Kamis, 25 Juni 2015

BERPIKIR DAN BERBAHASA PADA ANAK

                

Menurut Behaviorisme, berpikir merupakan penguatan antara stimulus dan respons. Menurut Asosiasionis, berpikir merupakan asosiasi antara tanggapan yang satu dengan yang lain. Dari segi Kognisi, berpikir merupakan pemrosesan informasi dari stimulus yang ada (starting position) sampai ke pemecahan masalah (finishing position atau goal state). Berpikir yang kadangkala dipandang sebagai penalaran, meliputi proses mental yang digunakan untuk membentuk konsep, memecahkan masalah, dan ikut serta melakukan aktivitas-aktivitas kreatif.

Simbol yang digunakan dalam berpikir pada umumnya adalah kata-kata atau bahasa. Bahasa hanya merupakan salah satu alat. Masih ada alat lain, yaitu image (gambaran) atau yang biasa disebut dengan Visual Map/ Cognitive Map. Selanjutnya ada fungsi dari sebuah konsep, menurut Plotnik, yang dijalankan dengan dua macam fungsi, yaitu:
a.      Organize Information:
Konsep yang memungkinkan anak dalam mengelompokkan segala sesuatu ke dalam kategori-kategori dan mengorganisasikannya secara lebih baik kemudian menyimpan informasi tersebut ke dalam memori.
b.      Avoid Relearning:
Anak dapat dengan mudah mengklasifikasikan atau mengelompokkan sesuatu yang baru tanpa mempelajari ulang sesuatu tersebut.

Menurut Walgito (1980: 180) dalam pemecahan masalah, subjek diarahkan untuk mencari pemecahan masalah dan dipacu untuk mencapai pemecahan tersebut. Jadi, pemecahan masalah (problem solving) merupakan tugas subjek untuk menemukan cara memecahkan masalah. Sementara menurut Plotnik, pemecahan masalah meliputi pencarian beberapa aturan (kaidah), rencana atau strategi yang membuat kita berhasil mencapai satu tujuan yang sekarang belum tercapai. Jadi, pemecahan masalah ada dua aturan, yaitu:
a.       Kaidah Algoritma:
Suatu perangkat kaidah atau aturan yang apabila aturan ini diikuti dengan benar, maka akan ada jaminan keberhasilan pemecahan masalah.
b.      Kaidah Horistik:
   Strategi yang didasarkan pada pengalaman dalam menghadapi masalah yang mengarah pada pemecahan masalah, walaupun tidak ada jaminan akan kesuksesan.

Ciri-ciri utama dalam berpikir adalah adanya abstraksi. Abstraksi dalam hal ini berarti anggapan lepasnya kualitas atau relasi dari benda-benda, kejadian-kejadian dan situasi-situasi yang mula-mula dihadapi sebagai kenyataan. Sebagai contoh, kita lihat sebungkus rokok, rokok itu sebuah benda yang konkrit. Jika kita pandang hanya warna bungkus rokok itu, maka warna isi kita lepaskan dari semua yang ada pada sebungkus rokok itu (bentuknya, rasanya, beratnya, baunya, dan sebagainya). Mula-mula warna itu hanya pada benda konkrit yang kita hadapi dan merupakan bagian dari keutuhan yang tidak dapat dilepaskan. Sekarang warna itu sendiri kita pandang, dan kita pisahkan dari keseluruhan bungkus rokok. Dengan demikian dalam arti luas kita dapat mengatakan bahwa berpikir adalah bergaul dengan abstraksi-abstraksi. Dalam arti yang sempit, berpikir adalah meletakkan atau mencari hubungan pertalian antara abstraksi-abstraksi. Berpikir erat hubungannya dengan daya-daya jiwa yang lain, seperti dengan tanggapan, ingatan, pengertian, dan perasaan. Tangapan memegang peranan penting dalam berpikir meskipun ada kalanya dapat mengganggu jalannya berpikir.

Ingatan merupakan syarat yang harus ada dalam berpikir, karena memberikan pengalaman-pengalaman dari pengamatan yang telah lampau. Pengertian meskipun hasil berpikir dapat memberi bantuan yang besar pula dalam suatu proses berpikir. Perasaan selalu menyertai pula, ia merupakan dasar yang mendukung suasana hati atau sebagai pemberi keterangan dan ketekunan yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah.

Perkembangan kemampuan berpikir dan berbahasa pada anak berjalan secara bersamaan, karena salah satu hasil kemamapuan berpikir adalah berbahasa. Piaget mengelompokkan tahap-tahap perkembangan kognitif menjadi empat tahap, yaitu:
1.       Tahap Sensorimotor (0-2 tahun):
Pada tahap ini, kegiatan intelektual anak hampir seluruhnya merupakan gejala yang diterima secara langsung melalui indera. Pada saat anak mencapai kematangan dan secara perlahan mulai memperoleh keterampilan berbahasa, mereka menerapkannya pada objek-objek yang nyata. Pada tahap ini anak mulai memahami hubungan antara benda dengan nama benda tersebut.
Piaget membagi sensorimotor menjadi enam subtahap, yaitu:
a)      Refleks Sederhana (0-1 bulan)
b)      Kebiasaan (1-4 bulan)
c)       Reproduksi Kejadian yang Menarik(4-8 bulan)
d)      Koordinasi Skemata(8-12 bulan)
e)      Eksperimen (12-18 bulan)
f)       Representasi (18-24 bulan)
2.       Tahap PraOperasional (2-7 tahun):
Perkembangan yang pesat dialami oleh anak pada tahap ini. Anak semakin memahami lambang-lambang bahasa yang digunakan untuk menunjukkan benda-benda. Keputusan yang diambil hanya berdasarkan intuisi, bukan atas dasar analisis rasional. Kesimpulan yang diambil merupakan kesimpulan dari sebagian kecil yang diketahuinya, dari suatu keseluruhan yang besar. Anak akan berpendapat bahwa pesawat terbang berukuran kecil karena itulah yang mereka lihat di langit ketika ada pesawat terbang yang lewat.
3.       Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun):
Pada tahap ini anak mulai berpikir logis dan sistematis untuk mencapai pemecahan masalah. Masalah yang dihadapi dalam tahap ini bersifat konkret. Anak akan merasa kesulitan bila menghadapi masalah yang bersifat abstrak. Pada tahap ini anak menyukai soal-soal yang telah tersedia jawabannya.
4.       Tahap Operasional Formal (11 tahun ke atas):
Anak mencapai tahap perkembangan ini ditandai dengan pola pikirnya yang seperti orang dewasa. Anak telah dapat menerapkan cara berpikir terhadap permasalahan yang konkret maupun abstrak. Pada tahap ini anak sudah dapat membentuk ide-ide dan berpikir tentang masa depan secara realistis.
               
Menurut Plotnik (2005: 312), bahasa adalah bentuk komunikasi khusus yang meliputi penggunaan kaidah-kaidah pembelajaran yang kompleks untuk menyusun dan mengombinasikan simbol-simbol (kata-kata atau gerak isyarat) ke dalam sejumlah tak terbatas kalimat-kalimat yang bermakna. Sistem-sistem aturan bahasa, meliputi:
a.  Fonologi, yaitu satuan bunyi terkecil yang terdapat dalam bahasa.
b. Morfologi, yaitu sistem mengenai satuan-satuan bermakna yang digunakan untuk membentuk kata.
c.  Sintaksis, yaitu sistem mengenai cara mengombinasikan kata-kata untuk membentuk frase dan kalimat yang masuk akal.
d.  Semantik, yaitu sistem mengenai makna kata atau kalimat.
e.  Pragmatik, yaitu sistem mengenai cara menggunakan percakapan yang sesuai dan pengetahuan mengenai cara menggunakan bahasa secara efektif sesuai konteksnya.
               
Menurut Pinker (1994) dalam kenyataannya perkembangan bahasa semua anak tidak tergantung budaya atau bahasa, melewati tahap-tahap yang sama, yaitu: Babbling (ocehan atau celotehan), Single Word (kata tunggal), Two-Word Combinations (kombinasi dua kata), Sentences (kalimat-kalimat).

Gangguan keterlambatan bicara adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya. Pada umumnya mereka mempunyai perkembangan intelegensi dan sosial-emosional yang normal. Menurut penelitian, problem ini terjadi atau dialami 5-10% anak-anak usia prasekolah dan lebih cenderung dialami oleh anak laki-laki dari pada perempuan.  Pada kasus-kasus tertentu, hambatan berbicara  dan berbahasa terlihat dari adanya hambatan dalam menulis. Adapun penyebab dari keterlambatan bicara ini disebabkan oleh beragam faktor, seperti:
1.   Hambatan Pendengaran
Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga.
2. Hambatan Perkembangan pada Otak yang Menguasai Kemampuan Oral-Motor
Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.
3.    Masalah Keturunan
Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.
4.    Masalah Pembelajaran dan Komunikasi dengan Orang Tua
Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun. Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat. Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan "memasukkan" segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.
5.    Faktor Televisi
Anak batita yang banyak nonton TV cenderung akan menjadi pendengar pasif, hanya menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang). Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.



Sumber:
- Basuki, H. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.
- Mulyani Sumantri dan Nana Syaodih. (2006). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Universitas Terbuka.
- Santrock, W. John. (2012). Life Span Development-13th ed.. Jakarta: Erlangga.


Minggu, 07 Juni 2015

Persiapan Pembuatan Film Pendek

Saat Latihan Menari Saman
Pada postingan kali ini, saya akan memposting kegiatan dan persiapan saya bersama teman-teman kelompok dalam pembuatan film pendek untuk memenuhi tugas softskill yang bertema penunjukkan keberbakatan dalam diri setiap individu. Dalam pembuatan film ini, saya bekerja sama dengan rekan saya yang lain, yaitu: Andisa Putri Aulia, Hikman Tartila, Putri Elena Safitri, dan Saras Zettira Pratiwi.
Dalam film ini, saya yang cenderung lebih menyukai puisi dan cukup suka memasak akan mencoba untuk menari. Sedangkan Andisa yang terbiasa menari dan menyanyi, Putri terbiasa untuk menari dan berakting, lalu Zettira yang terbiasa menyanyi pun akan mencoba untuk menari dalam film ini. Dan Hikman, dalam kesempatan kali ini berperan sebagai sutradara sekaligus editor pembuatan film pendek. 
Tempat yang kami jadikan lokasi syuting yaitu berlokasi di Kota Bogor dan sekitar Kota Depok. Pada wilayah Bogor berlokasi di Taman Sempur, SMA YPHB Bogor, sekitar Stasiun Bogor, dan pedestrian wilayah Kota Bogor. Pada wilayah Depok berlokasi di Stasiun Pondok Cina dan kampus Gunadarma, dan halte UI.
Selama proses syuting pasti selalu ada bagian-bagian yang cukup sulit untuk dihilangkan, terutama tertawa. Saat diantara kami ada yang salah atau lupa script, pasti ingin saja tertawa dan terkadang salah gerakan saat diharuskan melakukan gerakan yang sama. Namun, proses tersebut sangat mengasyikan untuk kami. Kami harap dari film pendek tersebut akan ada hal positif yang dapat dipetik oleh teman-teman lainnya dan semoga terhibur dengan penayangan film pendek kami tersebut. Sekian, terimakasih............

Jumat, 24 April 2015

Apakah Bakat Saya yang Sebenarnya?

Selamat siang kawan-kawan pembaca blog. Pada kesempatan kali ini, saya akan menuliskan tentang menggali bakat dalam diri kita sendiri. Tapi sebenarnya, saya pun masih bingung hingga detik ini akan bakat saya yang sebenarnya. Karena, saya merupakan orang yang terbilang 'penasaran' akan hal-hal baru dan unik. Sebenarnya saya sangat tertarik untuk bermain alat musik, contohnya gitar. Saya selalu penasaran terhadap orang-orang yang mahir bermain gitar. Penasaran dari awal bagaimana dia bisa bermain gitar atau alat-alat musik lainnya secara baik. Sempat terpikir oleh saya sendiri, "Kapan ya saya bisa bermain gitar se-keren itu?". Saya penasaran, bahkan ketika saya ke toko buku, saya mencoba untuk membeli buku tutorial bermain gitar dan gitar yang saya gunakan adalah gitar milik paman saya. Awalnya, saya dibuatkan gambarannya langsung oleh paman saya, lalu saya latihan. Tapi karena sudah jarang memainkan gitar, sekarang saya  lupa lagi kunci-kunci gitarnya. Selain penasaran dalam bermain alat musik, saya cukup senang dalam menulis. Ya, meskipun tulisan atau rangkaian kata yang saya buat kurang bagus. Tapi, saya senang saat pensil atau pulpen telah menyatu dengan kertas. Kadang, untaian kata itu terangkai sendiri dalam pikiran saya dan dapat menjadi cerita yang kadang tidak jelas alurnya. Awalnya saya suka dengan buku atau kumpulan puisi yang kata-katanya puitis dan bahkan saya kurang paham akan maknanya. Tapi saya menyukai hal tersebut. Saya kira cukup sekian penulisan blog kali ini. Semoga kawan-kawan semuanya dapat mengembangkan bakat yang kawan-kawan miliki.

Sabtu, 18 April 2015

Apa Perbedaan Bakat Dan Kreativitas?

Pada tulisan kali ini penulis akan menulis tentang perbedaan bakat dan kreativitas. Sebelumnya, penulis menulis di blog ini untuk memenuhi tugas Softskill.

Pada dasarnya belum terdapat pengertian yang sama tentang keberbakatan dari beberapa ahli. Hagen dan Hollingworth (dalam Hawadi, 2002) membedakan antara gifted dan talented. Gifted ditujukan pada individu dengan kemampuan unggul dibidang seni, musik, dan drama. Kemudian Cutts dan Musseley (1957 dalam Hawadi, 2002) membedakan antara bright dengan gifted dan talented. Menurut kedua tokoh tersebut, bright diartikan individu yang mampu menempuh pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (kolese) dan lancar dalam karier yang dipilihnya. Gifted diartikan individu yang memiliki potensi yang lebih tinggi daripada individu dengan tingkat bright, sedang talented menunjuk pada individu yang memiliki kemampuan tidak lazim (luar biasa dibidang akademis, tanda umum adalah adanya kemampuan yang tergolong superior).

Pandangan yang terbaru mempersepsikan keberbakatan tidak hanya dari satu segi saja yaitu kemampuan intelektual, tetapi juga dari segi lain atau kemampuan lain, misalnya kreativitas, seni, olahraga, dan lain-lain. Pandangan terakhir tersebut dikategorikan dalam pendekatan yang menggunakan kriteria majemuk atau multi-kriteria. Contoh pandangan yang menggunakan pendekatan tersebut adalah pandangan USEO (United States Office of Education) dan pandangan Renzulli.

Sedangkan kreativitas secara konvensional didefinisikan dengan pendekatan tiga P, yaitu pribadi yang  kreatif, proses kreatif, dan produk kreatif (Barron 1988 dalam Davis 1993: 39). Santrock (2008:366) kreativitas ialah kemampuan berpikir tentang sesuatu dengan cara baru dan tak biasa dan menghasilkan solusi yang unik atas suatu problem. Selain itu Samsunuwiyati (2010:175)  berpendapat bahwa kreativitas merupakan konsep yang majemuk dan multi-dimensional, sehingga sulit didefinisikan secara operasional.

Kreativitas membutuhkan rangsangan dari lingkungan untuk berkembang secara optimal. Beberapa faktor yang menentukan adalah:
1.     Kebebasan: orang tua yang percaya untuk memberikan kebebasan kepada anak.
2. Respek: orang tua yang menghormati anaknya sebagai individu, percaya akan kemampuan anak mereka, dan menghargai keunikan anak mereka.
3.     Kedekatan emosi yang sedang: kreativitas akan dapat dihambat dengan suasana emosi yang mencerminkan rasa permusuhan, penolakan, atau rasa terpisah.
4.   Prestasi bukan angka: orang tua anak kreatif menghargai prestasi anak, mendorong anak untuk berusaha sebaik-baiknya, dan menghasilkan karya-karya yang baik.
5.     Orang tua aktif dan mandiri: sikap orang tua terhadap diri sendiri amat penting karena orang tua merupakan model bagi anak.
6.     Menghargai kreativitas: anak yang kreatif memperoleh banyak dorongan dari orang tua untuk melakukan hal-hal yang kreatif.

Kendala terhadap produktivitas kreatif dapat bersifat internal, yaitu berasal dari individu itu sendiri. Dapat pula bersifat eksternal, yaitu terletak pada lingkungan individu, baik lingkungan makro maupun lingkungan mikro. Kendala internal yaitu keyakinan bahwa lingkunganlah yang menyebabkan dirinya tidak mempunyai kesempatan mengembangkan kreativitasnya. Kendala eksternal antara lain yaitu tentang evaluasi, pujian, perasaan diamati selagi mengerjakan sesuatu, pemberian hadiah dan persaingan.

Menurut Utami Munandar (2009:71) kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk mengekspresikan ide-ide baru yang ada dalam dirinya sendiri. Adapun ciri-ciri dari kreativitas adalah:
1.      Rasa ingin tahu yang luas dan mendalam
2.     Sering mengajukan  pertanyaan yang baik
3.     Memberikan banyak gagasan atau usul terhadap suatu masalah
4.     Bebas dalam menyatakan pendapat
5.     Mempunyai rasa keindahan yang dalam
6.     Menonjol dalam salah satu bidang seni
7.     Mampu melihat suatu masalah dari berbagai segi/sudut pandang
8.     Mempunyai rasa humor yang luas
9.     Mempunyai daya imajinasi
10.                        Orisinal dalam ungkapan gagasan dan dalam pemecahan masalah

Jadi, bakat dan kreativitas adalah saling berkaitan satu sama lain. Kebutuhan sosial akan kreativitas dirasakan di mana-mana dan tampak dalam sistem pendidikan, penggunaan waktu luang, pengembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan keluarga. Makna dari pengembangan kreativitas berkaitan dengan kualitas perwujudan diri, peningkatan kemampuan berpikir kreatif, kepuasan dalam mencipta, dan peningkatan kualitas hidup. Sikap orang tua dalam mendukung kreativitas anak juga sangat diperlukan dengan menyediakan sarana pendukung dan motivasi serta mengembangkan hobi dalam keluarganya masing-masing. Dalam kegiatan pembelajaran guru harus senantiasa berusaha memikirkan bagaimana cara menumbuhkan kreativitas siswa dalam belajar, dengan mempertimbangkan tahap-tahap munculnya kreativitas (persiapan, inkubasi, iluminasi, verifikasi).


Sumber:


Minggu, 12 April 2015

Anak Indonesia yang Berbakat di Negeri Paman Sam

Selamat sore para pembaca blog, kali ini saya akan membagi informasi tentang salah satu anak Indonesia yang berbakat di negara Amerika Serikat yang bernama Erica Kaunang.

Pada tahun 2014 yang lalu, gadis cilik berdarah Kawanua asal Indonesia kembali menunjukkan kelasnya, karena masuk deretan siswa paling pintar di New York, Amerika Serikat. Pada sebuah acara yang bertajuk National Junior Society Induction Ceremony, namanya kembali menggema di seantero ruangan sebagai salah satu dari sedikit anak-anak yang dianggap dan diyakini sebagai siswa genius pada penerima award bergengsi di dunia pendidikan Amerika.

Di awal tahun 2014, penghargaan yang diterima Erica tentu akan menjadi kebanggaan bagi orang tua dan warga Indonesia lainnya yang tinggal di Amerika. Untuk yang ketiga kalinya Erica mendapat penghargaan Gold Honor Roll, setelah pada tahun 2012 dan 2013, ia juga memperolehnya secara penuh. Hanya saja, acara penghargaan Gold Honor Roll tahun 2014 yang lalu terbilang lebih istimewa oleh karena dirayakan secara besar-besaran di salah satu state di Negeri Paman Sam itu. Tamu yang hadir pun tidak hanya dari kalangan akademisi, namun juga para politisi dan penguasa setempat. Sebut saja di antaranya ada Senator asal NYC, Mr. Joseph P, Addobbo Jr, kemudian ada juga NYC Councilwoman, Elizabeth Crowley, Principal Dr. Jeanne Fagan bersama wakilnya, Mr. Frederick Baumann. Dari pihak NJHS (National Junior Honor Society Advisor) hadir pula  Mrs. Kim. Puterbaugh, kemudian ada PIA President, Mrs. Christina De Simone. Mewakili Community School District 24 Superintendent Madelin Taub-Chan. Banyak juga politisi lokal lainnya turut hadir untuk memberikan apresiasi terhadap anak-anak pintar ini.

Dalam acara pemberian Award tersebut, ada 49 siswa dari Gifted and Talented Class (sebuah kelas khusus anak-anak genius dan berprestasi) yang menerima penghargaan. Salah satu dari beberapa penerima penghargaan tersebut adalah Erica Kaunang. Gadis cilik putri tercinta dari pasangan Joutje Kaunang dan Eva Purba (pasangan Manado – Batak) ini memang adalah anak yang sangat pintar dan berprestasi. Menurut sang ayah, Joutje, bahwa penerima award ini memanglah hanya dikhususkan kepada mereka yang memiliki nilai report card di atas 90%. Dan Erica sendiri mendulang hasil, yang menurut pendapat saya amat fantastis yaitu 99.93% atau hampir sempurna (nilai sempurna adalah 100%).

Ke-49 penerima penghargaan ini datang dari kelas yang memang sudah terpilih, yaitu berjumlah 300 orang yang dipilih dari seluruh Amerika Serikat. Mereka adalah siswa-siswa jenius yang dipilih dan diseleksi secara ketat untuk masuk dalam kelompok Gifted and Talented. Ini adalah sebuah peghargaan tertinggi di dunia pendidikan New York City.

“Torang (kami) orang tua merasa terharu ketika nama anak kami disebutkan oleh Senator New York ketika membawakan pidatonya”, demikian komentar Joutje Kaunang. Ketika nama Erica dipanggil, gemuruh tepuk tangan para hadirin yang memenuhi ruangan itu sontak terdengar. Mereka sangat mengapresiasi anak-anak yang hebat dalam dunia pendidikan itu.


Erica (pertama dari sebelah kiri)

Dalam sambutannya, Principal Kim mengatakan bahwa tidak mudah untuk terpilih mendapatkan penghargaan dari National Junior Honor Society. Karena apa? Karena untuk mendapatkan nilai seperti itu tidaklah mudah. Dari 300 siswa terpilih dan diyakini sangat pintar itu maka dipilihlah 49 penerima penghargaannya, yaitu mereka-mereka yang memiliki nilai di atas 90%.

Dan yang lebih membanggakan lagi, dari 49 siswa itu ternyata ada 29 siswa yang dianggap terpintar, yaitu mereka yang memiliki nilai di atas 99% (atau hampir 100%). Erica adalah salah satu dari 29 siswa tersebut dengan nilai 99.93%. Ini tentu menuntut kerja keras dan usaha maksimal dari seorang Erica. Tidak hanya tatkala hendak memperolehnya, namun juga untuk mempertahankan apa yang sudah diperolehnya itu. Mungkin sekali, tidak ada lagi waktu untuk bermain-main layaknya anak sebaya dia. Waktunya digunakan hanya untuk belajar, dan terus belajar.

Erica memang adalah seorang gadis cilik yang amat berbakat. Ia memang tak pernah berhenti belajar, tidak pula ia terlena dengan apa yang sudah dicapainya. Ia tidak hanya sudah pernah mendapat tugas menulis surat ke Presiden Amerika, dan akhirnya mendapat balasan jawaban dari Sang Presiden. Ia pun pernah diwawancarai Majalah Forbes, hal mana sesuatu yang sangat langka diperoleh. Untuk masuk Majalah sekaliber Forbes tentu tidak mudah. Bulan ini juga, sosoknya akan masuk menghias Majalah Infosulut, sebuah majalah ternama dan bergengsi di Sulawesi Utara.

Ia adalah contoh anak muda belia berprestasi. Anak yang mengejar mimpi setinggi langit. Yang berusaha mendapatkan apa yang ia selalu mimpikan dan impikan, dan yang tidak pernah kalah sebelum berperang. Bagi Erica, sekali layar terkembang maka sangat pantang untuk diturunkan kembali. Sekali bertekad untuk maju, jangan pernah berpaling ke belakang. Kuncinya adalah belajar dan teruslah belajar, sebab tanpa itu, acap kali kegagalanlah yang menunggu kita di ujung jalan.

Pada dasarnya bakat adalah sesuatu yang amat ideal apabila kita dapat memberikan pendidikan yang benar-benar sesuai dengan peserta didik kita. Masalah bakat adalah masalah yang sama tuanya dengan manusia itu sendiri. Semenjak dahulu, orang sudah berusaha membahas masalah bakat ini. Urgensinya masih tetap aktual sampai saat ini, meski dari kacamata ilmu pegetahuan hasilnya masih jauh dari memuaskan. Urgensi dalam mengaplikasikan bakat tidak hanya terbatas pada bidang pendidikan saja, melainkan juga dalam hal pemilihan lapangan kerja (Suryabrata, 1995).

Pengaturan diri tingkah laku (self-regulation of behavior) mencakup berbagai bidang, diantaranya pengaturan diri dalam belajar di sekolah (self-regulated academic learning, selanjutnya disebut self-regulated learning dan disingkat menjadi SRL). Uraian selanjutnya akan dikemukakan tentang SRL dan perannya dalam mengatur belajar sehingga tercapainya tujuan yaitu adanya peningkatan prestasi akademik.

Pintrich dan de Groot (1990) menjelaskan bahwa terdapat beberapa macam definisi SRL. Namun, dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan tiga komponen penting yang berkaitan dengan kegiatan belajar di kelas. Ketiga komponen tersebut sebagai berikut:
1)      Strategi metakognisi siswa untuk merencanakan, memantau, dan memodifikasi kognisi mereka (Brown, Branford, Campione&Ferrara, 1983; Corno, 1986; Zimmerman, Pons, 1986, 1988 dalam Pintrich&de Groot, 1990).
2)      Cara siswa mengelola dan mengontrol usaha mereka dalam tugas-tugas akademik. Contoh siswa yang mampu menekuni atau tidak menyerah pada tugas-tugas yang sukar atau mampu menghindari gangguan-gangguan, akan dapat mempertahankan dorongan untuk menyelesaikan tugas-tugas sehingga memungkinkan mereka berprestasi lebih baik (Corno, 1986; Corno&Rohr Kemper, 1985 dalam Pintrich&de Groot, 1990).
3)      Aspek SRL yang sangat penting yang diajukan para peneliti dalam konseptualisasi mereka adalah strategi kognisi yang secara nyata digunakan siswa untuk belajar, mengingat, dan memahami materi bidang studi (Corno&Mandinech, 1983; Zimmerma&Pons, 1986, 1988 dalam Pintrich&de Groot, 1990). Strategi kognisi yang lebih baik yang digunakan siswa seperti mengulang, mengolaborasi, dan mengorganisasikan materi bidang studi ternyata membantu mendorong kegiatan kognisi dan menghasilkan prestasi yang lebih tinggi dalam belajar (Weinsten&Mayer, 1986 dalam Pintrich&de Groot, 1990).
Kegiatan komponen SRL tersebut digunakan sebagai definisi kerja dalam penelitiannya.

Dari ulasan teori di atas, dapat disimpulkan bahwa Erica memiliki pengaturan diri yang baik dalam belajar dan mengasah bakat/kemampuan yang dimilikinya. Oleh sebab itu, mari kita mengasah kemampuan kita masing-masing. Semangat!.


Sumber:

- Basuki, H.2005.Kreatifitas, Keberbakatan, Intelektual, dan Faktor-Faktor Pendukung dalam Pengembangannya.Jakarta: Gunadarma.