Tampilkan postingan dengan label Penulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penulisan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 April 2015

Apa Perbedaan Bakat Dan Kreativitas?

Pada tulisan kali ini penulis akan menulis tentang perbedaan bakat dan kreativitas. Sebelumnya, penulis menulis di blog ini untuk memenuhi tugas Softskill.

Pada dasarnya belum terdapat pengertian yang sama tentang keberbakatan dari beberapa ahli. Hagen dan Hollingworth (dalam Hawadi, 2002) membedakan antara gifted dan talented. Gifted ditujukan pada individu dengan kemampuan unggul dibidang seni, musik, dan drama. Kemudian Cutts dan Musseley (1957 dalam Hawadi, 2002) membedakan antara bright dengan gifted dan talented. Menurut kedua tokoh tersebut, bright diartikan individu yang mampu menempuh pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (kolese) dan lancar dalam karier yang dipilihnya. Gifted diartikan individu yang memiliki potensi yang lebih tinggi daripada individu dengan tingkat bright, sedang talented menunjuk pada individu yang memiliki kemampuan tidak lazim (luar biasa dibidang akademis, tanda umum adalah adanya kemampuan yang tergolong superior).

Pandangan yang terbaru mempersepsikan keberbakatan tidak hanya dari satu segi saja yaitu kemampuan intelektual, tetapi juga dari segi lain atau kemampuan lain, misalnya kreativitas, seni, olahraga, dan lain-lain. Pandangan terakhir tersebut dikategorikan dalam pendekatan yang menggunakan kriteria majemuk atau multi-kriteria. Contoh pandangan yang menggunakan pendekatan tersebut adalah pandangan USEO (United States Office of Education) dan pandangan Renzulli.

Sedangkan kreativitas secara konvensional didefinisikan dengan pendekatan tiga P, yaitu pribadi yang  kreatif, proses kreatif, dan produk kreatif (Barron 1988 dalam Davis 1993: 39). Santrock (2008:366) kreativitas ialah kemampuan berpikir tentang sesuatu dengan cara baru dan tak biasa dan menghasilkan solusi yang unik atas suatu problem. Selain itu Samsunuwiyati (2010:175)  berpendapat bahwa kreativitas merupakan konsep yang majemuk dan multi-dimensional, sehingga sulit didefinisikan secara operasional.

Kreativitas membutuhkan rangsangan dari lingkungan untuk berkembang secara optimal. Beberapa faktor yang menentukan adalah:
1.     Kebebasan: orang tua yang percaya untuk memberikan kebebasan kepada anak.
2. Respek: orang tua yang menghormati anaknya sebagai individu, percaya akan kemampuan anak mereka, dan menghargai keunikan anak mereka.
3.     Kedekatan emosi yang sedang: kreativitas akan dapat dihambat dengan suasana emosi yang mencerminkan rasa permusuhan, penolakan, atau rasa terpisah.
4.   Prestasi bukan angka: orang tua anak kreatif menghargai prestasi anak, mendorong anak untuk berusaha sebaik-baiknya, dan menghasilkan karya-karya yang baik.
5.     Orang tua aktif dan mandiri: sikap orang tua terhadap diri sendiri amat penting karena orang tua merupakan model bagi anak.
6.     Menghargai kreativitas: anak yang kreatif memperoleh banyak dorongan dari orang tua untuk melakukan hal-hal yang kreatif.

Kendala terhadap produktivitas kreatif dapat bersifat internal, yaitu berasal dari individu itu sendiri. Dapat pula bersifat eksternal, yaitu terletak pada lingkungan individu, baik lingkungan makro maupun lingkungan mikro. Kendala internal yaitu keyakinan bahwa lingkunganlah yang menyebabkan dirinya tidak mempunyai kesempatan mengembangkan kreativitasnya. Kendala eksternal antara lain yaitu tentang evaluasi, pujian, perasaan diamati selagi mengerjakan sesuatu, pemberian hadiah dan persaingan.

Menurut Utami Munandar (2009:71) kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk mengekspresikan ide-ide baru yang ada dalam dirinya sendiri. Adapun ciri-ciri dari kreativitas adalah:
1.      Rasa ingin tahu yang luas dan mendalam
2.     Sering mengajukan  pertanyaan yang baik
3.     Memberikan banyak gagasan atau usul terhadap suatu masalah
4.     Bebas dalam menyatakan pendapat
5.     Mempunyai rasa keindahan yang dalam
6.     Menonjol dalam salah satu bidang seni
7.     Mampu melihat suatu masalah dari berbagai segi/sudut pandang
8.     Mempunyai rasa humor yang luas
9.     Mempunyai daya imajinasi
10.                        Orisinal dalam ungkapan gagasan dan dalam pemecahan masalah

Jadi, bakat dan kreativitas adalah saling berkaitan satu sama lain. Kebutuhan sosial akan kreativitas dirasakan di mana-mana dan tampak dalam sistem pendidikan, penggunaan waktu luang, pengembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan keluarga. Makna dari pengembangan kreativitas berkaitan dengan kualitas perwujudan diri, peningkatan kemampuan berpikir kreatif, kepuasan dalam mencipta, dan peningkatan kualitas hidup. Sikap orang tua dalam mendukung kreativitas anak juga sangat diperlukan dengan menyediakan sarana pendukung dan motivasi serta mengembangkan hobi dalam keluarganya masing-masing. Dalam kegiatan pembelajaran guru harus senantiasa berusaha memikirkan bagaimana cara menumbuhkan kreativitas siswa dalam belajar, dengan mempertimbangkan tahap-tahap munculnya kreativitas (persiapan, inkubasi, iluminasi, verifikasi).


Sumber:


Rabu, 26 November 2014

Yang Munafik


Setapak demi setapak

Ku telusuri jalanan di ibu kota

Bising memang, itulah kota

Ku temui seorang gadis kecil yang lugu

Ya, nafasnya ada di kota, katanya

Bukunya terabaikan

Recehannya dielukan

Hati ini banyak bertanya

Dimana janji para dasi emas itu?!

Hanya banyak bicara

Tak banyak bertindak

Butakah mereka selama ini?

Saat segala kenikmatan mereka nikmati

Sadarkah mereka akan ketamakan?

Saat dunia seakan kelam, bagi mereka yang tersisihkan.

About Heroin

WHAT IS IT?



HEROIN
            Heroin is a highly addictive, illegal drug. It is used by millions of addicts around the world who are unable to overcome the urge to continue taking this drug every day of their lives—knowing that if they stop, they will face the horror of withdrawal. Heroin (like opium and morphine) is made from the resin of poppy plants. Milky, sap-like opium is first removed from the pod of the poppy flower. This opium is refined to make morphine, then further refined into different forms of heroin. Most heroin is injected, creating additional risks for the user, who faces the danger of AIDS or other infection on top of the pain of addiction.

THE ORIGINS OF HEROIN
          Heroin was first manufactured in 1898 by the Bayer pharmaceutical company of Germany and marketed as a treatment for tuberculosis as well as a remedy for morphine addiction.
A VICIOUS CIRCLE
                During the 1850s, opium addiction was a major problem in the United States. The “solution” was to provide opium addicts with a less potent and supposedly “non-addictive” substitute—morphine. Morphine addiction soon became a bigger problem than opium addiction. As with opium, the morphine problem was solved by another “non-addictive” substitute—heroin, which proved to be even more addictive than morphine. With the heroin problem came yet another “non-addictive” substitute—the drug now known as methadone.
            First developed in 1937 by German scientists searching for a surgical painkiller, it was exported to the US and given the trade name “Dolophine” in 1947. Renamed methadone, the drug was soon being widely used as a treatment for heroin addiction. Unfortunately, it proved to be even more addictive than heroin. By the late 1990s, the mortality rate of heroin addicts was estimated to be as high as twenty times greater than the rest of the population.

WHAT DOES HEROIN LOOK LIKE?
            In its purest form, heroin is a fine white powder. But more often, it is found to be rose gray, brown or black in color. The coloring comes from additives which have been used to dilute it, which can include sugar, caffeine or other substances. Street heroin is sometimes “cut” with strychnine (a stimulant used for rat poison which induces violent convulsions and is deadly) or other poisons. The various additives do not fully dissolve, and when they are injected into the body, can clog the blood vessels that lead to the lungs, kidneys or brain. This itself can lead to infection or destruction of vital organs. The user buying heroin on the street never knows the actual strength of the drug in that particular packet. Thus, users are constantly at risk of an overdose.
                Heroin can be injected, smoked or sniffed. The first time it is used, the drug creates a sensation of being high. A person can feel extroverted, able to communicate easily with others and may experience a sensation of heightened sexual performance—but not for long. Heroin is highly addictive and withdrawal extremely painful. The drug quickly breaks down the immune system, finally leaving one sickly, extremely thin and bony and, ultimately, dead.

HOW IS IT USED?
            Heroin can be used in a variety of ways, depending on user preference and the purity of the drug. Heroin can be injected into a vein (“mainlining”), injected into a muscle, placed on tinfoil and inhaled as smoke through a straw or snorted as powder via the nose.

WHAT ARE THE STREET NAMES OR SLANG TERMS?
·        Big H
·        Black Tar
·        Brown Sugar
·        Dope
·        Horse
·        Junk
·        Skag
·        Smack
·        China White

IMMEDIATE EFFECTS
          Depending on how heroin is taken, the effects may be felt within 7-8 seconds (injecting) or within 10–15 minutes (snorting or smoking). The effects of heroin can last for approximately 3–5 hours.
          The initial effects of heroin include a surge of sensation—a “rush”. This is often accompanied by a warm feeling of the skin and a dry mouth. Sometimes, the initial reaction can include vomiting or severe itching. After these initial effects fade, the user becomes drowsy for several hours. The basic body functions such as breathing and heartbeat slow down. Within hours after the drug effects have decreased, the addict’s body begins to crave more. If he does not get another fix, he will begin to experience withdrawal. Withdrawal includes the extreme physical and mental symptoms which are experienced if the body is not supplied again with the next dose of heroin. Withdrawal symptoms include restlessness, aches and pains in the bones, diarrhea, vomiting and severe discomfort. The intense high a user seeks lasts only a few minutes. With continued use, he needs increasing amounts of the drug just to feel “normal.”

SHORT-TERM EFFECTS
Some of the effects that may be experienced after taking heroin include:
·        Feelings of intense pleasure
·        Strong feelings of wellbeing
·        Confusion
·        Lowered cough reflex
·        Pain relief
·        Reduced sexual urges
·        Drowsiness
·        Slurred and slow speech
·        Reduced coordination
·        Constricted pupils
·        Dry mouth
·        Slow breathing rate
·        Decreased heart rate and blood pressure
·        Nausea and vomiting
·        Reduced appetite
·        Hypothermia (body temperature lower than normal)
·        Coma or death (due to overdose)


LONG-TERM EFFECTS OF HEROIN
                The effects on the body from continued use of this drug are very destructive. Frequent injections can cause collapsed veins and can lead to infections of the blood vessels and heart valves. Tuberculosis can result from the general poor condition of the body. Arthritis is another long-term result of heroin addiction. The addict lifestyle—where heroin users often share their needles—leads to AIDS and other contagious infections. It is estimated that of the 35,000 new hepatitis C2 (liver disease) infections each year in the United States, over 70% are from drug users who use needles. Some of the effects that may be experienced after taking heroin include:
  • Bad teeth
  • Inflammation of the gums
  • Constipation
  • Cold sweats
  • Itching
  • Weakening of the immune system
  • Coma
  • Respiratory (breathing) illnesses
  • Muscular weakness, partial paralysis
  • Reduced sexual capacity and long-term impotence in men
  • Menstrual disturbance in women
  • Inability to achieve orgasm (women and men)
  • Loss of memory and intellectual performance
  • Introversion
  • Depression
  • Pustules on the face
  • Loss of appetite
  • Insomnia
  • Repeated snorting damages the nasal lining
  • Frequent injecting in the same place can cause inflammation, abscesses, vein damage and scarring
  • Injecting can also result in skin, heart and lung infections
  • The impurities and additives in heroin, if injected can also damage veins. This can also cause thrombosis
  • Death

Jumat, 14 November 2014

Harapan dalam Kesederhanaan

Aisyah. Seorang gadis kecil yang hidup dan juga dihidupi oleh mimpinya yang hidup bersama kedua orangtuanya, yang menginginkan hidupnya jauh lebih baik. Apakah itu terlalu muluk Tuhan, untuk seorang gadis kecil yang hidup dalam kesederhanaan?! Seorang gadis kecil yang hidup di sisi kelam sebuah kota besar. Mungkin, orang lain hanya menganggap sebagian dari dirinya itu manusia yang tidak pantas mempunyai mimpi  yang besar, yang hanya di pandang sebelah mata.
Mimpi yang menghidupkan hidupnya di lingkungan yang tidak memadai, yang tak sehat, yang begitu kotor dan kumuh. Namun, cita-citanya begitu dibutuhkan dan sangat berjasa bagi orang-orang yang membutuhkannya. Yaitu untuk menjadi seorang dokter. Aisyah, seorang gadis kecil ini yang memiliki mimpi dan harapan besar dalam hidupnya untuk menyambung kehidupannya di kemudian hari. Meskipun ia hanyalah seorang gadis kecil yang hidup begitu memprihatinkan. Namun, ia tidak pernah putus asa dalam menggapai semuanya. Ia selalu menerapkan segala pelajaran yang dianggapnya sangat berharga dalam menjalani kehidupan sehariharinya. Salah satunya adalah pelajaran agama islam, yang ia pelajari dari sebuah sekolah darurat yang di bangun oleh seorang dermawan.
Di sekolah itulah, ia belajar bagaimana ia harus tetap berdo’a dalam setiap memulai segala niat yang dituju, berusaha dalam menggapai semua harapan, bagaimana ia harus selalu ikhlas dalam memulai segala hal atau niatnya, dan yang terakhir adalah tawakal yang mengajarkannya bagaimana ia harus berserah diri kepada Allah SWT disaat dirinya belum mendapati apa yang ia inginkan ketika sudah berusaha semampu dirinya.
Namun, suatu ketika itu keluarganya tertimpa musibah. Yaitu ayahnya, yang mengalami sakit keras dan mengaharuskan dirinya membantu ibunya mencari tambahan uang untuk biaya berobat. Aisyah, seorang gadis kecil yang begitu cerdas dan selalu ceria meskipun hidupnya begitu sederhana. Kini, dirinya harus siap untuk berkeliling menjajaki dagangan buatan ibunya setapak demi setapak langkah kakinya ke setiap sudut gang kecil yang kumuh.
Setelah beberapa bulan berlalu, ayahnya meninggal.  Ia dan ibunya begitu terpukul, karena harus berpikir lebih keras bagaimana caranya mendapatkan uang untuk makan sehari-hari dan harus memikirkan biaya sekolah. Dan jalan yang di pilih oleh ibunya adalah yang meminta Aisyah untuk berhenti sekolah. Betapa sedihnya Aisyah saat ibunya memberi kabar yang begitu membuatnya sangat terpukul.
Karena, Aisyah begitu menikmati masa-masa indahnya di sekolah, meskipun hanya dalam sebuah sekolah darurat. Bagaimana ia dapat bertukar pikiran dengan sang pengajar, dengan teman-teman di sekolahnya, juga interaksi dengan lingkungan sosial lainnya yang membuat pengalamannya bertambah. Betapa berhati mulianya Aisyah, ia menyetujui permohonan ibunya. Dan kini, ia hanya bisa membantu ibunya berjualan.
Namun, setelah pulang menjajaki dagangannya. Aisyah tetap ingat dengan belajar, karena ia sadar, kini dirinya tak lagi bersekolah di sekolah yang dicintainya itu. Dan ibunyapun yang hanya sanggup mencari uang untuk sekedar makan sehari-hari setelah ayahnya meninggal.
Namun, setelah mengetahui muridnya tidak masuk sekolh selama beberapa bulan. Pak Ridho, seorang dermawan pemilik sekolah darurat, datang ke rumah Aisyah. Dan setelah banyak mengobrol. Akhirnya, Pak Ridho menginginkan Aisyah sekolah kembali di sekolah daruratnya. Karena, Aisyah adalah anak yang cerdas. Maka, beliau membebaskan segala biaya yang ada. Betapa terharunya Aisyah dan ibunya setelah mendapat kabar seperti itu. Dan kini, ia kembali bersekolah untuk menggapai semua mimpi besarnya agar dapat terwujud.

Dan  seiring berjalannya waktu, Aisyah kini menjadi seorang dokter profesional yang jasanya tidak diragukan lagi. Dan kini, ia dan ibunya hidup bahagia dengan lingkungan tempat tinggal yang sudah jauh dari sisi kumuhnya sudut kota besar, meskipun tanpa adanya seorang ayah lagi. Namun, itu semuanya sudah cukup membuatnya terharu dan mewakili kebahagiaannya bahwa ia dapat menggapai semua mimpi besarnya dengan cara selalu berdo’a kepada Allah SWT, selalu berusaha dengan gigih, selalu diikuti dengan hati yang ikhlas, dan selalu berserah diri kepada Allah SWT atau tawakal.

Bumi Tersenyum Saat Kita Harmonis dengan Alam

Hai, kawan-kawan....
Namaku adalah Daun. Aku lahir di sebuah desa yang sampai saat ini masih aku cintai dan aku sayangi. Aku tinggal di sini, di Indonesia, yang memiliki ribuan pulau yang indah dan memiliki milyaran warisan dunia yang sangat menakjubkan keindahannya. Aku cinta negeriku ini, dimana perairannya menyumbang keindahan bumi yang tampak membiru.

Aku tinggal di sebuah desa, namanya Desa Suka Asri. Warga-warga di sini sangatlah ramah-tamah. Aku cintaaaa sekali dengan desa ini. Udaranya masih sejuk sekali. Berbeda dengan kota-kota yang sudah padat penduduk dan udaranyapun merusak paru-paru manusia, juga paru-paru alam di bumi ini.

Di desaku banyak warga yang mata pencahariannya masih memanfatkan alam sekitar, namun tidak merusak. Seperti bapak dan ibu tani yang setiap pagi hingga petang setia terhadap ladang taninya, lalu ada juga yang mengurus perkebunan, menternak hewan, dan masih banyak lagi. Termasuk ayahku, selain menjual hasil kebun di pasar. Ayah juga sangat cinta terhadap lingkungan dan alam. Biasanya sepulang dari pasar, ayah memberi makan domba-dombanya dan membersihkan kandangnya dari kotoran domba-domba tersebut. Tapi, ayah tidak pernah membuang sembarangan kotoran dombanya. Biasanya ayah mengumpulkan kotoran domba-domba tersebut, lalu kotoran tersebut dijadikannya pupuk untuk tanaman dan lalu di jual.

Ibuku hanyalah ibu rumah tangga biasa. Tapi, ibu adalah ketua PKK di desa kami. Biasanya tugas mereka memanfaatkan dan berkreasi dari bahan-bahan yang dapat di daur ulang atau Recycle. Ibuku sangat mencintai alam. Setiap beliau melihat halaman rumahnya kotor, pasti ibu segera membersihkannya. Apalagi, jika kotoran tersebut fisiknya berupa sampah plastik. Wah, ibu sangat suka! Karena, hal tersebut cukup menguntungkan untuk ibu. Karena adanya sampah tersebut, membuat ibu dan teman-teman PKK-nya semakin dapat berkreasi lebih jauh dan semakin mengembangkan pikirannya.

Dan satu lagi di anggota keluargaku, aku memiliki seorang kakak perempuan, namanya Bunga. Kakakku kini duduk di bangku Sekolah Menengah Atas atau SMA. Kakakku adalah salah satu orang yang sangat mencintai kebersihan, sama halnya denganku. Maka dari itu, kakak tidak pernah coba-coba untuk jajan sembarangan. Kakak selalu membawa bekal ke sekolah. Dan kakakku juga selalu membawa air mineral dari rumah yang disimpannya dalam botol minumnya. Kakak tidak pernah mau membeli air minum kemasan. Karena, kakak tidak ingin menambah sampah plastik yang semakin bertumpuk di bumi ini. Biasanya, proses yng dijalani kakak dinamakan Reuse atau penggunaan kembali barang yang masih bisa digunakan. Dan penduduk di desa ini juga tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh anggota keluargaku. Mereka selalu bergotong royong dalam menjaga desa ini. Setiap hari Minggu, biasanya peduduk desa kami bersama-sama bekerja bakti. Seperti membersihkan saluran air, menanam tanaman-tanaman yang kuat meyerap air, mengubur barang-barang yang sekiranya sudah tidak digunakan lagi, dan lain-lainnya.

Di desa kami sangat mendukung dan mencoba menerapkan program-program yang di buat oleh pemerintah seperti, “Menanam Seribu Pohon” untuk membantu penyerapan air, menerapkan program KB atau Keluarga Berencana untuk mengurangi angka kelahiran agar bumi tidak semakin padat, dan program-program lainnya. Di desa kami juga harus memiliki kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan atau membuang sampah ke sungai. Hal tersebut sangat disarankan tentunya kepada seluruh penghuni planet ini, agar aliran sungai dapat mengalir seperti seharusnya. Warga-warga desa ini juga masih sangat gemar bepergian menggunakan sepeda. Karena, bepergian meggunakan sepeda sangat berguna untuk mengurangi dampak polusi udara yang sangatlah merusak.

Dan aku, meskipun aku seorang gadis kecil yang masih duduk di tingkat Sekolah Dasar, tapi aku selalu belajar dari semua yang diterapkan dan dijarkan oleh keluarga dan lingkungan sekitarku. Bukan hanya keluarga, bahkan alam ini membuatku sadar betapa pentingnya menjaga seluruh permukaan bumi ini, beserta isinya. Bapak-Ibu guruku di sekolah juga selalu mengajarkan bagaimana caranya agar bumi tetap hidup dan kita sebagai penghuninya agar tetap dapat menghuni planet ini.

Efek rumah kaca sangatlah berdampak negatif terhadap lapisan ozon yang kini mulai menipis. Produksi kendaraan seperti motor dan mobil juga seharusnya dikurangi demi kelangsungan hidup kita di masa selanjutnya. Menurut buku yang aku baca, planet bumi adalah planet ketiga yang “dekat” dengan sumber tata surya setelah planet merkurius dan venus. Coba kalian pikirkan kawan, apa jadinya jika lapisan ozon kita semakin menipis dan jarak antara bumi dan matahari kurang lebih 149.600.000 KM? Dan tentunya udara akan semakin panas dengan menipisnya perantara tersebut. Dan lapisan es di kutub juga akan terus mencair dan membuat kota-kota yang datar semakin tenggelam dan lalu hilang.

Nah, mulai dari sekarang. Marilah kawan kita jaga bumi kita ini dengan melakukan hal yang tidak menguntungkan diri kita sendiri. Mari kita jaga dan rawat bumi ini, sebagaimana kita menjaga dan merawat diri kita sendiri. Kita sebagai manusia yang di beri akal kepada Tuhan Yang Maha Esa, harus bisa berpikir bagaimana caranya agar hubungan kita dengan alam akan tetap terjaga ke-harmonisan-nya.

Save Our Earth!!!!!!!!!!!!!

Manusia dan Arti Tanggung Jawab

A. PENGERTIAN TANGGUNG JAWAB
                Tanggung jawab menurut kamus umum Bahasa Indonesia adalah, keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak di sengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
Contoh Orang Bertanggung Jawab:
Bonar ialah seorang pegawai yang tekun dalam melaksanakan tugasnya. Ia datang sebelum waktu kerja dimulai. Tanpa banyak bicara dikerjakan tugasnya. Setelah selesai tugas yang dikerjakan, ia memberikan hasil pekerjaannya kepada atasannya sebagai pertanggungjawabannya. Ia pun tidak banyak hilir mudik dikantornya untuk persoalan kepentingannya sendiri, seperti buang air, mencari makanan atau minuman. Ia pun pulang pada waktu jam kantornya usai. Bila ada pertanyaan dari atasannya tentang pekerjaan yang dilakukan, ia pun memberikan jawaban secara baik dan pasti. Ia dapat memberikan pertanggungjawaban atas tugas-tugas yang diberikan kepadanya, sehingga konduitenya baik, naik pangkat pada waktunya, dan memperoleh penghargaan khusus waktu tertentu.

B. MACAM-MACAM TANGGUNG JAWAB
                Manusia itu berjuang memenuhi keperluannya sendiri atau untuk keperluan pihak lain. Untuk itu ia manghadapi manusia lain dalam masyarakat atau menghadapi lingkungan alam. Dalam usahanya itu manusia juga menuadari bahwa ada kekuatan lain yang ikut menentukan yaitu kekuasaan Tuhan.
(a)    Tanggung jawab terhadap diri sendiri
Tanggug jawab terhadap diri sendiri menuntut kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi.
(b)   Tanggung jawab terhadap keluarga
Keluarga merupakan masyarakat kecil. Keluarga terdiri dari suami-istri, ayah-ibu dan anak-anak, dan juga orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan.
(c)    Tanggung jawab terhadap Masyarakat
Pada hakekatnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain, sesuai dengan kedudukannya sebagai mahluk sosial.
(d)   Tanggung jawab kepada Bangsa / Negara
Suatu kenyataan lagi, bahwa tiap manusia, tiap individu adalah warga negara suatu negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia terikat oleh norma-norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh negara. Contoh:
Dalam novel jalan tak ada ujung karya Muchtar Lubis, Gum Isa yang tekenal sebagai guru yang baik, terpaksa mencuri barang-barang milik sekolah demi rumah tangganya., Perbuatan guru ini bisa pula dipertanggungjawabkan kepada KEPSEK kalau perbuataan itu diketahui ia dapat berurusan dengan pihak kepolisian dan pengadilan.
(e)   Tanggung jawab terhadap Tuhan
Tuhan menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggung jawab, melainkan untuk mengisi kehidupannya manusia mempunyai tanggung jawab langsang terhadap Tuhan. Sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari hukuman-hukuman Tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama.

C. PENGABDIAN DAN PENGORBANAN
                Wujud tanggung jawab juga berupa pengabdian dan pengorbanan. Pengabdian dan pengorbanan adalah perbuatan baik untuk kepentingan manusia itu sendiri.
(a)    Pengabdian
Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta, kasih sayang, honnat, atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas.
(b)   Pengorbanan
Pengorbanan berasal dari kata korban atau kurban yang berarti persembahan, sehinggaa pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian pengorbanan yang bersifat kebaktian itu mengandung unsur keikhlasan yang tidak mengandung pamrih. Suatu pemberian yang didasarkan atas kesadaran moral yang tulus ikhlas semata-mata.Perbedaan antara pengertian pengabdian dan pengorbanan tidak begitu jelas. Karena adanya pengabdian tentu ada pengorbanan. Antara sesama kawan, sulit dikatakan pengabdian, karena kata pengabdian mengandung arti lebih rendah tingkatannya. Tetapi untuk kata pengorbanan dapat juga diterapkan kepada sesama teman. Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran, perasaan, bahkan dapat juga berupa jiwanya. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan saja diperlukan. Pengabdian lebih banyak menunjuk kepada perbuatan sedangkan, pengorbanan lebih banyak menunjuk kepada pemberian sesuatu misalnya berupa pikiran, perasaan, tenaga, biaya, waktu. Dalam pengabdian selalu dituntut pengorbanan, tetapi pengorbanan belum tentu menuntut pengabdian. Contoh Pengabdian :
Kesediaan seorang guru sekolah dasar ditempatkan di pelosok terpencil daerah transmigrasi, adalah pengabdian yang juga menuntut pengorbanan. Dikatakan pengabdian karena ia mengajar di situ tanpa menerima gaji dari pemerintah, tanpa diurus oleh pihak berwenang usul pengangkatannya, ia hanya bertanggung jawab untuk kemajuan dan kecerdasan masyarakat / bangsanya. la hanya menerima penghargaan dan belas kasihan dari masyarakat setempat. Pengorbanan yang ia berikan berupa tenaga, pikiran, waktu untuk kepentingan anak didiknya.




TES KRAEPELIN

SEJARAH TES KRAEPELIN
                                                               
                Tes kraepelin diciptakan oleh seorang psikiater Jerman bernama Emilie Kraepelin pada tahun 1856 – 1926. Alat tes ini terlahir karena adanya dasar pemikiran dari faktor-faktor yang khas pada sensori sederhana, sensori motor, perseptual dan tingkah laku. Pada mulanya merupakan tes kepribadian. Namun dalam pekembangannya telah berubah menjadi tes bakat, dengan cara merubah tekanan skoring dan interpretasi. Satu hal yang perlu anda ketahui bahwa alat tes ini akan mengungkap beberapa faktor bakat diantaranya: kecepatan, ketelitian, keajegan, dan ketahanan kerja di dalam tekanan.
                Emil Kraepelin dilahirkan pada tanggal 15 Februari 1856 di Neustrelitz dan wafat pada tanggal 7 Oktober 1926 di Munich. Ia menjadi dokter di Wurzburg tahun 1878, lalu menjadi dokter di rumah sakit jiwa Munich. Pada tahun 1882, ia pindah ke Leipzig untuk bekerja dengan Wundt yang pernah menjadi kawannya semas mahasiswa. Dari tahun 1903 hingga ia wafat, ia menjadi profesor psikiatri di klinik psikiatri di Munich dan sekaligus menjadi direktur klinik tersebut. Emilie Kraepelin adalah psikiatris yang mempelajari gambaran dan klasifikasi penyakit-penyakit kejiwaan, yang akhirnya menjadi dasar penggolongan penyakit-penyakit kejiwaan yang disebut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA). Emilie Kraepelin percaya bahwa jika klasifikasi gejala-gejala penyakit kejiwaan dapat diidentifikasi. Maka asal-usul dan penyebab penyakit kejiwaan tersebut akan lebih mudah diteliti.
                Kraepelin menjadi terkenal, terutama karena penggolongannya mengenai penyakit kejiwaan yang disebut Psikosis. Ia membagi psikosis dalam dua golongan utama, yaitu dimentia praecox dan psikosis manic-depresif. Dimentia praecox merupakan gejala awal dari penyakit kejiwaan yang disebut Schizophrenia. Kraepelin juga dikenal sebagai tokoh yang pertama kali menggunakan metode psikologi pada pemeriksaan psikiatri, antara lain menggunakan tes psikologi untuk mengetahui adanya kelainan-kelainan kejiwaan. Salah satu tes yang diciptakannya dikenal dengan nama Tes Kraepelin. Test tersebut banyak digunakan oleh para sarjana psikologi di Indonesia pada era tahun 1980-an.

ASPEK-ASPEK TES KRAEPELIN

                Alat tes ini terlahir karena adanya dasar pemikiran dari faktor-faktor yang khas pada sensori sederhana, sensori motor, perseptual dan tingkah laku. Pada mulanya merupakan tes kepribadian. Namun, dalam perkembangannya telah berubah menjadi tes bakat, dengan cara merubah tekanan skoring dan interpretasi. Satu hal yang perlu anda ketahui bahwa alat tes ini akan mengungkap bebeapa faktor bakat diantaranya: kecepatan, ketelitian, keajegan, dan ketahanan kerja di dalam tekanan.
                Menurut Dr. J. De Zeeuw, tes Kraepelin digolongkan sebagai tes yang mengukur faktor-faktor khusus non-intelektual (tes konsentrasi). Sedangkan menurut Anne Anestesi, tes Kraepelin merupakan tes kecepatan. Ini ditunjukkan dengan banyaknya soal yang dibatasi waktu, dimana testi dipastikan tidak dapat menyelesaikan seluruh soal. Jadi, pada tes Kraepelin memang testi tidak diharapkan untuk menyelesaikan seluruhnya setiap lajur. Yang dilihat disini adalah kecepatan kerja testi. Selain kecepatan kerja, faktor-faktor lain yang diungkapkan adalah ketelitian, konsentrasi dan stabilitas kerja. Aspek-aspek yang berpengaruh bermacam-macam, misalnya persepsi visual, konseptual, koordinasi senso-motorik, pushing power, ketahanan, learning effect.

TUJUAN PENGETESAN

                Tes Kraepelin dimaksudkan untuk mengukur maksimum performa seseorang. Oleh karenanya, tekanan skoring dan interpretasi lebih didasarkan pada hasil tes secara obyektif bukan pada arti proyektifnya.



Sumber: