Minggu, 30 Oktober 2016

Pengorganisasian Suatu Perusahaan

A.    Pengertian Pengorganisasian
            Menurut Stoner & Walker (1986), pengorganisasian merupakan satu proses dimana aktivitas kerja disusun dan dialihkan kepada sumber tenaga untuk mencapai tujuan sebuah organisasi.
            Menurut Jaafar Muhammad (1992), pengorganisasian adalah penyususnan sumber-sumber organisasi dalam bentuk kesatuan dengan cara yang berkesan agar tujuan dan objektif organisasi yang dirancang dapat dicapai.
            Menurut Gatewood, Taylor, & Farell, pengorganisasian adalah aktivitas yang terlibat dalam sutau struktur organisasi yang sesuai, memberi tugas kepada pekerja serta membentuk hubungan yang berguna di antara pekerja dan tugas-tugas.
            Maka dapat disimpulkan bahwa pengorganisasian adalah suatu proses untuk merancang struktur formal, mengelompokan dan mengatur serta membagi tugas-tugas atau pekerjaan di antara para anggota organisasi, agar tujuan organisasi dapat dicapai keefesienan.

B.     Pengertian Struktur Organisasi
1.      Pengertian Struktur Organisasi Menurut Para Ahli
            Struktur organisasi didefinisikan sebagai mekanisme-mekanisme formal dimana organisasi dikelola.
            Menurut Gibson, dkk, struktur organisasi adalah pola formal mengelompokan orang dan pekerjaan.
            Menurut Hasibuan, struktur organisasi yaitu menggambarkan tipe organisasi, pendepartemenan organisasi, kedudukan dan wewenang pejabat, bidang dan hubungan pekerjaan, garis perintah dan tanggung jawab, rentang kendali dan sistem pimpinan organisasi.
            Maka dapat disimpulakan bahwa struktur organisasi adalah mekanisme-mekanisme formal dengan organisasi yang dikelola serta struktur organisasi menunjukan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan diantara fungsi-fungsi, bagian-bagian atau posisi-posisi, maupun orang-orang yang menunjukan kedudukan, tugas dan wewenang dan tanggung jawab yang berdeda-beda dalam organisasi.

2.      Jenis Struktur Organisasi
a.       Organisasi Formal
            Organisasi formal ialah suatu organisasi yang memiliki struktur yang jelas, pembagian tugas yang jelas, serta tujuan yang ditetapkan secara jelas. Atau organisasi yang memiliki struktur (bagan yang menggambarkan hubungan-hubungan kerja, kekuasaan, wewenang dan tanggung jawab antara pejabat dalam suatu organisasi). Atau organisasi yang dengan sengaja direncanakan dan strukturnya secara jelas disusun. Organisasi formal harus memiliki tujuan atau sasaran. Tujuan ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi struktur organisasi yang akan dibuat. Struktur ini mengandung unsur-unsur spesialis kerja, standarisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi dalam pembuatan keputusan dan besaran (ukuran) satuan kerja.
b.      Organisasi informal
            Organisasi informal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang telibat pada suatu aktivitas serta tujuan bersama yang tidak disadari. Keanggotaan pada organisasi-organisasi informal dapat dicapai baik secara sadar maupun tidak sadar, dan kerap kali sulit untuk menentukan waktu eksak seseorang menjadi anggota organisasi tersebut. Sifat eksak hubungan antaranggota dan bahkan tujuan organisasi yang bersangkutan tidak terspesifikasi. Contoh organisasi informal adalah pertemuan tidak resmi seperti makan malam bersama. Organisasi informal dapat dialihkan menjadi organisasi formal apabila hubungan didalamnya dan kegiatan yang dilakukan terstruktur dan terumuskan. Selain itu, organisasi juga dibedakan menjadi organisasi primer dan organisasi sekunder menurut Hicks, yaitu organisasi primer dan sekunder.

3.      Manfaat Struktur Organisasi
a.       Struktur Fungsional:
1)      Menjaga kekuasaan dan kedudukan fungsi-fungsi utama
2)      Menciptakan efisiensi melalui spesialisasi
3)      Memusatkan keahlian organisasi
4)      Memungkinkan pegawai manajemen ke puncak lebih ketat terhadap fungsi-fungsi
b.    Struktur Divisional, dapat mengikuti pembagian divisi atas dasar produk, wilayah (geografis), langganan, dan proses atau peralatan:
1)      Meletakkan koordinasi dan wewenang yang diperlukan pada tingkat yang sesuai bagi pemberian tanggapan yang cepat
2)      Menempatkan pengembangan dan implementasi strategi dekat dengan lingkungan divisi yang khas
3)      Tempat latihan yang baik bagi para manager strategik

4.      Kelemahan Struktur Organisasi:
a.       Struktur Fungsional:
1)      Struktur fungsional dapat menciptakan konflik antarfungsi-fungsi
2)      Menyebabkan kemacetan pelaksanaan tugas yang berurutan pada kepentingan tugas-tugasnya
3)      Menyebabkan para anggota berpandangan lebih sempit serta kurang inovatif

b.      Sturktur Divisional:
1)      Masalah duplikasi sumber daya dan peralatan yang tidak perlu
2)      Dapat menimbulkan tidak konsistennya kebijakan antara divisi-divisi

C.    Penggerakan (Actuating)
1.      Definisi Penggerakan (Actuating)
            Penggerakan (actuating) adalah suatu fungsi pembimbingan dan pemberian pimpinan serta penggerakan orang-orang agar orang-orang tersebut mau dan suka bekerja. Berdasarkan pengertian tersebut, jelaslah bahwa peranan penggerakan (actuating) sangat penting. Karena penggerakan berfungsi untuk menggerakan fungsi-fungsi manajemen yang lain, seperti perencanaan, pengorganisasian, pengawasan. Menggerakan orang-orang agar mau dan suka bekerja mempunyai arti bagimana menjadikan para pegawai sadar akan tugas dan kewajiban serta bertanggung jawab atas tugas yang dibebankan kepadanya tanpa menunggu perintah dari siapapun.

2.      Prinsip Actuating dalam Manajemen
            Ada beberapa prinsip yang dilakukan oleh pimpinan perusahan dalam melakukan actuating, yaitu:
a.       Prinsip mengarah kepada tujuan: Tujuan pokok dari pengarahan nampak pada prinsip yang menyatakan bahwa makin efektifnya proses pengarahan, akan semakin besar sumbangan bawahan terhadap usaha mencapai tujuan. Pengarahan tidak dapat berdiri sendiri, artinya dalam melaksanakan fungsi pengarahan perlu mendapatkan dukungan atau bantuan dari faktor-faktor lain seperti: perencanaan, struktur organisasi, tenaga kerja yang cukup, pengawasan yang efektif dan kemampuan untuk meningkatkan pengetahuan serta kemampuan bawahan.
b.      Prinsip keharmonisan dengan tujuan: Orang-orang bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhannya yang mungkn tidak mungkin sama dengan tujuan perusahaan. Mereka mengkehendaki demikian dengan harapan tidak terjadi penyimpangan yang  terlalu besar dan kebutuhan mereka dapat dijadikan sebagai pelengkap serta harmonis dengan kepentingan perusahaan. Semua ini dipengaruhi oleh motivasi masing-masing individu. Motivasi yang  baik akan mendorong orang-orang untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara yang wajar. Sedangkan kebutuhan akan terpenuhi apabila mereka dapat bekerja dengan baik dan pada saat itulah mereka menyumbangkan kemampuannya untuk mencapai tujuan organisasi. 
c.       Prinsip kesatuan komando: Prinsip kesatuan komando ini sangat penting untuk menyatukan arah tujuan dan tanggung jawab para bawahan. Bilamana para bawahan hanya memiliki satu jalur di dalam melaporkan segala kegiatannya dan hanya ditujukan kepada satu pimpinan saja, maka pertentangan didalam pemberian instruksi dapat dikurangi, serta semakin besar tanggung jawab mereka untuk memperoleh hasil maksimal.

D.    Pengawasan (Controlling)
1.      Definisi Pengawasan (Controlling)
            Pengawasan (controlling) adalah fungsi manajemen dimana peran dari personal yang sudah memiliki tugas, wewenang dan menjalankan pelaksanaannya perlu dilakukan pengawasan agar supaya berjalan sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan. Di dalam manajemen perusahaan yang modern fungsi control ini biasanya dilakukan oleh divisi audit internal.

2.      Langkah-langkah dalam Controlling
a.       Proses Pengawasan Manajemen:
1)      Perencanaan Strategi
2)      Penyusunan Anggaran
3)      Pelaksanaan Anggaran
4)      Evaluasi Kinerja
5)      Pengendalian Tugas
b.      Dapat digolongkan menjadi delapan elemen, yaitu:
1)      Mengidentifikasikan tujuan dan strategi
2)      Penyusunan program
3)      Penyusunan anggaran
4)      Kegiatan dan pengumpulan realisasi prestasi
5)      Pengukuran prestasi
6)      Analisis dan pelaporan
7)      Tindakan koreksi

3.      Tipe-tipe Controlling
a.     Pengawasan Pendahuluan (Feedforward Control): Pengawasan ini sering disebut juga dengan Steering Control. Dirancang untuk mengantisipasi masalah-masalah atau penyimpangan-penyimpangan dari standar dan tujuan dan memungkinkan koreksi dibuat sebelum suatu tahap diselesaikan (kegiatan belum dilaksanakan).
b.    Pengawasan Concurrent: Pengawasan concurrent maksudnya pengawasan yang dilakukan bersamaan dengan melakukan kegiatan. Pengawasan ini sering disebut pengawasan “ Ya-Tidak “, screening control, “berhenti terus” dilakukan selama suatu kegiatan berlangsung.
c.     Pengawasan Umpan Balik (Feedback Control): Pengawasan ini bisa juga disebut sebagai “Past-Action Control”  yang mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah diselesaikan dan pengukuran ini dilakukan setelah kegiatan terjadi.
            Ketiga bentuk pengawasan tersebut sangat berguna bagi manajemen karena memungkinkan manajemen membuat tindakan koreksi dan tetap dapat mencapai tujuan.

4.     Pengawasan Proses Manajemen
            Proses manajemen adalah daur beberapa gugusan kegiatan dasar yang berhubungan secara integral, yang dilaksanakan di dalam manajemen secara umum, yaitu proses perencanaan, proses pengorganisasian, proses pelaksanaan, dan proses pengendalian, dalam rangka mencapai sesuatu tujuan secara ekonomis. Sesungguhnya keempat proses itu merupakan hasil ikhtisar dari pelbagai pendapat praktisi dan ahli mengenai manajemen.







Sumber Referensi:
·         Handoko, Hani. 1997. Manajemen. Yogyakarta: BPFE.
·         Gibson, dkk. 1997. Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses. Jakarta: Binarupa Aksara, (terjemahan).

·         Djatmiko, Y. H. 2008. Perilaku Organisasi. Bandung: Alfabeta.

Jumat, 23 September 2016

Psikologi Manajemen

A. Pengertian Manajemen
            Ada banyak pendapat yang diutarakan para ahli manajemen tentang pengertian manajemen. Oleh karena perbedaan pengertian manajemen yang ada, pengertian manajemen terdiri atas beberapa segi:
1. Pengertian manajemen ditinjau dari segi seni (art). Pengertian manajemen ditinjau dari segi seni dikemukakan oleh Mary Parker Follet. Follet berpendapat bahwa pengertian manajemen ialah seni (art) dalam menyelesaikan pekerjaan orang lain.
2. Pengertian manajemen ditinjau dari segi ilmu pengetahuan. Pengertian manajemen ditinjau dari segi ilmu pengetahuan dikemukakan oleh Luther Gulick. Gulick mengatakan bahwa pengertian manajemen adalah bidang pengetahuan yang berusaha secara sistematis untuk memahami mengapa dan bagaimana manusia bekerja sama untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kemanusiaan.
3. Pengertian Manajemen ditinjau dari segi proses. Pengertian manajemen ditinjau dari segi proses menurut James A.F. Stoner. Stoner berpendapat bahwa definisi manajemen adalah proses perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), kepemimpinan (leadership) dan pengawasan (mengendalikan/ controlling) kegiatan anggota dan tujuan penggunaan organisasi yang sudah ditentukan.

B. Pengertian Kepemimpinan
            Menurut Yukl (Usman, 2011: 279-280), beberapa definisi yang dianggap cukup mewakili selama seperempat abad adalah sebagai berikut:
a) Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal).
b) Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi ke arah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu.
c) Kepemimpinan adalah pembentukan awal serta pemeliharaan struktur dalam harapan dan interaksi.
d) Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit, pada dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi.
e) Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan.
f) Kepemimpinan adalah sebuah proses memberikan arti (pengarahan yang berarti) terhadap usaha kolektif, dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran.
             Terry & Rue (Usman, 2011: 280) menyatakan bahwa kepemimpinan hubungan yang ada dalam diri seorang pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja secara sadar dalam hubungan tugas yang diinginkan.
          Sanusi (Usman, 2011: 280) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah penyatupaduan dari kemampuan, cita-cita, dan semangat kebangsaan dalam mengatur, mengendalikan, dan mengelola rumah tangga keluarga maupun organisasi atau rumah tangga negara. Ditambahkan pula oleh Sanusi (1985), kepemimpinan dalam arti substansi merunjuk pada suatu kenyataan di mana seseorang atau sistem mempunyai kekuatan dan keberanian dalam menyatakan kemampuan mental, organisasional, fisik, yang lebih besar dari rata-rata umumnya, yang antara lain didukung oleh unsur-unsur penting sebagai ways and means.
            Kepemimpinan menurut Yaverbaum&Sherman (Usman, 2011: 281), “Leadership is act of gaining cooperation from people in order to accomplish something” (Kepemimpinan adalah tindakan mendapatkan kerja sama dari orang untuk mencapai sesuatu)”.
            Kepemimpinan menurut Bush (Usman, 2011: 281), “I mean influencing others actions in achieving desirable ends” (Yang saya maksud dengan kepemimpinan ialah mempengaruhi tindakan orang lain untuk mencapai tujuan akhir yang diharapkan).
            Dari berbagai pengertian di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa kepemimpinan merupakan proses pemimpin mempengaruhi pengikut untuk:
a) menginterprestasikan keadaan (lingkungan organisasi)
b) pemilih tujuan organisasi
c) pengorganisasian kerja dan memotivasi pengikut untuk mencapai tujuan organisasi
d) mempertahankan kerjasama dan tim kerja
e) mengorganisasi dukungan dan kerjasama dari luar organisasi.

C. Pengertian Perencanaan (Planning)
            Perencanaan adalah sejumlah kegiatan yang ditentukan sebelumnya untuk dilaksanakan pada suatu periode tertentu dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan. Perencanaan menurut Bintoro Tjokroaminoto dalam Husaini Usman (2008:60) adalah proses mempersiapkan kegiatan-kegiatan secara sistematis yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Prajudi Atmosudirjo dalam Husaini Usman (2008:60) juga berpendapat bahwa  perencanaan adalah perhitungan dan penentuan tentang sesuatu yang akan dijalankan dalam rangka mencapai tujuan tertentu, siapa yang melakukan, bilamana, di mana, dan bagaimana cara melakukannya.
            Pengertian perencanaan adalah suatu kegiatan atau proses penganalisisan dan pemahaman sistem, penyusunan konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan demi masa depan yang baik (Soekidjo, 2003).
            Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa perencanaan adalah kegiatan yang akan dilaksanakan di masa yang akan datang untuk mencapai tujuan dan dalam perencanaan itu mengandung beberapa unsur, diantaranya sejumlah kegiatan yang ditetapkan sebelumnya, adanya proses, hasil yang ingin dicapai, dan menyangkut masa depan dalam waktu tertentu (Usman, 2011:66).
            Pelaksanaan dan pengawasan termasuk pemantauan, penilaian, dan pelaporan merupakan unsur yang tidak bisa dilepaskan dari perencanaan. Dalam perencanaan diperlukan pengawasan agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan.

D. Langkah-Langkah Menyusun Perencanaan
            Dalam menyusun perencanaan yang baik, seorang manajer akan mempertimbngkan berbagai pertimbagan berkaitan dengan pengembangan organisasi yang dikelolanya seperti berikut:
1) Menganalisis dan melakukan prediksi untuk masa yang akan datang.
2) Menetapkan sasaran jangka panjang dan menentukan sasaran yang ingin dicapai dan menetapkan hasil yang menjadi target dan tujuan akhir.
3) Menentukan berbagai kebijakan berkaitan dengan metode kerja yang akan diterapkan.
4) Menyusun jadwal atau program yang harus dilakukan dalam rangka pengembangan organisasi.
5) Melakukan evaluasi anggaran keuangan dengan menetapkan sumber-sumber keuangan dan mengalokasikan pos-pos pengeluaran yang akan digunakan dalam kegiatan.

E. Manfaat Perencanaan
a) Fokus dan Fleksibilitas
            Perencanaan mengembangkan fokus dan fleksibilitias. Suatu organisasi yang memiliki fokus mengetahui apa yang terbaik, mengetahui yang dibutuhkan oleh konsumen dan mnegetahui bagaimana melayani konsumen (pelanggang) dengan baik. Fleksibiltas dalam sebuah organisasi beroperasi secara baik dan dinamis juga mempunyai pandangan masa depan. Organisasi ini siap mengambil tindakan cepat ketika terdesak dan memanfaatkan kesempatan yang ada. Perencanaan membantu para manajer pada berbagai tipe organisasi untuk mencapai kinerja yang lebih baik karena:
1. Perencanaan berorientasi pada hasil. Perencanaan ini menciptakan pengertian arah orientasi kinerja.
2. Perencanaan berorientasi pada prioritas. Perencanaan ini memastikan hal yang paling penting untuk mendapat perhatian yang utama.
3. Perencanaan berorientasi pada keuntungan. Perencanaan membantu mengalokasikan sumber-sumber untuk mendayagunakan kekuatan yang terbaik.
4.  Perencanaan berorientasi pada perubahan. Perencanaan membantu mengantisipasi masalah dan kesempatan sehingga dapat mencapai kesesuaian yang terbaik.
b) Pengembangan dan Koordinasi
            Perencanaan mengembangkan koordinasi. Setiap tujuan yang direncanakan dalam sebuah organisasi berbeda-beda namun mempunyai tuntutan waktu penyelesaian yang sama. Hierarki tujuan merupakan suatu rangkaian tujuan yang berhubungan satu sama lain sehingga saling terkait dengan tingkatan yang dibawahnya. Ketika organisaasi secara keseluruhan dilaksanakan dengan baik, ini berarti bahwa tingkatan tujuan yang lebih tinggi saling terkait dengan tingkatan tujuan yang lebih rendah guna mencapai tujuan bersama.
c) Pengembangan Pengendalian
            Perencanaan mengembangkan pengendalian. Pengendalian manajerial meliputi pengukuran dan pengevaluasian hasil kinerja dan pengambilan tindakan korektif untuk mengembangkan hal-hal yang diperlukan. Jika hasil, tujuan, dan tindakan perencanaan tidak seperti yang diharapkan, dapat diselesaikan dengan proses pengawasan.
d) Manajemen Waktu
            Manajemen waktu merupakan hal yang tak kalah penting dalam perencanaan karena biasanya banyaknya tuntutan dengan waktu yang tersedia tidak cukup dengan kenyataannya. Akhirnya jika kita tidak bisa memanajemen waktu dengan baik, maka perencanaan yang direncanakan pada waktu yang telah ditentukan malah tidak bisa terselesaikan dengan baik.
F. Jenis Perencanaan dalam Organisasi
            Para manajer menggunakan berbagai pendekatan perencanaan yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya. Pada umumnya perencanaan dibagi menjadi tiga: Perencanaan jangka pendek ke perencanaan jangka panjang; strategi dan perencanaan operasional; perencanaan tetap; yang terakhir, rencana sekali pakai.
1) Perencanaan jangka panjang dan jangka pendek, merupakan perencanaan untuk jangka waktu satu tahun atau kurang. Perencanaan jangka menengah untuk jangka waktu 1 sampai 2 tahun. Perencanaan jangka panjang merupakan perencanaan untuk jangka waktu 5 tahun atau lebih.
2) Perencanaan strategi dan perencanaan operasional, menunjukkan kebutuhan jangka panjang dan menentukan kegiatan komprehensif yang telah diarahkan. Perencanaan pimpinan puncak dalam cakupan ini termasuk menentukan tujuan untuk organisasi secara keseluruhan atau subunit utama kemudian memutuskan kegiatan-kegiatan apa yang hendak diambil dan sumber-sumber apa yang diperlukan untuk mencapainya.
            Perencanaan operasional lingkupnya lebih sempit dibandingkan dengan perencanaan strategi. Perencanaan operasional didefinisikan sebagai kebutuhan apa saja yang harus dilakukan untuk mengimplementasikan perencanaan strategi dan untuk mencapai tujuan strategi tersebut. Perencanaan operasional yang khas dalam bisnis perusahaan meliputi:
a) Perencanaan produksi. Perencanaan yang berhubungan dengan metode dan teknologi yang dibutuhkan orang-orang dalam pekerjaannya.
b) Perencanaan keuangan. Perencanaan yang berhubungan dengan dana yang dibutuhkan untuk mendukung berbagai aktivitas operasional.
c) Perencanaan fasilitas. Perencanaan yang berhubungan dengan fasilitas dan layout pekerjaan yang dibuthkan untuk mendukung tugas berbagai kegiatan.
d) Perencanaan pemasaran.
e) Perencanaan yang berhubungan dengan keperluan penjualan dan pendistribusian barang dan jasa.
f) Perencanaan sumber daya manusia. Perencanaan yang berhubungan dengan rekruitmen, penyeleksian , dan penempatan orang-orang dalam berbagai pekerjaan.
3) Perencanaan tetap, merupakan perencanaan yang digunakan untuk kegiatan yang terjadi berulang kali secara terus menerus. Perencanaan tetap ini terdapat dalam kebijaksanaan operasional, prosedur dan peraturan.
4) Perencanaan sekali pakai, merupakan perencanaan pada situasi yang jarang terjadi atau unik. Anggaran dan jadwal proyek merupakan contoh yang tepat untuk perencanaan sekali pakai.




Referensi:
Hasanuddin Rahman Daeng Naja. (2004). Manajemen Fit & Proper Test. Yogyakarta: Pustaka Widya Tama.
Usman, Husaini.  (2011)Manajemen: Teori, Praktek dan Riset Pendidikan.  Yogyakarta: Bumi Aksara.  Edisi Ketiga.
Nototmodjo, Soekidjo. (2003). Ilmu Kesehatan Masyarakat (Prinsip-Prinsip Dasar). Jakarta: Rineka Cipta. Cetakan Kedua.
Schermerhorn, J. R., (2003). Manajemen. Jogjakarta: Andi Yogyakarta.
Mukhyi, M. A. & Saputro, I. M. (1995). Pengantar Manajemen Umum (Untuk STIE). Depok: Universitas Gunadarma.

Supar, M. (2007). Ekonomi 3. Jakarta: Yudhistira Quadra.

Jumat, 26 Agustus 2016

Pengalaman Berharga

Hai, selamat malam. Udah lama gak ngeblog, baru nyempetin ngeblog malam ini karena kebetulan ada pengalaman yang mau diceritakan. Buat sharing aja sih, gak ada maksud norak atau sebagainya hehe...

Hm udah masuk satu bulan ternyata, gue punya pengalaman baru yang bener-bener bisa gue gunakan di kehidupan gue selanjutnya. Cie ((kehidupan)) haha.
Yap! Gue bisa sebut ini pengalaman buat jadi orang tua nantinya hehehe. Karena, gue dapet kesempatan buat jadi shadow teacher. Jadi, shadow teacher adalah guru untuk anak berkebutuhan khusus di sebuah sekolah inklusif. Gue jadi shadow teacher di sekolah inklusif di Depok. Rasanya tuh senang, karena ngerasa lebih dekat sama dunia anak, terus tantangan buat diri sendiri, melatih kesabaran, dan lain-lain deh pokoknya tentang hal yang positif. Jadi gue mendampingi anak kelas 1 SD yang spesial menurut gue. Kenapa? Karena cara menangani anak spesial juga butuh perilaku dan pendampingan yang spesial. Dua hari gue observasi ke anak tersebut, gue harus bantu dia dalam toilet training, mengajak dia berinteraksi dengan teman-temannya yang lain, belajar supaya dia bisa nyaman dan percaya diri, dan lain-lain deh pokoknya berasa punya anak. Setelah fix buat lanjut tuh lama-kelamaan ada rasa capek karena anak itu hiperaktif setiap ngeliat pintu kelas terbuka, dia langsung ambil sendal dan pergi kemana aja sesuai mood dia. Selalu gue kejar dan setelah dikejar pasti lari semakin jauh (iya, gue disuruh olahraga), dan setelah konsultasi ke pembimbing shadow teacher tuh ternyata dia harus agak di lihatin cukup dari pandangan yang agak jauh aja supaya dia gak kabur dan gak merasa kalo dia lagi diajak bermain. Hm iya, selain itu juga ada aja pandangan orang lain yang gak ngerti posisi gue sebagai shadow teacher. Sempet nangis di rumah dan besoknya bilang ke pembimbing "Ms, aku...give up deh kayaknya". But I always tryin' to learn and stay sampe anak itu bisa mandiri dulu deh setidaknya. Tapi, sekarang kenyataannya berubah. Time changes so fast. Gue sepertinya cukup sampai disini aja (cie kayak lagu), kenapa? Karena jadwal masuk kuliah sudah menanti dan sejujurnya gue kecewa sama diri sendiri karena belum ada progres buat anak itu. Maafin Ms.Eka, dear... Kangen. Kangen di kiss&hug kalo dia udah ada maunya, kangen mainin rambutnya yang tebel yang pengen banget gue kuncir (tapi sayangnya dia cowok sih...). Kangen karena udah hampir seminggu dia gak masuk karena sakit cacar.

Oh iya, selain nanganin satu anak ini. Sempet banget interaksi sama anak-anak spesial di kelas lainnya. Ngobrol, shakehand, say good bye, dll. Pokoknya mereka lucu-lucu dan unik! Even di satu sisi ada rasa simpatik saat ada aja teman mereka yang bilang bahwa mereka itu "aneh" :(. Dan orang tua masih suka gak nerima bahwa anaknya tuh harus ditanganin secara khusus, padahal buat kemajuan anaknya juga ke depannya.

Sesibuk apapun orang tua, tolong luangkan dan sisihkan waktu untuk anak. Setidaknya mendengar ia bercerita tentang sekolahnya. Jangan sampai kalo di sekolah cuma menceritakan mbak dan bapak sopir antar-jemputnya. "Kalo mamah pulang, aku udah tidur soalnya. Terus kalo aku bangun pagi, mamah udah berangkat". Itu jawaban jujur dari anak spesial dan dia masih kelas 2 SD. Sumpah, anak itu lucu banget. Tapi sayang, waktu memisahkan kita sampai disini. Hmmm. Iya, cuma bisa ngenang lewat foto atau nginget celotehan-celotehannya.

Terimakasih atas kesempatan untuk mengenal kalian dan mempunyai ilmu baru. See you soon babies, insyaAllah!💖

Jumat, 17 Juni 2016

Kasus Meninggalnya Mahasiswa UI

Saya setuju dengan istilah Mens sana in corpore sano (di dalam jiwa yang sehat ada dalam tubuh yang sehat) dan berikut merupakan salah satu kasus yang kurang adanya keseimbangan antara jasmani dan rohani dalam diri manusia. Berita yang diunggah oleh detik.com pada Selasa 31 May 2016, 15:14 WIB, telah membuktikan bahwa semua manusia itu membutuhkan kesehatan. Baik kesehatan jasmani atau rohani.

Kasus:
“UI Berbelasungkawa Atas Meninggalnya Mahasiswa Akutansi yang Diduga Gantung Diri” (Mei Amelia R – detikNews)
Jakarta - Civitas Akademika Universitas Indonesia (UI) menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Vincensius Billy, mahasiswa angkatan 2012 jurusan akuntansi kelas pararel. UI menyampaikan duka yang mendalam pada keluarga almarhum. "Rektor Prof Muhammad Anis beserta segenap civitas akademika berbelasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga atas meninggalnya Vincensius Billy," jelas Kepala Humas UI Rifelly Dewi Astuti, Selasa (31/5/2016).
Vincensius ditemukan meninggal dunia di kostnya di Kukusan, Depok. Vincensius ditemukan dengan kondisi leher terjerat seutas tali di kamar kosnya. Polisi menduga korban bunuh diri. "Dugaan sementara dari hasil olah TKP dan keterangan saksi-saksi, korban diduga gantung diri," ujar Kasat Reskrim Polres Depok Kompol Teguh Nugroho kepada detikcom.
Jasad korban ditemukan pada pukul 08.15 WIB ketika petugas kebersihan kosan, Mariaty, bersih-bersih di lorong kamar-kamar kos (dra/dra).

Analisis:
Diperkirakan sekitar 15% orang yang didiagnosa gangguan depresi mayor melakukan usaha bunuh diri (Maris et. Al., dalam Davison & Neale, 2001). Pengertian bunuh diri adalah usaha yang dilakukan untuk mengakibatkan kematian diri sendiri. seringkali bunuh diri dianggap sebagai jalan keluar dari masalah yang menyebabkan penderitaan yang mendalam. Bunuh diri sering kali diasosiasikan dengan kebutuhan yang tidak terpenuhi atau terabaikan, konflik yang ambivalen antara keinginan untuk bertahan dengan stres yang berat, perasaan tidak berdaya atau tidak ada harapan, menyempitnya pilihan yang dipersepsi, dan kebutuhan untuk melarikan diri (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1994).
Menurut Freud, orang yang bunuh diri menampilkan agresi yang diarahkan ke dalam dirinya untuk melawan introyeksi dan obyek kateksis yang ambivalen. Berdasarkan teori Freud, Karl Menninger mengemukakan bahwa bunuh diri adalah pembunuhan yang retrofleksis, pembunuhan yang dibalikkan, sebagai hasil kemarahan pada orang lain, yang kemudian diarahkan pada diri sendiri atau digunakan untuk menghindari hukuman. Terdapat 3 komponen bunuh diri menurut Menninger, yaitu harapan untuk membunuh, harapan untuk dibunuh, dan harapan untuk mati. Bunuh diri timbul dari fantasi individu tentang apa yang akan terjadi jika mereka mencoba bunuh diri, dan apa konsekuensinya. Fantasi tersebut banyak melibatkan harapan akan membalas dendam, kekuasaan, konrol, dll.
Faktor yang menyebabkan korban untuk bunuh diri (kemungkinan) karena tuntutan yang belum bisa dicapai (frustasi) yang telah mengubahnya menjadi stres. Misalnya dalam tugas-tugas atau kewajiban selam kuliah yang harus diemban, namun belum bisa terpenuhi sesuai denga harapannya. Selain itu banyak faktor yang dapat menyebabkan suatu individu menjadi stres, antara lain:
1. Faktor Biologis: Gen, penyakit, tidur, postur tubuh, kelelahan.
2. Faktor Psikologis: Frustasi, perasaan dan emosi, pengalaman hidup, keputusan perilaku
3. Faktor Sosial: Keluarga, lingkungan, dunia kerja.
Faktor penyebab stres dilihat dari sudut pandang psikodinamik, mendasarkan diri mereka pada asumsi bahwa gangguan tersebut muncul sebagai akibat dari emosi-emosi yang direpres. Hal-hal yang akan direpres akan muncul akan menentukan organ tubuh mana yang terkena penyakit.
Stres bisa diatasi dengan cara sebagai berikut:
a. Jangan hanya bergantung pada diri sendiri, sebisa mungkin minta bantuan kepada orang terdekat jika memiliki msalah yang tidak bisa dihadapi sendiri.
b. Ciptakan tujuan yang terukur dan bisa tercapai.
c. Jangan menuntut kesempurnaan.
d. Bedakan antara stres yang nyata dan tidak nyata.
e. Tambah keimanan dan motivasi yang baik
f. Belajar mengelola waktu.

Sumber:
- Davison, Gerald C., Neale, John M.. (2001). Abnormal Psychology. 8th editon. New York: John Wiley & Sons.
- Kaplan, H.I., Sadock, B.J., Grebb, J.A.. (1994). Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences Clinical Psychiatry. 7th edition. Baltimore: Williams & Wilkins.

Jumat, 01 April 2016

Narsisme Berat


A. Pengertian Narsisme Berat 
   Pada kesempatan menulis kali ini, saya akan membahas tentang Narsisme Berat pada suatu individu. Manusia yang sehat menunjukkan narsisme yang baik, yaitu ketertarikan akan tubuh sendiri. Walaupun demikian, dalam bentuk buruknya, narsisme menghalangi persepsi akan kenyataan sehingga segala sesuatu yang dimiliki orang narsistik dinilai tinggi dan segala sesuatu milik orang lain tidak bernilai. Individu dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki perasaan yang kuat bahwa dirinya adalah orang yang penting serta merupakan individu yang unik. Mereka merasa bahwa diri mereka spesial dan ingin diperlakukan khusus pula. Oleh karena itu, mereka sangat sulit atau tidak dapat menerima kritik dari orang lain.
    Individu narsistik terpaku pada diri sendiri, namun hal ini tidak terbatas hanya pada mengagumi diri dalam kaca. Keterpakuan pada tubuh sering menyebabkan Hipokondriasis (perhatian obsesif akan kesehatan seseorang). Fromm (dalam Feist&Feist, 2014) juga membahas Hipokondriasis Moral (keterpakuan dengan rasa bersalah akan pelanggaran yang sebelumnya terjadi). Orang-orang yang terfiksasi akan diri mereka sendiri cenderung menginternalisasi pengalaman-pengalaman mereka dan merenungkan kesehatan fisik serta kebaikan moral mereka.
   Sikap mereka mengakibatkan hubungan yang mereka miliki biasanya rentan (mudah pecah) dan mereka dapat membuat orang lain sangat marah, karena penolakan mereka untuk mengikuti aturan yang telah ada. Mereka juga tidak mampu untuk menampilkan empati. Kalaupun mereka memberikan empati atau simpati, biasanya mereka memiliki tujuan tertentu untuk kepentingan diri mereka senidiri.
   Individu dengan gangguan kepribadian narsistik tidak memilik self-esteem yang mantap dan mereka rentan untuk menjadi depresi. Masalah-masalah yang biasanya muncul karena tingkah laku individu yang narsistik misalnya sulit membina hubungan interpersonal, penolakan dari orang lain, kehilangan sesuatu atau masalah dalam pekerjaan. Kesulitan lainnya adalah mereka ternyata tidak mampu mengatasi stres yang mereka rasakan dengan baik. Prevalensi dari gangguan kepribadian narsistik berkisar antara 2-16% pada populasi klinis dan kurang dari 1% pada populasi umumnya. Prevalensi mengalami peningkatan pada populasi dengan orang tua yang selalu menanamkan ide kepada anaknya bahwa mereka cantik, berbakat, dan spesial secara berlebihan.

B. Gejala
  • Membutuhkan pujian dan kekaguman berlebihan
  • Mengambil keuntungan dari orang lain
  • Merasa diri paling penting
  • Enggan atau tidak bisa menerima sudut pandang orang lain
  • Kurangnya empati
  • Berbohong, pada diri sendiri dan orang lain
  • Terobsesi dengan fantasi ketenaran, kekuasaan, atau kecantikan
C. Kebiasaan
   Orang narsistik membutuhkan dan mengharapkan perhatian khusus. Mereka juga cenderung memanfaatkan dan mengeksploitasi orang lain bagi kepentingannya sendiri serta hanya sedikit menunjukkan sedikit empati. Ketika dihadapkan pada orang lain yang sukses, mereka bisa merasa sangat iri hati dan arogan. Dan karena mereka sering tidak mampu mewujudakan harapan-harapannya sendiri, mereka sering merasa depresi. Gangguan kepribadian narsistik dicirikan oleh keterpusatan diri. Mereka membesar-besarkan prestasi mereka, mengharapkan orang lain untuk mengakui mereka sebagai superior. Mereka cenderung pemilih teman, karena mereka percaya bahwa tidak sembarang orang yang layak menjadi teman mereka. Narsistik cenderung membuat kesan pertama yang baik, namun mengalami kesulitan menjaga hubungan jangka panjang. Mereka umumnya tidak tertarik pada perasaan orang lain dan dapat mengambil keuntungan dari mereka.
    Menurut DSM IV-TR, kriteria gangguan kepribadian narsistik yaitu, pandangan yang dibesar-besarkan mengenai pentingnya diri sendiri, arogansi, terfokus pada keberhasilan, kecerdasan, kecantikan diri, kebutuhan ekstrem untuk dipuja, perasaan kuat bahwa mereka berhak mendapatkan segala sesuatu, kecenderungan memanfaatkan orang lain, dan iri kepada orang lain.
Sebuah pola dari khayalan dan perilaku, diantaranya kebutuhan untuk kekaguman, dan kurangnya empati, seperti yang diindikasikan oleh minimal 5 dari yang dibawah ini:
  1. Perasaan megah akan kepentingan pribadi.
  2. Keasyikan dengan khayalan akan keberhasilan, kekuatan, kecemerlangan, atau kecantikan yang tidak terbatas.
  3. Kepercayaan bahwa dia itu spesial dan unik.
  4. Kebutuhan akan kekaguman yang berlebihan.
  5. Perasaan akan pemberian judul.
  6. Kecenderungan menjadi meledak-ledak antar individu.
  7. Kekurangan empati.
  8. Sering cemburu terhadap orang lain atau percaya bahwa orang lain itu pun cemburu terhadapnya.
  9. Menunjukkan keangkuhan, perilaku atau sikap yang sombong.
D. Penanganan dan Hasilnya
    Gangguan kepribadian narsistik secara umum sulit untuk dirawat, pada sebagian karena mereka adalah, menurut definisi, relatif kronis, dapat meresap, dan pola perilaku dan pengalaman di dalam diri yang tidak dapat diubah. Lebih jauh lagi, banyak tujuan dari perawatan yang berbeda dapat dirumuskan, dan beberapa lebih sulit untuk dicapai dari yang lainnya. Tujuannya mungkin termasuk keadaan sulit subjektif, mengubah perilaku disfungsional yang spesifik, dan mengubah keseluruhan pola perilaku atau keseluruhan struktur kepribadian.
   Pada banyak kasus, orang dengan kelainan kepribadian mengikuti perawatan hanya oleh desakan seseorang, dan mereka sering tidak percaya bahwa mereka harus berubah. Selanjutnya, mereka yang berasal dari Kelompok A yang aneh/eksentrik dan Kelompok B yang tidak teratur/dramatis mempunyai perbedaan-perbedaan yang umum dalam pembentukan dan memelihara hubungan baik, termasuk dengan seorang ahli terapi. Bagi mereka yang berasal dari Kelompok B yang tidak teratur/dramatis, pola dari tindakan, khas dalam hubungan mereka yang lainnya, dibawa ke dalam situasi terapi, dan daripada berhadapan dengan masalah mereka di tingkat verbal, mereka mungkin akan menjadi marah pada ahli terapi dan mengacaukan sesi.
    Sebagai tambahan, orang yang mempunyai 2 kelainan baik di Axis I dan Axis II rata-rata, melakukan perawatan yang baik untuk kelainan pada Axis I mereka sebagai pasien tanpa kelainan kepribadian. Ini sebagian dikarenakan orang dengan kelainan kepribadian mempunyai ciri-ciri kepribadian yang kaku dan berakar yang sering membawa kepada hubungan yang mengandung unsur pengobatan yang memprihatinkan dan apalagi membuat mereka bertahan melakukan sesuatu yang dapat meningkatkan kondisi Axis I mereka.

E. Jenis-jenis Terapi
    a. Terapi menurut Pendekatan Millon
     Ada sebuah informasi yang berdasar kepada penelitian kecil dalam merawat kelainan kepribadian sebagaimana adanya informasi dalam bagaimana mereka berkembang. Ada, meskipun, sebuah kesusastraan kasus klinis yang hidup dan berkembang dalam terapi-terapi untuk banyak kelainan-kelainan kepribadian. Walaupun garis besar ide-ide berikut ini adalah untuk bagian besar berdasarkan pada pengalaman-pengalaman klinis dari beberapa professional kesehatan mental, dan tidak pada studi-studi tentang yang berisikan pengawasan-pengawasan yang cocok, petunjuk pengobatan ini adalah semua yang tersedia dalam memperlakukan kelainan kepribadian.
     Sebuah perasaan terhadap apa yang terkandung dalam literatur dapat dipahami dari beberapa ide yang seterusnya ditanamkan oleh Millon (1981) dalam bukunya yang terkenal secara luas tentang kelainan-kelainan kepribadian (Millon sebelumnya adalah bagian dari tim DSM-III yang bekerja tentang kelainan-kelainan kepribadian). Dia menganjurkan bahwa:
  1. Terapi dengan kepribadian-kepribadian yang tidak mandiri terfasilitasi oleh fakta bahwa orang-orang ini mencari orang lain yang lebih kuat ada siapa mereka bergantung. Oleh karena itu mereka rela dan mau menerima pasien-pasien. Bagaimanapun, ciri seperti ini dapat membuat mereka terlalu terlalu bergantung pada ahli terapi dan tidak suka membuat keputusan-keputusan mereka sendiri dan mengambil tanggung jawab atas diri mereka sendiri. Millon menyarankan bahwa pendeketan-pendekatan yang bersifat tidak langsung bekerja lebih baik daripada yang bersifat perilaku karena mereka membantu perkembangan yang mandiri.
  2. Kepribadian narsistik tidak tetap dalam terapi untuk waktu yang lama, terlebih ketika sumber-sumber kegelisahan diperiksa (sebagian besar ahli terapi, tanpa menghiraukan orientasi teoritis, akan bersedia). Millon mengusulkan terapi kognitif untuk membantu kepribadian narsistik belajar untuk berpikir ketimbang untuk bertindak sesuai dorongan hati.
     Bagaimanapun juga, ini penting untuk diperhatikan bahwa, seperti orang lain yang menulis tentang tentang itu dan bekerja dengan kelainan-kelainan kepribadian, Millon sangat berhati-hati tentang berharap terlalu besar dari terapi ketika jarak dari masalah-masalah sangat lebar dan mencakup semua.

    b. Teknik Penanganan Terapeutik
       Teknik-teknik pengobatan harus sering dimodifikasi. Contohnya, mengenali bahwa psikoterapi individu tradisional cenderung untuk mendorong ketergantungan pada orang yang telah terlalu dependen, ini sering bermanfaat untuk mengembangkan strategi perawatan secara khusus bertujuan pada perubahan ciri-cirinya. Para pasien dari Kelompok C yang gelisah/ketakutan, mungkin akan menjadi hipersensitif terhadap berbagai kritikan yang mungkin mereka rasakan dari ahli terapi, jadi para ahli terapi harus sangat berhati-hati dalam memastikan itu tidak terjadi.
     Mengubah skema-skema yang mendasar ini sulit tetapi berada di inti dari terapi kognitif untuk kelainan kepribadian, yang menggunakan teknik-teknik kognitif standar dari memantau pikiran-pikiran otomatis, menantang logika yang cacat, dan menugaskan tugas yang berhubungan dengan perilaku dalam sebuah usaha untuk menantang kepercayaan pasien.

   c. Terapi Perilaku-Kognitif (Cognitive Behavioral Therapy)
     Terapi kognitif diarahkan pada usaha mengganti fantasi mereka dengan fokus pada pengalaman sehari-hari yang menyenangkan, yang memang benar-benar dapat dicapai. Strategi coping seperti latihan relaksasi digunakan untuk membantu mereka mengahadapi dan menerima kritik. Membantu mereka untuk memfokuskan perasaannya terhadap orang lain juga menjadi tujuannya. Karena penderita gangguan ini rentan mengalami episode-episode depresif, terutama pada usia pertengahan, penanganan sering dimulai untuk mengatasi depresinya. Tetapi, mustahil untuk menarik kesimpulan tentang dampak penanganan semacam itu pada gangguan kepribadian narsistik yang sesungguhnya.

   d. Terapi Kelompok (Group Therapy)
    Ahli terapi perilaku, dalam menjaga perhatian mereka pada situasi-situasi daripada ciri-ciri, tidak mempunyai perawatan khusus sebagaimana untuk kelainan-kelainan kepribadian lainnya yang yang ditunjukkan oleh DSM-III. Akan lebih baik mereka menganalisa masalah-masalah yang mana, diambil bersama mungkin dipertimbangkan oleh para pengikut dari DSM-III untuk menggambarkan sebuah kelainan kepribadian.
    Satu aspek dari kelainan kepribadian memerintahkan perhatian dari ahli terapi yang berketerampilan manapun. sebagaimana dari penolong professional lainnya, yaitu yang dinyatakan melekat secara mendalam, berdiri lama, dan dapat menembus sifat dasar dari masalah. Ahli terapi manapun yang bekerjasama dengannya harus betul-betul mempertimbangkan implikasi-implikasi yang luas dari masalahnya. Sebelum seorang yang mempunyai kecurigaan yang tinggi dapat mengekspresikan emosinya secara terbuka dan sewajarnya.



Sumber:
Fausiah, F. dan Julianti Widury. (2008). Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Feist, J. dan Gregory J. Feist. (2014). Teori Kepribadian Edisi 7. Jakarta: Salemba Humanika.