Sabtu, 18 April 2015

Apa Perbedaan Bakat Dan Kreativitas?

Pada tulisan kali ini penulis akan menulis tentang perbedaan bakat dan kreativitas. Sebelumnya, penulis menulis di blog ini untuk memenuhi tugas Softskill.

Pada dasarnya belum terdapat pengertian yang sama tentang keberbakatan dari beberapa ahli. Hagen dan Hollingworth (dalam Hawadi, 2002) membedakan antara gifted dan talented. Gifted ditujukan pada individu dengan kemampuan unggul dibidang seni, musik, dan drama. Kemudian Cutts dan Musseley (1957 dalam Hawadi, 2002) membedakan antara bright dengan gifted dan talented. Menurut kedua tokoh tersebut, bright diartikan individu yang mampu menempuh pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (kolese) dan lancar dalam karier yang dipilihnya. Gifted diartikan individu yang memiliki potensi yang lebih tinggi daripada individu dengan tingkat bright, sedang talented menunjuk pada individu yang memiliki kemampuan tidak lazim (luar biasa dibidang akademis, tanda umum adalah adanya kemampuan yang tergolong superior).

Pandangan yang terbaru mempersepsikan keberbakatan tidak hanya dari satu segi saja yaitu kemampuan intelektual, tetapi juga dari segi lain atau kemampuan lain, misalnya kreativitas, seni, olahraga, dan lain-lain. Pandangan terakhir tersebut dikategorikan dalam pendekatan yang menggunakan kriteria majemuk atau multi-kriteria. Contoh pandangan yang menggunakan pendekatan tersebut adalah pandangan USEO (United States Office of Education) dan pandangan Renzulli.

Sedangkan kreativitas secara konvensional didefinisikan dengan pendekatan tiga P, yaitu pribadi yang  kreatif, proses kreatif, dan produk kreatif (Barron 1988 dalam Davis 1993: 39). Santrock (2008:366) kreativitas ialah kemampuan berpikir tentang sesuatu dengan cara baru dan tak biasa dan menghasilkan solusi yang unik atas suatu problem. Selain itu Samsunuwiyati (2010:175)  berpendapat bahwa kreativitas merupakan konsep yang majemuk dan multi-dimensional, sehingga sulit didefinisikan secara operasional.

Kreativitas membutuhkan rangsangan dari lingkungan untuk berkembang secara optimal. Beberapa faktor yang menentukan adalah:
1.     Kebebasan: orang tua yang percaya untuk memberikan kebebasan kepada anak.
2. Respek: orang tua yang menghormati anaknya sebagai individu, percaya akan kemampuan anak mereka, dan menghargai keunikan anak mereka.
3.     Kedekatan emosi yang sedang: kreativitas akan dapat dihambat dengan suasana emosi yang mencerminkan rasa permusuhan, penolakan, atau rasa terpisah.
4.   Prestasi bukan angka: orang tua anak kreatif menghargai prestasi anak, mendorong anak untuk berusaha sebaik-baiknya, dan menghasilkan karya-karya yang baik.
5.     Orang tua aktif dan mandiri: sikap orang tua terhadap diri sendiri amat penting karena orang tua merupakan model bagi anak.
6.     Menghargai kreativitas: anak yang kreatif memperoleh banyak dorongan dari orang tua untuk melakukan hal-hal yang kreatif.

Kendala terhadap produktivitas kreatif dapat bersifat internal, yaitu berasal dari individu itu sendiri. Dapat pula bersifat eksternal, yaitu terletak pada lingkungan individu, baik lingkungan makro maupun lingkungan mikro. Kendala internal yaitu keyakinan bahwa lingkunganlah yang menyebabkan dirinya tidak mempunyai kesempatan mengembangkan kreativitasnya. Kendala eksternal antara lain yaitu tentang evaluasi, pujian, perasaan diamati selagi mengerjakan sesuatu, pemberian hadiah dan persaingan.

Menurut Utami Munandar (2009:71) kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk mengekspresikan ide-ide baru yang ada dalam dirinya sendiri. Adapun ciri-ciri dari kreativitas adalah:
1.      Rasa ingin tahu yang luas dan mendalam
2.     Sering mengajukan  pertanyaan yang baik
3.     Memberikan banyak gagasan atau usul terhadap suatu masalah
4.     Bebas dalam menyatakan pendapat
5.     Mempunyai rasa keindahan yang dalam
6.     Menonjol dalam salah satu bidang seni
7.     Mampu melihat suatu masalah dari berbagai segi/sudut pandang
8.     Mempunyai rasa humor yang luas
9.     Mempunyai daya imajinasi
10.                        Orisinal dalam ungkapan gagasan dan dalam pemecahan masalah

Jadi, bakat dan kreativitas adalah saling berkaitan satu sama lain. Kebutuhan sosial akan kreativitas dirasakan di mana-mana dan tampak dalam sistem pendidikan, penggunaan waktu luang, pengembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan keluarga. Makna dari pengembangan kreativitas berkaitan dengan kualitas perwujudan diri, peningkatan kemampuan berpikir kreatif, kepuasan dalam mencipta, dan peningkatan kualitas hidup. Sikap orang tua dalam mendukung kreativitas anak juga sangat diperlukan dengan menyediakan sarana pendukung dan motivasi serta mengembangkan hobi dalam keluarganya masing-masing. Dalam kegiatan pembelajaran guru harus senantiasa berusaha memikirkan bagaimana cara menumbuhkan kreativitas siswa dalam belajar, dengan mempertimbangkan tahap-tahap munculnya kreativitas (persiapan, inkubasi, iluminasi, verifikasi).


Sumber:


Minggu, 12 April 2015

Anak Indonesia yang Berbakat di Negeri Paman Sam

Selamat sore para pembaca blog, kali ini saya akan membagi informasi tentang salah satu anak Indonesia yang berbakat di negara Amerika Serikat yang bernama Erica Kaunang.

Pada tahun 2014 yang lalu, gadis cilik berdarah Kawanua asal Indonesia kembali menunjukkan kelasnya, karena masuk deretan siswa paling pintar di New York, Amerika Serikat. Pada sebuah acara yang bertajuk National Junior Society Induction Ceremony, namanya kembali menggema di seantero ruangan sebagai salah satu dari sedikit anak-anak yang dianggap dan diyakini sebagai siswa genius pada penerima award bergengsi di dunia pendidikan Amerika.

Di awal tahun 2014, penghargaan yang diterima Erica tentu akan menjadi kebanggaan bagi orang tua dan warga Indonesia lainnya yang tinggal di Amerika. Untuk yang ketiga kalinya Erica mendapat penghargaan Gold Honor Roll, setelah pada tahun 2012 dan 2013, ia juga memperolehnya secara penuh. Hanya saja, acara penghargaan Gold Honor Roll tahun 2014 yang lalu terbilang lebih istimewa oleh karena dirayakan secara besar-besaran di salah satu state di Negeri Paman Sam itu. Tamu yang hadir pun tidak hanya dari kalangan akademisi, namun juga para politisi dan penguasa setempat. Sebut saja di antaranya ada Senator asal NYC, Mr. Joseph P, Addobbo Jr, kemudian ada juga NYC Councilwoman, Elizabeth Crowley, Principal Dr. Jeanne Fagan bersama wakilnya, Mr. Frederick Baumann. Dari pihak NJHS (National Junior Honor Society Advisor) hadir pula  Mrs. Kim. Puterbaugh, kemudian ada PIA President, Mrs. Christina De Simone. Mewakili Community School District 24 Superintendent Madelin Taub-Chan. Banyak juga politisi lokal lainnya turut hadir untuk memberikan apresiasi terhadap anak-anak pintar ini.

Dalam acara pemberian Award tersebut, ada 49 siswa dari Gifted and Talented Class (sebuah kelas khusus anak-anak genius dan berprestasi) yang menerima penghargaan. Salah satu dari beberapa penerima penghargaan tersebut adalah Erica Kaunang. Gadis cilik putri tercinta dari pasangan Joutje Kaunang dan Eva Purba (pasangan Manado – Batak) ini memang adalah anak yang sangat pintar dan berprestasi. Menurut sang ayah, Joutje, bahwa penerima award ini memanglah hanya dikhususkan kepada mereka yang memiliki nilai report card di atas 90%. Dan Erica sendiri mendulang hasil, yang menurut pendapat saya amat fantastis yaitu 99.93% atau hampir sempurna (nilai sempurna adalah 100%).

Ke-49 penerima penghargaan ini datang dari kelas yang memang sudah terpilih, yaitu berjumlah 300 orang yang dipilih dari seluruh Amerika Serikat. Mereka adalah siswa-siswa jenius yang dipilih dan diseleksi secara ketat untuk masuk dalam kelompok Gifted and Talented. Ini adalah sebuah peghargaan tertinggi di dunia pendidikan New York City.

“Torang (kami) orang tua merasa terharu ketika nama anak kami disebutkan oleh Senator New York ketika membawakan pidatonya”, demikian komentar Joutje Kaunang. Ketika nama Erica dipanggil, gemuruh tepuk tangan para hadirin yang memenuhi ruangan itu sontak terdengar. Mereka sangat mengapresiasi anak-anak yang hebat dalam dunia pendidikan itu.


Erica (pertama dari sebelah kiri)

Dalam sambutannya, Principal Kim mengatakan bahwa tidak mudah untuk terpilih mendapatkan penghargaan dari National Junior Honor Society. Karena apa? Karena untuk mendapatkan nilai seperti itu tidaklah mudah. Dari 300 siswa terpilih dan diyakini sangat pintar itu maka dipilihlah 49 penerima penghargaannya, yaitu mereka-mereka yang memiliki nilai di atas 90%.

Dan yang lebih membanggakan lagi, dari 49 siswa itu ternyata ada 29 siswa yang dianggap terpintar, yaitu mereka yang memiliki nilai di atas 99% (atau hampir 100%). Erica adalah salah satu dari 29 siswa tersebut dengan nilai 99.93%. Ini tentu menuntut kerja keras dan usaha maksimal dari seorang Erica. Tidak hanya tatkala hendak memperolehnya, namun juga untuk mempertahankan apa yang sudah diperolehnya itu. Mungkin sekali, tidak ada lagi waktu untuk bermain-main layaknya anak sebaya dia. Waktunya digunakan hanya untuk belajar, dan terus belajar.

Erica memang adalah seorang gadis cilik yang amat berbakat. Ia memang tak pernah berhenti belajar, tidak pula ia terlena dengan apa yang sudah dicapainya. Ia tidak hanya sudah pernah mendapat tugas menulis surat ke Presiden Amerika, dan akhirnya mendapat balasan jawaban dari Sang Presiden. Ia pun pernah diwawancarai Majalah Forbes, hal mana sesuatu yang sangat langka diperoleh. Untuk masuk Majalah sekaliber Forbes tentu tidak mudah. Bulan ini juga, sosoknya akan masuk menghias Majalah Infosulut, sebuah majalah ternama dan bergengsi di Sulawesi Utara.

Ia adalah contoh anak muda belia berprestasi. Anak yang mengejar mimpi setinggi langit. Yang berusaha mendapatkan apa yang ia selalu mimpikan dan impikan, dan yang tidak pernah kalah sebelum berperang. Bagi Erica, sekali layar terkembang maka sangat pantang untuk diturunkan kembali. Sekali bertekad untuk maju, jangan pernah berpaling ke belakang. Kuncinya adalah belajar dan teruslah belajar, sebab tanpa itu, acap kali kegagalanlah yang menunggu kita di ujung jalan.

Pada dasarnya bakat adalah sesuatu yang amat ideal apabila kita dapat memberikan pendidikan yang benar-benar sesuai dengan peserta didik kita. Masalah bakat adalah masalah yang sama tuanya dengan manusia itu sendiri. Semenjak dahulu, orang sudah berusaha membahas masalah bakat ini. Urgensinya masih tetap aktual sampai saat ini, meski dari kacamata ilmu pegetahuan hasilnya masih jauh dari memuaskan. Urgensi dalam mengaplikasikan bakat tidak hanya terbatas pada bidang pendidikan saja, melainkan juga dalam hal pemilihan lapangan kerja (Suryabrata, 1995).

Pengaturan diri tingkah laku (self-regulation of behavior) mencakup berbagai bidang, diantaranya pengaturan diri dalam belajar di sekolah (self-regulated academic learning, selanjutnya disebut self-regulated learning dan disingkat menjadi SRL). Uraian selanjutnya akan dikemukakan tentang SRL dan perannya dalam mengatur belajar sehingga tercapainya tujuan yaitu adanya peningkatan prestasi akademik.

Pintrich dan de Groot (1990) menjelaskan bahwa terdapat beberapa macam definisi SRL. Namun, dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan tiga komponen penting yang berkaitan dengan kegiatan belajar di kelas. Ketiga komponen tersebut sebagai berikut:
1)      Strategi metakognisi siswa untuk merencanakan, memantau, dan memodifikasi kognisi mereka (Brown, Branford, Campione&Ferrara, 1983; Corno, 1986; Zimmerman, Pons, 1986, 1988 dalam Pintrich&de Groot, 1990).
2)      Cara siswa mengelola dan mengontrol usaha mereka dalam tugas-tugas akademik. Contoh siswa yang mampu menekuni atau tidak menyerah pada tugas-tugas yang sukar atau mampu menghindari gangguan-gangguan, akan dapat mempertahankan dorongan untuk menyelesaikan tugas-tugas sehingga memungkinkan mereka berprestasi lebih baik (Corno, 1986; Corno&Rohr Kemper, 1985 dalam Pintrich&de Groot, 1990).
3)      Aspek SRL yang sangat penting yang diajukan para peneliti dalam konseptualisasi mereka adalah strategi kognisi yang secara nyata digunakan siswa untuk belajar, mengingat, dan memahami materi bidang studi (Corno&Mandinech, 1983; Zimmerma&Pons, 1986, 1988 dalam Pintrich&de Groot, 1990). Strategi kognisi yang lebih baik yang digunakan siswa seperti mengulang, mengolaborasi, dan mengorganisasikan materi bidang studi ternyata membantu mendorong kegiatan kognisi dan menghasilkan prestasi yang lebih tinggi dalam belajar (Weinsten&Mayer, 1986 dalam Pintrich&de Groot, 1990).
Kegiatan komponen SRL tersebut digunakan sebagai definisi kerja dalam penelitiannya.

Dari ulasan teori di atas, dapat disimpulkan bahwa Erica memiliki pengaturan diri yang baik dalam belajar dan mengasah bakat/kemampuan yang dimilikinya. Oleh sebab itu, mari kita mengasah kemampuan kita masing-masing. Semangat!.


Sumber:

- Basuki, H.2005.Kreatifitas, Keberbakatan, Intelektual, dan Faktor-Faktor Pendukung dalam Pengembangannya.Jakarta: Gunadarma.


Kamis, 19 Maret 2015

Minimnya Mutu Pendidikan di Indonesia

            Sebenarnya saya cukup prihatin dengan keadaan pendidikan di Indonesia yang masih belum merata dirasakan oleh anak-anak Indonesia, terutama pada anak-anak yang tinggal di daerah terpencil. Di lain sisi pasti banyak harapan untuk menganyam pendidikan yang layak dari tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi, namun banyak juga yang tidak dapat mewujudkan harapan tersebut. Meskipun jumlah institusi pendidikan dasar dan menengah terus meningkat sejak zaman kemerdekaan. Namun sangat disayangkan, masih banyak sekolah di Indonesia yang tidak memenuhi standar minimal pendidikan. Selain itu juga mutu pendidikan di Indonesia masih jauh dari harapan, lalu mutu guru-guru di Indonesia kurang mendapat perhatian dari pemerintah, sarana dan prasarana yang kurang dipenuhi, dan masalah lainnya.
                Selain itu, saya juga cukup prihatian dengan pendidikan yang tujuannya sebenarnya adalah untuk membentuk pribadi anak-anak bangsa untuk memiliki moral dan sikap yang baik, menjadikan anak-anak yang baik yang dapat beradaptasi dengan adanya globalisasi yang kian meningkat, dan tentunya membantu mewujudkan cita-cita anak dan menjadikan bangsa yang berkualitas. Namun jika saya bahkan anda yang melihat berita-berita dan tayangan di televisi, sudah banyak anak dan usia remaja yang melakukan hal-hal yang tidak seharusnya mereka lakukan. Seperti terjerumus dalam pergaulan bebas, pornografi, lalu melakukan tindakan kriminal, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, dan banyak anak di bawah umur yang sudah mencari nafkah hanya karena untuk menyambung hidupnya.
                Sudah dituliskan dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945 dalam pasal 31 ayat (1), mengatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Dan pasal 31 ayat (2), bahwa setiap warga negara wajib mengkuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Begitu pun dengan adanya Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia yang menegaskan jaminan hak atas pendidikan. Pasal 60 Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, menjelaskan bahwa memperkuat dan memberikan perhatian khusus pada hak anak untuk memperoleh pendidikan sesuai minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya. Penegasan serupa tentang hak warga negara atas pendidikan juga tercantum dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Lalu pada pasal 53 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menegaskan bahwa negara dalam hal ini memiliki tanggung jawab memberikan biaya pendidikan dan/atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus bagi anak dari keluarga tidak mampu, anak terlantar, dan anak yang bertempat tinggal di daerah terpencil.
                Mungkin pemerintah juga tidak dapat bergerak sendirian untuk memecahkan masalah-masalah tersebut, tapi kita sebagai kawula muda juga sudah sepatutnya bergerak untuk membantu memecahkan masalah-masalah tersebut. Mungkin dengan mengadakan perpustakaan keliling untuk menambah minat baca anak-anak agar semakin ‘penasaran’ dengan wawasan yang masih sangat luas untuk diketahui, lalu mengadakan penyuluhan atau motivasi ke sekolah-sekolah baik itu sekolah dasar, menengah, ataupun tingkat sekolah atas.
                Dan harapan saya sendiri sejujurnya ingin sekali memiliki sekolah di daerah terpencil dengan tujuan agar anak-anak daerah dapat mengenyam pendidikan secara layak dan tahu akan perkembangan zaman yang semakin pesat. Selain itu, saya ingin memiliki rumah baca untuk anak-anak di daerah, dan juga saya ingin mengurangi angka buta aksara di Indonesia. Saya harap tidak hanya saya sendiri yang memiliki harapan seperti ini, tetapi juga para kawula muda lainnya agar kita dapat bergerak bersama untuk mewujudkan Indonesia dengan bangsa yang berkualitas baik. Aamiin...




Sumber:



Rabu, 18 Maret 2015

PERSEPSI

Berikut ini merupakan bagan dari proses sensasi-persepsi pada manusia:

Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi menurut Walgito (2004: 89-90):
1.       Faktor Internal:
    Alat indera, syaraf dan penysusunannya: Alat indera (reseptor) berfungsi untuk menerima stimulus atau rangsangan dari luar. Sedangkan syaraf sensori berperan dalam meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat syaraf, yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Supaya terjadinya respon diperlukan syaraf motorik.
    Perhatian: Perhatian merupakan tahap pertama sebagai persiapan mengadakan persepsi. Perhatian adalah pemusatan atau pengonsentrasian seluruh aktivitas individu pada satu atau sekelompok objek.
2.       Faktor Eksternal:
    Objek yang dipersepsi: Persepsi mengandaikan adanya objek yang dipersepsi. Suatu objek dapat menimbulkan stimulus yang memicu atau merangsang alat indera atau reseptor. Sebagian stimulus itu datang dari luar dan ada juga stimulus yang datang dari dalam individu yang memersepsi.
    Nilai-nilai dan kebutuhan individu: Salah satu faktor ini sangat mempengaruhi proses persepsi. Seorang seniman akan berbeda dalam pengamatan dibandingkan dengan orang yang bukan seniman. Penelitian menunjukkan pengamatan bahwa anak-anak dari golongan kurang mampu melihat koin (mata uang logam) lebih besar daripada anak-anak orang berada.

Berikut merupakan proses sensasi-persepsi:
1.       Stimulus, ada stimulus yang disadari dan tidak disadari. Walaupun perhatian individu cukup besar, tetapi bila stimulusnya tidak cukup kuat maka stimulus itu tidak dapat disadari dan karenanya tidak dapat dipersepsi oleh individu bersangkutan. Itu berarti stimulus harus memiliki batas kekuatan minimal (ambang stimulus) agar dapat menimbulkan kesadaran di pihak individu.
2.       Proses Transduktif adalah proses memunculkan energi fisik ke dalam aktivitas sistem syaraf. Transduktif terjadi dalam reseptor, yaitu sel-sel yang dikhusukan untuk mengubah secara paling efektif satu jenis energi. Umumnya selama proses transduktif, sel reseptor mengeluarkan energi fisik ke dalam suatu potensi atau voltasi listrik yang disebut Reseptor Potensial.
3.       Primary Area (Brain), korteks otak besar ini terhubung dengan bermacam struktur seperti talamus dan ganglia dasar guna pengiriman informasi melalui lintasan eferen dan aferen. Informasi dari indera diterima melalui talamus, sedangkan informasi olfactory akan melalui olfactory bulb menuju korteks olfactory. Korteks otak besar terbagi menjadi tiga area yaitu indera, gerakan, dan asosiasi.
4.       Association Area (Brain) adalah area pada korteks otak besar yang berfungsi untuk merekam pengalaman persepsi agar manusia dapat lebih efisien dalam melakukan interaksi dengan lingkungan di sekitarnya. Area ini juga berfungsi sebagai abstraksi dari pemikiran dan bahasa.
5.       Personalized Perception (Persepsi Pribadi), menurut Walgito (1993): Persepsi seseorang merupakan proses aktif yang memegang peranan, bukan hanya stimulus yang mengenainya tetapi juga individu sebagai satu kesatuan dengan pengalaman-pengalamannya, motivasi, serta sikap yang relevan dalam menanggapi stimulus.


Minggu, 15 Maret 2015

Berbakat itu Karena Diasah

Hai para bloggers, hari ini hari Minggu. Meskipun hari Minggu adalah hari libur, berhenti bermalas-malasan. Ayo kita cari kegiatan positif yang bermanfaat! Nah untuk tulis-menulis kali ini, saya akan menuliskan bakat yang sering terasah dan cukup menghasilkan prestasi.

Subjek yang saya pilih kali ini adalah adik sepupu saya sendiri yang bernama Ilham Riyadi, siswa kelas XI dari salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di wilayah Jakarta Selatan. Mungkin sewaktu dia kecil, saya belum terlalu melihat kira-kira apa sih bakat anak yang satu ini. Namun lama-kelamaan, semakin dia dewasa saya selalu mendengar curahan hati dari ibunya bahwa dia itu sering sekali keluar bersama teman-temannya setelah pulang sekolah untuk bermain sepak bola atau futsal. Kadang saya berpikir, “Kenapa sih harus sering pulang malam gara-gara main bola gitu? Memangnya gak capek sama rutinitas sekolah yang tugasnya aja bikin pusing?”. Tapi ternyata saya salah, adik saya ini sudah membuktikan bahwa selama ini dia itu mengasah dan semakin mengasah kemampuannya atas kegiatan yang dia senangi. Presetasinya di beberapa turnamen sudah menjadi bukti bahwa dia berbakat dalam hal tersebut, ya meskipun dalam turnamen sudah dipastikan dia bermain bersama timnya.


Nah di atas ituadalah salah satu foto yang diambil setelah turnamen di SMAN 65 Jakarta. Tim dari SMAN 90 Jakarta mendapatkan juara 1 pada tahun 2014.

Sekian tulisan saya untuk kali ini. Saya harap kita semua (kawula muda) dapat semakin mengasah dan menggali bakat yang kita miliki sebenarnya. Have a nice weekend, Pals!




Rabu, 11 Maret 2015

Apakah Bakat Dan Pengalamannya Penting?

                  Selamat malam penikmat huruf di blog...
             Kali ini saya akan berbagi tulisan mengenai pentingnya dan pengalaman bakat pada setiap individu. Kira-kira apakah kalian sudah tahu atau bahkan sudah menyalurkan bakat apa yang kalian miliki sejak kecil?

          Sadar atau tidak, setiap orang memiliki bakat dan potensinya masing-masing. Meskipun terkadang diri kita sendiri masih suka bingung akan bakat yang kita miliki. Jadi, arti bakat yang sebenarnya adalah talenta, kepandaian, anugerah yang dibawa sejak lahir. Misalnya bakat dalam bernyanyi, melukis, dan bakat lainnya.

         Bakat bukanlah sifat tunggal, melainkan sifat tunggal yang secara bertingkat membentuk bakat. Bakat baru muncul bila ada kesempatan untuk berkembang atau dikembangkan. Sehingga, mungkin saja seseorang tidak mengetahui dan tidak tahu bagaimana cara mengembangkan bakatnya sehingga tetap merupakan kemampuan yang laten (terpendam atau tak terlihat). Bakat akan sulit berkembang dengan baik apabila tidak diawali dengan adanya minat pada bidang yang akan ditekuni. Untuk itu, guru, orang tua, pembimbing perlu mengenal bakat anak-anaknya sehingga dapat memberikan pendidikan, pelatihan, dan menyediakan pengalaman sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.

                  Menurut Crow&Crow (1989), bakat dapat dianggap sebagai kualitas yang dimiliki oleh semua orang dalam tingkat yang beragam. Bakat juga dapat dianggap sebagai keunggulan khusus dalam bidang perilaku tertentu, seperti musik, matematika, atau olahraga. Cattel (dalam Crow&Crow, 1989), mencoba menemukan perbedaan-perbedaan diantara individu dalam bidang-bidang seperti di bawah ini, yang berhubungan dengan ketajaman sensoris (indera), kekuatan otot dibandingkan dengan kemampuan mental lainnya yang lebih kompleks:
1.  Kekuatan menggenggam atau memegang
2.  Kecepatan gerkan lengan
3. Dua ambang mata pada belakang tangan
4. Jumlah tekanan yang diperlukan, yang mengakibatkan rasa sakit pada dahi
5. Perbedaan berat yang tidak begitu kentara
6. Waktu dalam bereaksi terhadap bunyi
7. Waktu yang dibutuhkan dalam menyebutkan sepuluh warna
8. Membagi garis menjadi dua yang masing-masing panjangnya 50cm
9. Kemampuan untuk mereproduksi selama jangka waktu 10 detik dengan ketukan, setelah itu subjek diminta untuk mengingatnya
10. Saat mengingat huruf-huruf yang berhubungan dengan pendengaran.

             Memperkenalkan anak pada berbagai hal menjadi salah satu cara untuk mengetahui minat, bakat, dan kemampuan anak. Orang tua perlu memperhatikan pada bidang apa anak menjadi tertarik, antusias, dan begitu senang saat diajak melakukan suatu kegiatan. Berikut beberapa cara menemukan bakat seorang anak:
1.   Stimulasi
 Anak melakukan beragam aktivitas baik di dalam atau pun di luar rumah. Ragam aktivitas tersebut seperti menyanyi, menggambar, menulis, berkebun, membersihkan rumah, berenang, dan aktivitas lainnya.
2.   Eksplorasi
 Motivasi anak untuk mengeksplorasi aktivitas yang disukainya. Bila anak sudah merasa puas dengan aktivitas, beri tantangan baru yang lebih sulit agar anak menguasai aktivitas tersebut.
3.  Amati
 Amati aktivitas anak secara langsung atau mintalah anak menceritakan aktivitasnya mulai pertama kali terlibat dalam aktivitas tersebut, perilaku anak selama beraktivitas, sampai komentar anak mengenai hasil yang didapatkannya.
4.   Reward
 Apresiasi ketekunan anak agar anak terus mengeksplorasi bakatnya.

                        Saya rasa cukup sekian sharing tentang bakatnya. Jadi intinya, bakat itu sangat penting untuk diketahui terutama untuk para orang tua yang masih belum tahu kira-kira bakat apa sih yang dimiliki seorang anak? Nah, untuk para orang tua yang masih bingung mungkin dapat mengikuti sedikit tips yang saya tulis di atas. Selamat malam...



Sumber Referensi:
http://blog.temantakita.com/menemukan-bakat-anak/

Selasa, 30 Desember 2014

Resensi Novel Angkatan '66


Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma








Judul Buku : Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma
No. ISBN : 9794072184
Penulis : Idrus
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun Terbit : 1990
Jumlah Halaman : 172 Halaman
Tebal Buku : 21 cm
Kategori : Jurnal Sastra
Bahasa : Indonesia

PENGENALAN
            Abdullah Idrus (lahir di Padang, Sumatera Barat, 21 September 1921 – meninggal di Padang, Sumatera Barat, 18 Mei 1979 pada umur 57 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia. Ia menikah dengan Ratna Suri pada tahun 1946. Mereka dikaruniai enam orang anak, empat putra dan dua putri, yaitu Prof. Dr. Ir. Nirwan Idrus, Slamet Riyadi Idrus, Rizal Idrus, Damayanti Idrus, Lanita Idrus, dan Taufik Idrus.
          Perkenalan Idrus dengan dunia sastra sudah dimulainya sejak duduk di bangku sekolah, terutama ketika di bangku sekolah menengah. Ia sangat rajin membaca karya-karya roman dan novel Eropa yang dijumpainya di perpustakaan sekolah. Ia pun sudah menghasilkan cerpen pada masa itu.
          Minatnya pada dunia sastra mendorongnya untuk memilih Balai Pustaka sebagai tempatnya bekerja. Ia berharap dapat menyalurkan minat sastranya di tempat tersebut, membaca dan mendalami karya-karya sastra yang tersedia di sana dan berkenalan dengan para sastrawan terkenal. Keinginannya itu pun terwujud, ia berkenalan denganH.B. Jassin, Sutan Takdir Alisyahbana, Noer Sutan Iskandar, Anas Makruf, dan lain-lain.
          Meskipun menolak digolongkan sebagai sastrawan angkatan ’45, ia tidak dapat memungkiri bahwa sebagian besar karyanya memang membicarakan persoalan-persoalan pada masa itu. Kekhasan gayanya dalam menulis pada masa itu membuatnya memperoleh tempat terhormat dalam dunia satra, sebagai Pelopor Angkatan ’45 di bidang prosa, yang dikukuhkan H.B.Jassin dalam bukunya.
          Hasratnya yang besar terhadap sastra membuatnya tidak hanya menulis karya sastra, tetapi juga menulis karya-karya ilmiah yang berkena dengan sastra seperti Teknik Mengarang Cerpen dan Internasional Understanding Through the Study of Foreign Literature.

SINOPSIS
          Novel ini berisi sekumpulan cerita yang tidak saling berhubungan tetapi memiliki setting yang sama, yaitu masa perjuangan Indonesia yang berkisar sekitar pendudukan Jepang sampai kedatangan Sekutu. Berikut beberapa judul yang ditulis oleh Idrus, yaitu Ave Maria, Kejahatan Membalas Dendam, Kota Harmoni, Jawa Baru, Pasar Malam Jaman Jepang, Sanyo, Fujinkai, Oh..oh..oh..!, Heiho, Kisah Celana Pendek, Surabaya, dan Jalan Lain ke Roma. Dari sekian banyak kisah yang ditulis oleh Idrus dalam novel ini ada salah satu judul yang menarik perhatian kami. Dalam kisah tersebut Idrus mengisahkan seorang jurnalis bernama Ishak yang memiliki pemikiran berbeda dari jurnalis lainnya. Ishak merupakan sosok orang yang cukup konsisten dan tidak menyerah dalam mempertahankan idealisme dan menggapai cita-citanya. Dia rela meninggalkan tunangannya yang bernama Satilawati dan dia dianggap sebagai seorang pengecut. Disamping itu Pak Sukroso (ayah Satilawati) tidak menyukai hubungan mereka. Beliau membenci Ishak dan menganggap bahwa Ishak tidak berbakat menjadi seorang pengarang atau jurnalis. Sebenarnya Satilawati sangat mencintai Ishak yang apa adanya. Meskipun hubungannya ditentang oleh ayahnya, Satilawati tetap mengharapkan Ishak kembali. Hingga pada suatu hari, Pak Sukroso meminta bantuan bibinya seorang perempuan paruh baya yang datang dari Cianjur. Perempuan paruh baya tersebut adalah seorang dukun masyhur dalam menceraikan orang. Namun, perempuan paruh baya itu menolak untuk memisahkan Satilawati dari Ishak, karena ia tau cucunya (Satilawati) sangat mencintai Ishak.

Keunggulan:
          Kisah dalam novel ini sangat imajinatif dan tergambarkan dengan jelas sehingga kita dapat merasakan suasana yang dijabarkan Idrus. Cerita dalam novel ini sangat berjiwa nasionalis dan penuh makna. Begitu banyak pelajaran hidup yang dapat kita peroleh. Ketika kita membaca novel ini, kita akan merasa seolah-olah kita sedang mengalami perjalanan pada masa pemerintahan Jepang dan Sekutu masih berkuasa di Indonesia. Selain itu, sampul novel ini sangat menarik perhatian sehingga tertantang untuk membacanya.

Kekurangan:
          Bahasanya yang cukup sulit dipahami karena menggunakan bahasa Melayu dan baku sehingga kami para generasi zaman sekarang sedikit kesulitan memahami cerita yang ada dalam novel ini. 


Kelompok:
1. Eka Wahyuningtyas (13514444)
2. Putri Elena Safitri (18514594)
3. Saras Zettira Pratiwi (1A514046)
4. Windy Noviyanty (1C514282)


Referensi

http://id.wikipedia.org/wiki/Idrus