Jumat, 14 November 2014

FAKTOR-FAKTOR GENETIK YANG MEMPENGARUHI INTELIGENSI

A.     Heretability (Hereditas)
            Secara biologis, individu berkembang dari dua sel benih yaitu sel telur (ovum) yang ada pada ibu dan sel sperma yang berasal dari ayah dan akan membuahi sel telur. Sperma dan sel telur masing-masing berisi 23 kromosom, yaitu struktur yang berisi faktor-faktor herediter. Di dalam setiap kromosom terdapat struktur yang lebih kecil lagi yang disebut gen. Gen inilah yang sesungguhnya menjadi penentu sifat-sifat unik yang akan diturunkan termasuk inteligensi.
            Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQ-nya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 – 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 – 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.
B.      Brain (Otak)
Penelitian dengan teknik neuroimaging membuktikan bahwa volume otak berkorelasi dengan IQ. Bukti ini didapat dengan mengukur ukuran helm tentara AS yang sedang mengikuti training dan dibandingkan dengan IQ-nya. Walaupun demikian korelasi tersebut cukup kecil. Manusia memiliki otak yang struktur dan fungsinya merupakan cetak biru (blueprint) genetik. Di dalam cetak biru genetik inilah dikodekan juga kemampuan sel-sel otak tersebut untuk melakukan penggabungan bersama dalam membentuk ikatan antarsel dan rangkaian fase di dalam keadaan tertentu. Dengan demikian, kita memiliki kemampuan membentuk ikatan antar sel sejak dilahirkan.
Jadi seseorang secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut inteligensi yang bersumber dari otaknya. Struktur otak telah ditentukan secara genetis, namun berfungsinya otak tersebut menjadi kemampuan umum yang disebut inteligensi (Semiawan, C, 1997). Pada kala bayi lahir ia telah dimodali 100 – 200 milyar sel otak dan siap memproseskan beberapa trilyun informasi. Cara pengelolaan inteligensi sangat mempengaruhi kualitas manusianya, tetapi sayang perlakuan lingkungan dalam caranya tidak selalu menguntungkan perkembangan inteligensi yang berpangaruh terhadap kepribadian dan kualitas kehidupan manusia. Ternyata dari berbagai penelitian bahwa pada umumnya hanya kurang lebih 5% neuron otak berfungsi penuh (Clark, 1986).
            Sebagaimana penjelasan di atas, maka cara penggunaan sistem kompleks dari proses pengelolaan otak ini sebenarnya sangat menentukan inteligensi maupun kepribadian dan kualitas kehidupan yang dialami seorang manusia, serta kualitas manusia itu sendiri. Untuk meningkatkan kecerdasan anak maka produksi sel neuroglial, yaitu sel khusus yang mengelilingi sel neuron yang merupakan unit dasar otak, dapat ditingkatkan melalui berbagai stimulus yang menambah aktivitas antara sel neuron (synaptic activity), dan memungkinkan akselerasi proses berfikir (Thompsn, Berger, dan Berry, 1980 dalam Clark, 1986). Dengan demikian inteligensi manusia dapat ditingkatkan, meskipun dalam batas-batas tipe inteligensinya. Secara biokimia neuron-neuron tersebut menjadi lebih kaya dengan memungkinkan berkembangnya pola pikir kompleks. Juga banyak digunakan berkembangnya aktivitas “Prefrontal Cortex” otak, sehingga terjadi perencanaan masa depan, berfikir berdasarkan pemahaman dan pengalaman intuitif, Prefrontal Cortex yang terutama tumbuh ketika anak berumur duabelas sampai enambelas tahun. Mencakup juga kemampuan melihat perubahan pola ekstrapolasi kecendrungan hari ini ke masa depan; regulasi diri serta strategi “biofeedback” dan meditasi; berfikir sistem analisis; yang merupakan aspek-aspek bentuk tertinggi kreativitas serta memiliki kepekaan sosial, emosional maupun rasional (Goodman, 1978, dalam Clark, 1986). Sifat-sifat manusia ini banyak terkait dengan sifat-sifat inisiatif dan dorongan mencapai kemandirian dan keunggulan.
            Otak dewasa manusia tidak lebih dari 1,5 kg, namun otak tersebut adalah pusat berfikir, perilaku serta emosi manusia mencerminkan seluruh dirinya (selfhood), kebudayaan, kejiwaan serta bahasa dan ingatannya. Descartes pusat kesadaran orang, ibarat saisnya, sedangkan badan manusia adalah kudanya. Meskipun kemudian ternyata, bahwa perilaku manusia juga dipengaruhi oleh ketidaksadarannya (Freud dalam Zohar, 2000:39), kesadaran manusia yang oleh Freud disebut rasionya merupakan kemampuan umum yang mengontrol seluruh perilaku manusia. Berbagai penelitian kemudian membuktikan bahwa kemampuan rasional tersebut biasa diukur dengan IQ (Intelligence Quetient). Meskipun kini terbukti bahwa orang memiliki lebih dari satu inteligensi menurut teori Gardner ada 8 (teori Multiple Intelligence), ukuran yang disebut IQ mengukur kemampuan umum yang bersifat tunggal masih sering dipakai untuk menandai kemampuan intelektual dan prestasi belajar. Ternyata bahwa otak tersebut masih menyimpan berbagai kemungkinan lain.
“Celebral Cortex” otak dibagi dalam dua belahan otak yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut “Corpus Callosum”. Belahan otak kanan menguasai belahan kiri badan, sedangkan belahan otak kiri menguasai belahan kanan badan. Respon, tugas dan fungsi belahan kiri dan kanan berbeda dalam menghayati berbagai pengalaman belajar, sebagaimana seorang mengalami realitas secara berbeda-beda dan unik. Belahan otak kiri terutama berfungsi untuk merespon terhadap hal yang sifatnya linier, logis, teratur, sedangkan yang kanan untuk mengembangkan kreativitasnya, mengamati keseluruhan secara holistik dan mengembangkan imajinasinya. Dengan demikian ada dua kemungkinan cara berfikir, yaitu cara berfikir logis, linier yang menuntut satu jawaban yang benar dan berfikir imajinatif multidimensional yang memungkinkan lebih dari satu jawaban.

DAFTAR PUSTAKA:
Azwar, Saifuddin. Pengantar Psikologi Inteligensi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002

Mari Cegah Penyakit HIV/AIDS!

   Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain). Virus AIDS menyerang sel darah putih khusus yang disebut dengan T-lymphocytes.
            Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Seseorang yang terkena atau terinfeksi HIV AIDS, sistem kekebalan tubuhnya akan menurun drastis. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
            Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara. Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia. Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak. Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia disana.Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara.
            Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Kadang-kadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).
            Tanda pertama penderita HIV biasanya akan mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh. Setelah kondisi membaik orang yang terinfeksi HIV akan tetap sehat dalam beberapa tahun dan secara perlahan kekebalan tubuhnya akan menurun karena serangan demam yang berulang.
Gejala-gejala penyakit HIV AIDS:
1.      Demam tinggi berkepanjangan
2.      Penderita akan mengalami napas pendek, batuk, nyeri dada dan demam
3.      Hilangnya nafsu makan, mual dan muntah
4.      Mengalami diare yang kronis
5.      Penderita akan kehilangan berat badan tubuh hingga 10% di bawah normal.
6.      Batuk berekepanjangan
7.      Infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan
8.   Pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh (dibawah telinga, leher, ketiak, dan lipatan paha)
9.      Kurang ingatan
10.  Sakit kepala
11.   Sulit berkonsentrasi
12.  Respon anggota gerak melambat
13.  Sering nyeri dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki
14.  Mengalami tensi darah rendah
15.  Reflek tendon yang kurang
16.  Terjadi serangan virus cacar air dan cacar api
17.  Infeksi jaringan kulit rambut
18.  Kulit kering dengan bercak-bercak

Penularan HIV AIDS dapat melalui:
1.      Hubungan seks kelamin
2.      Hubungan seks oral
3.      Hubungan seks melalui anus
4.      Transfusi darah
5.      Penggunaan jarum bersama (akupuntur, jarum tattoo, harum tindik)
6.      Antara ibu dan bayi selama masa hamil, kelahiran dan masa menyusui

Obat-obatan HIV AIDS:
1.  NRTI  (nucleoside atau nucleotide reverse transcriptase inhibitor)
2. NNRTI (non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor)
3. PI (protease inhibitor) Fusion Inhibitor

Cara mencegah HIV AIDS sebagai berikut:
1.  Jangan melakukan hubungan seksual diluar nikah
2. Jangan berganti-ganti pasangan seksual
3.  Abstrinensi (tidak melakukan hubungan seks)
4.  Gunakan kondom, terutama untuk kelompok perilaku resiko tinggi jangan menjadi donor darah
5.   Seorang ibu yang didiagnosa positif HIV sebaiknya jangan hamil.
6.   Penggunaan jarum suntik sebaiknya sekali pakai
7.    Jauhi narkoba.


                    http://penyakithivaids.com/hiv-aids/

Minggu, 09 November 2014

Hak Anak Indonesia untuk Pendidikan yang Layak

Potret Pendidikan di Indonesia
           Saya ucapkan selamat datang kepada pemerintahan baru, yang akan memimpin negara Indonesia selama lima tahun ke depan. Semoga negeri ini semakin maju dengan kinerja pemerintahan yang baru, begitupun masyarakatnya yang semakin berkembang. Setiap individu pasti memiliki harapan baru, terutama untuk perubahan yang lebih baik. Begitupun negeri ini yang membutuhkan perubahan, yang setiap waktunya dapat meningkat dan berkembang aktif. Namun, untuk menuju perkembangan dan peningkatan itulah dibutuhkan generasi yang aktif dan kreatif untuk mewujudkannya. Dan salah satu faktor yang harus diperhatikan adalah pendidikan dan kesehatan.
            Anak-anak Indonesia, baik di pelosok maupun di perkotaan, banyak yang putus sekolah dikarenakan berbagai macam faktor yang menjadi penghambat. Faktor yang menyebabkan putus sekolah seperti keterbatasan dana pendidikan karena kesulitan ekonomi, kurangnya fasilitas pendidikan dan adanya faktor lingkungan. Pada tahun 2012, UNICEF merilis laporan tahunan. Sebanyak 2,3 juta anak usia 7-15 tahun, tidak bersekolah. Di pulau Jawa, dimana terdapat sebagian besar penduduk Indonesia, sebanyak 42% anak putus sekolah. Pemenuhan hak pendidikan tersebut diperoleh secara formal di sekolah dan secara informal melalui keluarga. Khususnya pendidikan formal, tidak semua anak mendapatkan haknya karena kondisi-kondisi yang memungkinkan orang tuanya tidak dapat memenuhinya. Kemiskinan karena tingkat pendidikan orang tua rendah merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan keterlantaran pemenuhan hak anak dalam bidang pendidikan formal, sehingga anak mengalami putus sekolah. Orang tua memiliki peranan dan dasar terhadap keberhasilan perkembangan anak, sedangkan tugas dan tanggung jawab untuk hal tersebut adalah tugas bersama antara orang tua, masyarakat, dan pemerintah serta anak itu sendiri. Secara alami, anak lahir dan dibesarkan dalam keluarga. Sejak lahir, anak sudah dipengaruhi oleh lingkungan yang terdekat, yaitu keluarga. Akibat ketidakmampuan ekonomi keluarga dalam membiayai sekolah, menimbulkan masalah pendidikan seperti maslah anak putus sekolah.

               Dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa, “setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan mendapatkan manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi seni dan budaya, untuk meningkatkan kualitas hidupnya.” Banyak sekali faktor yang menjadi penyebab anak mengalami putus sekolah, diantaranya yang berasal dari dalam diri anak putus sekolah disebabkan karena malas untuk pergi sekolah karena merasa minder, tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, sering dicemoohkan karena tidak mampu membayar kewajiban biaya sekolah.
       Ketidakmampuan ekonomi keluarga dalam menopang biaya pendidikan yang berdampak terhadap masalah psikologi anak sehingga anak tidak dapat bersosialisasi dengan baik dalam pergaulan dengan teman sekolahnya. Selain itu juga karena pengaruh teman, sehingga ikut-ikutan diajak bermain seperti PlayStation sampai akhirnya sering membolos dan tidak naik kelas, prestasi di sekolah menurun, dan malu pergi ke sekolah kembali. Anak yang terkena sanksi karena mangkir sekolah, sehingga terkena Drop Out.
            Pendanaan pendidikan yang menjadi tanggung jawab bersama anatar pemerintah dan masyarakat, sampai saat ini kenyataannya di tanggung oleh orang tua siswa. Akibatnya, sekolah memungut berbagai iuran dan sumbangan kepada orang tua siswa, sehingga pendidikan menjadi mahal dan hanya menyentuh kelompok masyarakat menengah ke atas. Sedangkan kenyataan tersebut berbanding terbalik dengan anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu. Oleh karena itu, langkah pemerintah dengan membebaskan pembiayaan pendidikan kepada orang tua siswa tidaklah tepat. Mereka yang tidak mampu, lebih memilih untuk tidak meneruskan sekolah anaknya dan lebih memprioritaskan untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya sehari-hari.


 Sumber: www.pikiran-rakyat.com/node/289284

Senin, 27 Oktober 2014

Ibu.

Ibu...
Kau sosok berharga yang sangat ku cinta
Cinta? Ku tahu apa arti cinta
Cinta, cinta dan cinta
Bu, taukah kau?
Kini putrimu ini telah beranjak dewasa
Berlari dalam masa peralihan yang dulu dimanja

Bu...
Karena kaulah aku seperti ini
Belajar mengerti akan arti hidup yang sesungguhnya
Belajar bagaimana aku aku harus bersikap
Belajar bagaimana cara melewati hidup yang penuh lika-liku

Kelembutan hatimu melebihi halusnya kapas!
Ucapanmu adalah sebuah teguran untukku
Kau tidak bercanda
Tapi, kau sesungguhnya perduli karena semuanya
Tutur katamu adalah ciri khas yang selalu terukir dalam benak dan hati ini

Ibu...
Siapa yang berani menyakitimu?
Bicaralah Bu, bicaralah!!!
Aku akan menjadi pembela besar saat kau tersakiti
Hanya manusia yang berhati keji yang berani membuatmu sakit dan menangis
Tenanglah ibu...
Disini ada aku...
Anakmu yang selalu setia demi membuatmu menangis bahagia