksi selama jangka waktu 10 detik dengan ketukan, setelah itu
subjek diminta untuk mengingatnya
10. Saat
mengingat huruf-huruf yang berhubungan dengan pendengaran.
Memperkenalkan
anak pada berbagai hal menjadi salah satu cara untuk mengetahui minat, bakat,
dan kemampuan anak. Orang tua perlu memperhatikan pada bidang apa anak menjadi
tertarik, antusias, dan begitu senang saat diajak melakukan suatu kegiatan. Berikut
beberapa cara menemukan bakat seorang anak:
1. Stimulasi
Anak melakukan
beragam aktivitas baik di dalam atau pun di luar rumah. Ragam aktivitas
tersebut seperti menyanyi, menggambar, menulis, berkebun, membersihkan rumah,
berenang, dan aktivitas lainnya.
2. Eksplorasi
Motivasi anak
untuk mengeksplorasi aktivitas yang disukainya. Bila anak sudah merasa puas dengan
aktivitas, beri tantangan baru yang lebih sulit agar anak menguasai aktivitas
tersebut.
3. Amati
Amati aktivitas
anak secara langsung atau mintalah anak menceritakan aktivitasnya mulai pertama
kali terlibat dalam aktivitas tersebut, perilaku anak selama beraktivitas,
sampai komentar anak mengenai hasil yang didapatkannya.
4. Reward
Apresiasi ketekunan
anak agar anak terus mengeksplorasi bakatnya.
Saya rasa cukup sekian sharing tentang bakatnya. Jadi
intinya, bakat itu sangat penting untuk diketahui terutama untuk para orang tua
yang masih belum tahu kira-kira bakat apa sih yang dimiliki seorang anak? Nah,
untuk para orang tua yang masih bingung mungkin dapat mengikuti sedikit tips
yang saya tulis di atas. Selamat malam...
Sumber Referensi:
http://blog.temantakita.com/menemukan-bakat-anak/
Sumber Referensi:
http://blog.temantakita.com/menemukan-bakat-anak/
Langganan:
Postingan (Atom)


