Kamis, 19 Maret 2015

Minimnya Mutu Pendidikan di Indonesia

            Sebenarnya saya cukup prihatin dengan keadaan pendidikan di Indonesia yang masih belum merata dirasakan oleh anak-anak Indonesia, terutama pada anak-anak yang tinggal di daerah terpencil. Di lain sisi pasti banyak harapan untuk menganyam pendidikan yang layak dari tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi, namun banyak juga yang tidak dapat mewujudkan harapan tersebut. Meskipun jumlah institusi pendidikan dasar dan menengah terus meningkat sejak zaman kemerdekaan. Namun sangat disayangkan, masih banyak sekolah di Indonesia yang tidak memenuhi standar minimal pendidikan. Selain itu juga mutu pendidikan di Indonesia masih jauh dari harapan, lalu mutu guru-guru di Indonesia kurang mendapat perhatian dari pemerintah, sarana dan prasarana yang kurang dipenuhi, dan masalah lainnya.
                Selain itu, saya juga cukup prihatian dengan pendidikan yang tujuannya sebenarnya adalah untuk membentuk pribadi anak-anak bangsa untuk memiliki moral dan sikap yang baik, menjadikan anak-anak yang baik yang dapat beradaptasi dengan adanya globalisasi yang kian meningkat, dan tentunya membantu mewujudkan cita-cita anak dan menjadikan bangsa yang berkualitas. Namun jika saya bahkan anda yang melihat berita-berita dan tayangan di televisi, sudah banyak anak dan usia remaja yang melakukan hal-hal yang tidak seharusnya mereka lakukan. Seperti terjerumus dalam pergaulan bebas, pornografi, lalu melakukan tindakan kriminal, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, dan banyak anak di bawah umur yang sudah mencari nafkah hanya karena untuk menyambung hidupnya.
                Sudah dituliskan dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945 dalam pasal 31 ayat (1), mengatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Dan pasal 31 ayat (2), bahwa setiap warga negara wajib mengkuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Begitu pun dengan adanya Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia yang menegaskan jaminan hak atas pendidikan. Pasal 60 Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, menjelaskan bahwa memperkuat dan memberikan perhatian khusus pada hak anak untuk memperoleh pendidikan sesuai minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya. Penegasan serupa tentang hak warga negara atas pendidikan juga tercantum dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Lalu pada pasal 53 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menegaskan bahwa negara dalam hal ini memiliki tanggung jawab memberikan biaya pendidikan dan/atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus bagi anak dari keluarga tidak mampu, anak terlantar, dan anak yang bertempat tinggal di daerah terpencil.
                Mungkin pemerintah juga tidak dapat bergerak sendirian untuk memecahkan masalah-masalah tersebut, tapi kita sebagai kawula muda juga sudah sepatutnya bergerak untuk membantu memecahkan masalah-masalah tersebut. Mungkin dengan mengadakan perpustakaan keliling untuk menambah minat baca anak-anak agar semakin ‘penasaran’ dengan wawasan yang masih sangat luas untuk diketahui, lalu mengadakan penyuluhan atau motivasi ke sekolah-sekolah baik itu sekolah dasar, menengah, ataupun tingkat sekolah atas.
                Dan harapan saya sendiri sejujurnya ingin sekali memiliki sekolah di daerah terpencil dengan tujuan agar anak-anak daerah dapat mengenyam pendidikan secara layak dan tahu akan perkembangan zaman yang semakin pesat. Selain itu, saya ingin memiliki rumah baca untuk anak-anak di daerah, dan juga saya ingin mengurangi angka buta aksara di Indonesia. Saya harap tidak hanya saya sendiri yang memiliki harapan seperti ini, tetapi juga para kawula muda lainnya agar kita dapat bergerak bersama untuk mewujudkan Indonesia dengan bangsa yang berkualitas baik. Aamiin...




Sumber:



Rabu, 18 Maret 2015

PERSEPSI

Berikut ini merupakan bagan dari proses sensasi-persepsi pada manusia:

Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi menurut Walgito (2004: 89-90):
1.       Faktor Internal:
    Alat indera, syaraf dan penysusunannya: Alat indera (reseptor) berfungsi untuk menerima stimulus atau rangsangan dari luar. Sedangkan syaraf sensori berperan dalam meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat syaraf, yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Supaya terjadinya respon diperlukan syaraf motorik.
    Perhatian: Perhatian merupakan tahap pertama sebagai persiapan mengadakan persepsi. Perhatian adalah pemusatan atau pengonsentrasian seluruh aktivitas individu pada satu atau sekelompok objek.
2.       Faktor Eksternal:
    Objek yang dipersepsi: Persepsi mengandaikan adanya objek yang dipersepsi. Suatu objek dapat menimbulkan stimulus yang memicu atau merangsang alat indera atau reseptor. Sebagian stimulus itu datang dari luar dan ada juga stimulus yang datang dari dalam individu yang memersepsi.
    Nilai-nilai dan kebutuhan individu: Salah satu faktor ini sangat mempengaruhi proses persepsi. Seorang seniman akan berbeda dalam pengamatan dibandingkan dengan orang yang bukan seniman. Penelitian menunjukkan pengamatan bahwa anak-anak dari golongan kurang mampu melihat koin (mata uang logam) lebih besar daripada anak-anak orang berada.

Berikut merupakan proses sensasi-persepsi:
1.       Stimulus, ada stimulus yang disadari dan tidak disadari. Walaupun perhatian individu cukup besar, tetapi bila stimulusnya tidak cukup kuat maka stimulus itu tidak dapat disadari dan karenanya tidak dapat dipersepsi oleh individu bersangkutan. Itu berarti stimulus harus memiliki batas kekuatan minimal (ambang stimulus) agar dapat menimbulkan kesadaran di pihak individu.
2.       Proses Transduktif adalah proses memunculkan energi fisik ke dalam aktivitas sistem syaraf. Transduktif terjadi dalam reseptor, yaitu sel-sel yang dikhusukan untuk mengubah secara paling efektif satu jenis energi. Umumnya selama proses transduktif, sel reseptor mengeluarkan energi fisik ke dalam suatu potensi atau voltasi listrik yang disebut Reseptor Potensial.
3.       Primary Area (Brain), korteks otak besar ini terhubung dengan bermacam struktur seperti talamus dan ganglia dasar guna pengiriman informasi melalui lintasan eferen dan aferen. Informasi dari indera diterima melalui talamus, sedangkan informasi olfactory akan melalui olfactory bulb menuju korteks olfactory. Korteks otak besar terbagi menjadi tiga area yaitu indera, gerakan, dan asosiasi.
4.       Association Area (Brain) adalah area pada korteks otak besar yang berfungsi untuk merekam pengalaman persepsi agar manusia dapat lebih efisien dalam melakukan interaksi dengan lingkungan di sekitarnya. Area ini juga berfungsi sebagai abstraksi dari pemikiran dan bahasa.
5.       Personalized Perception (Persepsi Pribadi), menurut Walgito (1993): Persepsi seseorang merupakan proses aktif yang memegang peranan, bukan hanya stimulus yang mengenainya tetapi juga individu sebagai satu kesatuan dengan pengalaman-pengalamannya, motivasi, serta sikap yang relevan dalam menanggapi stimulus.


Minggu, 15 Maret 2015

Berbakat itu Karena Diasah

Hai para bloggers, hari ini hari Minggu. Meskipun hari Minggu adalah hari libur, berhenti bermalas-malasan. Ayo kita cari kegiatan positif yang bermanfaat! Nah untuk tulis-menulis kali ini, saya akan menuliskan bakat yang sering terasah dan cukup menghasilkan prestasi.

Subjek yang saya pilih kali ini adalah adik sepupu saya sendiri yang bernama Ilham Riyadi, siswa kelas XI dari salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di wilayah Jakarta Selatan. Mungkin sewaktu dia kecil, saya belum terlalu melihat kira-kira apa sih bakat anak yang satu ini. Namun lama-kelamaan, semakin dia dewasa saya selalu mendengar curahan hati dari ibunya bahwa dia itu sering sekali keluar bersama teman-temannya setelah pulang sekolah untuk bermain sepak bola atau futsal. Kadang saya berpikir, “Kenapa sih harus sering pulang malam gara-gara main bola gitu? Memangnya gak capek sama rutinitas sekolah yang tugasnya aja bikin pusing?”. Tapi ternyata saya salah, adik saya ini sudah membuktikan bahwa selama ini dia itu mengasah dan semakin mengasah kemampuannya atas kegiatan yang dia senangi. Presetasinya di beberapa turnamen sudah menjadi bukti bahwa dia berbakat dalam hal tersebut, ya meskipun dalam turnamen sudah dipastikan dia bermain bersama timnya.


Nah di atas ituadalah salah satu foto yang diambil setelah turnamen di SMAN 65 Jakarta. Tim dari SMAN 90 Jakarta mendapatkan juara 1 pada tahun 2014.

Sekian tulisan saya untuk kali ini. Saya harap kita semua (kawula muda) dapat semakin mengasah dan menggali bakat yang kita miliki sebenarnya. Have a nice weekend, Pals!




Rabu, 11 Maret 2015

Apakah Bakat Dan Pengalamannya Penting?

                  Selamat malam penikmat huruf di blog...
             Kali ini saya akan berbagi tulisan mengenai pentingnya dan pengalaman bakat pada setiap individu. Kira-kira apakah kalian sudah tahu atau bahkan sudah menyalurkan bakat apa yang kalian miliki sejak kecil?

          Sadar atau tidak, setiap orang memiliki bakat dan potensinya masing-masing. Meskipun terkadang diri kita sendiri masih suka bingung akan bakat yang kita miliki. Jadi, arti bakat yang sebenarnya adalah talenta, kepandaian, anugerah yang dibawa sejak lahir. Misalnya bakat dalam bernyanyi, melukis, dan bakat lainnya.

         Bakat bukanlah sifat tunggal, melainkan sifat tunggal yang secara bertingkat membentuk bakat. Bakat baru muncul bila ada kesempatan untuk berkembang atau dikembangkan. Sehingga, mungkin saja seseorang tidak mengetahui dan tidak tahu bagaimana cara mengembangkan bakatnya sehingga tetap merupakan kemampuan yang laten (terpendam atau tak terlihat). Bakat akan sulit berkembang dengan baik apabila tidak diawali dengan adanya minat pada bidang yang akan ditekuni. Untuk itu, guru, orang tua, pembimbing perlu mengenal bakat anak-anaknya sehingga dapat memberikan pendidikan, pelatihan, dan menyediakan pengalaman sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.

                  Menurut Crow&Crow (1989), bakat dapat dianggap sebagai kualitas yang dimiliki oleh semua orang dalam tingkat yang beragam. Bakat juga dapat dianggap sebagai keunggulan khusus dalam bidang perilaku tertentu, seperti musik, matematika, atau olahraga. Cattel (dalam Crow&Crow, 1989), mencoba menemukan perbedaan-perbedaan diantara individu dalam bidang-bidang seperti di bawah ini, yang berhubungan dengan ketajaman sensoris (indera), kekuatan otot dibandingkan dengan kemampuan mental lainnya yang lebih kompleks:
1.  Kekuatan menggenggam atau memegang
2.  Kecepatan gerkan lengan
3. Dua ambang mata pada belakang tangan
4. Jumlah tekanan yang diperlukan, yang mengakibatkan rasa sakit pada dahi
5. Perbedaan berat yang tidak begitu kentara
6. Waktu dalam bereaksi terhadap bunyi
7. Waktu yang dibutuhkan dalam menyebutkan sepuluh warna
8. Membagi garis menjadi dua yang masing-masing panjangnya 50cm
9. Kemampuan untuk mereproduksi selama jangka waktu 10 detik dengan ketukan, setelah itu subjek diminta untuk mengingatnya
10. Saat mengingat huruf-huruf yang berhubungan dengan pendengaran.

             Memperkenalkan anak pada berbagai hal menjadi salah satu cara untuk mengetahui minat, bakat, dan kemampuan anak. Orang tua perlu memperhatikan pada bidang apa anak menjadi tertarik, antusias, dan begitu senang saat diajak melakukan suatu kegiatan. Berikut beberapa cara menemukan bakat seorang anak:
1.   Stimulasi
 Anak melakukan beragam aktivitas baik di dalam atau pun di luar rumah. Ragam aktivitas tersebut seperti menyanyi, menggambar, menulis, berkebun, membersihkan rumah, berenang, dan aktivitas lainnya.
2.   Eksplorasi
 Motivasi anak untuk mengeksplorasi aktivitas yang disukainya. Bila anak sudah merasa puas dengan aktivitas, beri tantangan baru yang lebih sulit agar anak menguasai aktivitas tersebut.
3.  Amati
 Amati aktivitas anak secara langsung atau mintalah anak menceritakan aktivitasnya mulai pertama kali terlibat dalam aktivitas tersebut, perilaku anak selama beraktivitas, sampai komentar anak mengenai hasil yang didapatkannya.
4.   Reward
 Apresiasi ketekunan anak agar anak terus mengeksplorasi bakatnya.

                        Saya rasa cukup sekian sharing tentang bakatnya. Jadi intinya, bakat itu sangat penting untuk diketahui terutama untuk para orang tua yang masih belum tahu kira-kira bakat apa sih yang dimiliki seorang anak? Nah, untuk para orang tua yang masih bingung mungkin dapat mengikuti sedikit tips yang saya tulis di atas. Selamat malam...



Sumber Referensi:
http://blog.temantakita.com/menemukan-bakat-anak/

Selasa, 30 Desember 2014

Resensi Novel Angkatan '66


Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma








Judul Buku : Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma
No. ISBN : 9794072184
Penulis : Idrus
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun Terbit : 1990
Jumlah Halaman : 172 Halaman
Tebal Buku : 21 cm
Kategori : Jurnal Sastra
Bahasa : Indonesia

PENGENALAN
            Abdullah Idrus (lahir di Padang, Sumatera Barat, 21 September 1921 – meninggal di Padang, Sumatera Barat, 18 Mei 1979 pada umur 57 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia. Ia menikah dengan Ratna Suri pada tahun 1946. Mereka dikaruniai enam orang anak, empat putra dan dua putri, yaitu Prof. Dr. Ir. Nirwan Idrus, Slamet Riyadi Idrus, Rizal Idrus, Damayanti Idrus, Lanita Idrus, dan Taufik Idrus.
          Perkenalan Idrus dengan dunia sastra sudah dimulainya sejak duduk di bangku sekolah, terutama ketika di bangku sekolah menengah. Ia sangat rajin membaca karya-karya roman dan novel Eropa yang dijumpainya di perpustakaan sekolah. Ia pun sudah menghasilkan cerpen pada masa itu.
          Minatnya pada dunia sastra mendorongnya untuk memilih Balai Pustaka sebagai tempatnya bekerja. Ia berharap dapat menyalurkan minat sastranya di tempat tersebut, membaca dan mendalami karya-karya sastra yang tersedia di sana dan berkenalan dengan para sastrawan terkenal. Keinginannya itu pun terwujud, ia berkenalan denganH.B. Jassin, Sutan Takdir Alisyahbana, Noer Sutan Iskandar, Anas Makruf, dan lain-lain.
          Meskipun menolak digolongkan sebagai sastrawan angkatan ’45, ia tidak dapat memungkiri bahwa sebagian besar karyanya memang membicarakan persoalan-persoalan pada masa itu. Kekhasan gayanya dalam menulis pada masa itu membuatnya memperoleh tempat terhormat dalam dunia satra, sebagai Pelopor Angkatan ’45 di bidang prosa, yang dikukuhkan H.B.Jassin dalam bukunya.
          Hasratnya yang besar terhadap sastra membuatnya tidak hanya menulis karya sastra, tetapi juga menulis karya-karya ilmiah yang berkena dengan sastra seperti Teknik Mengarang Cerpen dan Internasional Understanding Through the Study of Foreign Literature.

SINOPSIS
          Novel ini berisi sekumpulan cerita yang tidak saling berhubungan tetapi memiliki setting yang sama, yaitu masa perjuangan Indonesia yang berkisar sekitar pendudukan Jepang sampai kedatangan Sekutu. Berikut beberapa judul yang ditulis oleh Idrus, yaitu Ave Maria, Kejahatan Membalas Dendam, Kota Harmoni, Jawa Baru, Pasar Malam Jaman Jepang, Sanyo, Fujinkai, Oh..oh..oh..!, Heiho, Kisah Celana Pendek, Surabaya, dan Jalan Lain ke Roma. Dari sekian banyak kisah yang ditulis oleh Idrus dalam novel ini ada salah satu judul yang menarik perhatian kami. Dalam kisah tersebut Idrus mengisahkan seorang jurnalis bernama Ishak yang memiliki pemikiran berbeda dari jurnalis lainnya. Ishak merupakan sosok orang yang cukup konsisten dan tidak menyerah dalam mempertahankan idealisme dan menggapai cita-citanya. Dia rela meninggalkan tunangannya yang bernama Satilawati dan dia dianggap sebagai seorang pengecut. Disamping itu Pak Sukroso (ayah Satilawati) tidak menyukai hubungan mereka. Beliau membenci Ishak dan menganggap bahwa Ishak tidak berbakat menjadi seorang pengarang atau jurnalis. Sebenarnya Satilawati sangat mencintai Ishak yang apa adanya. Meskipun hubungannya ditentang oleh ayahnya, Satilawati tetap mengharapkan Ishak kembali. Hingga pada suatu hari, Pak Sukroso meminta bantuan bibinya seorang perempuan paruh baya yang datang dari Cianjur. Perempuan paruh baya tersebut adalah seorang dukun masyhur dalam menceraikan orang. Namun, perempuan paruh baya itu menolak untuk memisahkan Satilawati dari Ishak, karena ia tau cucunya (Satilawati) sangat mencintai Ishak.

Keunggulan:
          Kisah dalam novel ini sangat imajinatif dan tergambarkan dengan jelas sehingga kita dapat merasakan suasana yang dijabarkan Idrus. Cerita dalam novel ini sangat berjiwa nasionalis dan penuh makna. Begitu banyak pelajaran hidup yang dapat kita peroleh. Ketika kita membaca novel ini, kita akan merasa seolah-olah kita sedang mengalami perjalanan pada masa pemerintahan Jepang dan Sekutu masih berkuasa di Indonesia. Selain itu, sampul novel ini sangat menarik perhatian sehingga tertantang untuk membacanya.

Kekurangan:
          Bahasanya yang cukup sulit dipahami karena menggunakan bahasa Melayu dan baku sehingga kami para generasi zaman sekarang sedikit kesulitan memahami cerita yang ada dalam novel ini. 


Kelompok:
1. Eka Wahyuningtyas (13514444)
2. Putri Elena Safitri (18514594)
3. Saras Zettira Pratiwi (1A514046)
4. Windy Noviyanty (1C514282)


Referensi

http://id.wikipedia.org/wiki/Idrus 

Rabu, 26 November 2014

Yang Munafik


Setapak demi setapak

Ku telusuri jalanan di ibu kota

Bising memang, itulah kota

Ku temui seorang gadis kecil yang lugu

Ya, nafasnya ada di kota, katanya

Bukunya terabaikan

Recehannya dielukan

Hati ini banyak bertanya

Dimana janji para dasi emas itu?!

Hanya banyak bicara

Tak banyak bertindak

Butakah mereka selama ini?

Saat segala kenikmatan mereka nikmati

Sadarkah mereka akan ketamakan?

Saat dunia seakan kelam, bagi mereka yang tersisihkan.

About Heroin

WHAT IS IT?



HEROIN
            Heroin is a highly addictive, illegal drug. It is used by millions of addicts around the world who are unable to overcome the urge to continue taking this drug every day of their lives—knowing that if they stop, they will face the horror of withdrawal. Heroin (like opium and morphine) is made from the resin of poppy plants. Milky, sap-like opium is first removed from the pod of the poppy flower. This opium is refined to make morphine, then further refined into different forms of heroin. Most heroin is injected, creating additional risks for the user, who faces the danger of AIDS or other infection on top of the pain of addiction.

THE ORIGINS OF HEROIN
          Heroin was first manufactured in 1898 by the Bayer pharmaceutical company of Germany and marketed as a treatment for tuberculosis as well as a remedy for morphine addiction.
A VICIOUS CIRCLE
                During the 1850s, opium addiction was a major problem in the United States. The “solution” was to provide opium addicts with a less potent and supposedly “non-addictive” substitute—morphine. Morphine addiction soon became a bigger problem than opium addiction. As with opium, the morphine problem was solved by another “non-addictive” substitute—heroin, which proved to be even more addictive than morphine. With the heroin problem came yet another “non-addictive” substitute—the drug now known as methadone.
            First developed in 1937 by German scientists searching for a surgical painkiller, it was exported to the US and given the trade name “Dolophine” in 1947. Renamed methadone, the drug was soon being widely used as a treatment for heroin addiction. Unfortunately, it proved to be even more addictive than heroin. By the late 1990s, the mortality rate of heroin addicts was estimated to be as high as twenty times greater than the rest of the population.

WHAT DOES HEROIN LOOK LIKE?
            In its purest form, heroin is a fine white powder. But more often, it is found to be rose gray, brown or black in color. The coloring comes from additives which have been used to dilute it, which can include sugar, caffeine or other substances. Street heroin is sometimes “cut” with strychnine (a stimulant used for rat poison which induces violent convulsions and is deadly) or other poisons. The various additives do not fully dissolve, and when they are injected into the body, can clog the blood vessels that lead to the lungs, kidneys or brain. This itself can lead to infection or destruction of vital organs. The user buying heroin on the street never knows the actual strength of the drug in that particular packet. Thus, users are constantly at risk of an overdose.
                Heroin can be injected, smoked or sniffed. The first time it is used, the drug creates a sensation of being high. A person can feel extroverted, able to communicate easily with others and may experience a sensation of heightened sexual performance—but not for long. Heroin is highly addictive and withdrawal extremely painful. The drug quickly breaks down the immune system, finally leaving one sickly, extremely thin and bony and, ultimately, dead.

HOW IS IT USED?
            Heroin can be used in a variety of ways, depending on user preference and the purity of the drug. Heroin can be injected into a vein (“mainlining”), injected into a muscle, placed on tinfoil and inhaled as smoke through a straw or snorted as powder via the nose.

WHAT ARE THE STREET NAMES OR SLANG TERMS?
·        Big H
·        Black Tar
·        Brown Sugar
·        Dope
·        Horse
·        Junk
·        Skag
·        Smack
·        China White

IMMEDIATE EFFECTS
          Depending on how heroin is taken, the effects may be felt within 7-8 seconds (injecting) or within 10–15 minutes (snorting or smoking). The effects of heroin can last for approximately 3–5 hours.
          The initial effects of heroin include a surge of sensation—a “rush”. This is often accompanied by a warm feeling of the skin and a dry mouth. Sometimes, the initial reaction can include vomiting or severe itching. After these initial effects fade, the user becomes drowsy for several hours. The basic body functions such as breathing and heartbeat slow down. Within hours after the drug effects have decreased, the addict’s body begins to crave more. If he does not get another fix, he will begin to experience withdrawal. Withdrawal includes the extreme physical and mental symptoms which are experienced if the body is not supplied again with the next dose of heroin. Withdrawal symptoms include restlessness, aches and pains in the bones, diarrhea, vomiting and severe discomfort. The intense high a user seeks lasts only a few minutes. With continued use, he needs increasing amounts of the drug just to feel “normal.”

SHORT-TERM EFFECTS
Some of the effects that may be experienced after taking heroin include:
·        Feelings of intense pleasure
·        Strong feelings of wellbeing
·        Confusion
·        Lowered cough reflex
·        Pain relief
·        Reduced sexual urges
·        Drowsiness
·        Slurred and slow speech
·        Reduced coordination
·        Constricted pupils
·        Dry mouth
·        Slow breathing rate
·        Decreased heart rate and blood pressure
·        Nausea and vomiting
·        Reduced appetite
·        Hypothermia (body temperature lower than normal)
·        Coma or death (due to overdose)


LONG-TERM EFFECTS OF HEROIN
                The effects on the body from continued use of this drug are very destructive. Frequent injections can cause collapsed veins and can lead to infections of the blood vessels and heart valves. Tuberculosis can result from the general poor condition of the body. Arthritis is another long-term result of heroin addiction. The addict lifestyle—where heroin users often share their needles—leads to AIDS and other contagious infections. It is estimated that of the 35,000 new hepatitis C2 (liver disease) infections each year in the United States, over 70% are from drug users who use needles. Some of the effects that may be experienced after taking heroin include:
  • Bad teeth
  • Inflammation of the gums
  • Constipation
  • Cold sweats
  • Itching
  • Weakening of the immune system
  • Coma
  • Respiratory (breathing) illnesses
  • Muscular weakness, partial paralysis
  • Reduced sexual capacity and long-term impotence in men
  • Menstrual disturbance in women
  • Inability to achieve orgasm (women and men)
  • Loss of memory and intellectual performance
  • Introversion
  • Depression
  • Pustules on the face
  • Loss of appetite
  • Insomnia
  • Repeated snorting damages the nasal lining
  • Frequent injecting in the same place can cause inflammation, abscesses, vein damage and scarring
  • Injecting can also result in skin, heart and lung infections
  • The impurities and additives in heroin, if injected can also damage veins. This can also cause thrombosis
  • Death