Jumat, 23 September 2016
Psikologi Manajemen
Jumat, 26 Agustus 2016
Pengalaman Berharga
Hai, selamat malam. Udah lama gak ngeblog, baru nyempetin ngeblog malam ini karena kebetulan ada pengalaman yang mau diceritakan. Buat sharing aja sih, gak ada maksud norak atau sebagainya hehe...
Hm udah masuk satu bulan ternyata, gue punya pengalaman baru yang bener-bener bisa gue gunakan di kehidupan gue selanjutnya. Cie ((kehidupan)) haha.
Yap! Gue bisa sebut ini pengalaman buat jadi orang tua nantinya hehehe. Karena, gue dapet kesempatan buat jadi shadow teacher. Jadi, shadow teacher adalah guru untuk anak berkebutuhan khusus di sebuah sekolah inklusif. Gue jadi shadow teacher di sekolah inklusif di Depok. Rasanya tuh senang, karena ngerasa lebih dekat sama dunia anak, terus tantangan buat diri sendiri, melatih kesabaran, dan lain-lain deh pokoknya tentang hal yang positif. Jadi gue mendampingi anak kelas 1 SD yang spesial menurut gue. Kenapa? Karena cara menangani anak spesial juga butuh perilaku dan pendampingan yang spesial. Dua hari gue observasi ke anak tersebut, gue harus bantu dia dalam toilet training, mengajak dia berinteraksi dengan teman-temannya yang lain, belajar supaya dia bisa nyaman dan percaya diri, dan lain-lain deh pokoknya berasa punya anak. Setelah fix buat lanjut tuh lama-kelamaan ada rasa capek karena anak itu hiperaktif setiap ngeliat pintu kelas terbuka, dia langsung ambil sendal dan pergi kemana aja sesuai mood dia. Selalu gue kejar dan setelah dikejar pasti lari semakin jauh (iya, gue disuruh olahraga), dan setelah konsultasi ke pembimbing shadow teacher tuh ternyata dia harus agak di lihatin cukup dari pandangan yang agak jauh aja supaya dia gak kabur dan gak merasa kalo dia lagi diajak bermain. Hm iya, selain itu juga ada aja pandangan orang lain yang gak ngerti posisi gue sebagai shadow teacher. Sempet nangis di rumah dan besoknya bilang ke pembimbing "Ms, aku...give up deh kayaknya". But I always tryin' to learn and stay sampe anak itu bisa mandiri dulu deh setidaknya. Tapi, sekarang kenyataannya berubah. Time changes so fast. Gue sepertinya cukup sampai disini aja (cie kayak lagu), kenapa? Karena jadwal masuk kuliah sudah menanti dan sejujurnya gue kecewa sama diri sendiri karena belum ada progres buat anak itu. Maafin Ms.Eka, dear... Kangen. Kangen di kiss&hug kalo dia udah ada maunya, kangen mainin rambutnya yang tebel yang pengen banget gue kuncir (tapi sayangnya dia cowok sih...). Kangen karena udah hampir seminggu dia gak masuk karena sakit cacar.
Oh iya, selain nanganin satu anak ini. Sempet banget interaksi sama anak-anak spesial di kelas lainnya. Ngobrol, shakehand, say good bye, dll. Pokoknya mereka lucu-lucu dan unik! Even di satu sisi ada rasa simpatik saat ada aja teman mereka yang bilang bahwa mereka itu "aneh" :(. Dan orang tua masih suka gak nerima bahwa anaknya tuh harus ditanganin secara khusus, padahal buat kemajuan anaknya juga ke depannya.
Sesibuk apapun orang tua, tolong luangkan dan sisihkan waktu untuk anak. Setidaknya mendengar ia bercerita tentang sekolahnya. Jangan sampai kalo di sekolah cuma menceritakan mbak dan bapak sopir antar-jemputnya. "Kalo mamah pulang, aku udah tidur soalnya. Terus kalo aku bangun pagi, mamah udah berangkat". Itu jawaban jujur dari anak spesial dan dia masih kelas 2 SD. Sumpah, anak itu lucu banget. Tapi sayang, waktu memisahkan kita sampai disini. Hmmm. Iya, cuma bisa ngenang lewat foto atau nginget celotehan-celotehannya.
Terimakasih atas kesempatan untuk mengenal kalian dan mempunyai ilmu baru. See you soon babies, insyaAllah!💖
Jumat, 17 Juni 2016
Kasus Meninggalnya Mahasiswa UI
Saya setuju dengan istilah Mens sana in corpore sano (di dalam jiwa yang sehat ada dalam tubuh yang sehat) dan berikut merupakan salah satu kasus yang kurang adanya keseimbangan antara jasmani dan rohani dalam diri manusia. Berita yang diunggah oleh detik.com pada Selasa 31 May 2016, 15:14 WIB, telah membuktikan bahwa semua manusia itu membutuhkan kesehatan. Baik kesehatan jasmani atau rohani.
Kasus:
“UI Berbelasungkawa Atas Meninggalnya Mahasiswa Akutansi yang Diduga Gantung Diri” (Mei Amelia R – detikNews)
Jakarta - Civitas Akademika Universitas Indonesia (UI) menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Vincensius Billy, mahasiswa angkatan 2012 jurusan akuntansi kelas pararel. UI menyampaikan duka yang mendalam pada keluarga almarhum. "Rektor Prof Muhammad Anis beserta segenap civitas akademika berbelasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga atas meninggalnya Vincensius Billy," jelas Kepala Humas UI Rifelly Dewi Astuti, Selasa (31/5/2016).
Vincensius ditemukan meninggal dunia di kostnya di Kukusan, Depok. Vincensius ditemukan dengan kondisi leher terjerat seutas tali di kamar kosnya. Polisi menduga korban bunuh diri. "Dugaan sementara dari hasil olah TKP dan keterangan saksi-saksi, korban diduga gantung diri," ujar Kasat Reskrim Polres Depok Kompol Teguh Nugroho kepada detikcom.
Jasad korban ditemukan pada pukul 08.15 WIB ketika petugas kebersihan kosan, Mariaty, bersih-bersih di lorong kamar-kamar kos (dra/dra).
Analisis:
Diperkirakan sekitar 15% orang yang didiagnosa gangguan depresi mayor melakukan usaha bunuh diri (Maris et. Al., dalam Davison & Neale, 2001). Pengertian bunuh diri adalah usaha yang dilakukan untuk mengakibatkan kematian diri sendiri. seringkali bunuh diri dianggap sebagai jalan keluar dari masalah yang menyebabkan penderitaan yang mendalam. Bunuh diri sering kali diasosiasikan dengan kebutuhan yang tidak terpenuhi atau terabaikan, konflik yang ambivalen antara keinginan untuk bertahan dengan stres yang berat, perasaan tidak berdaya atau tidak ada harapan, menyempitnya pilihan yang dipersepsi, dan kebutuhan untuk melarikan diri (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1994).
Menurut Freud, orang yang bunuh diri menampilkan agresi yang diarahkan ke dalam dirinya untuk melawan introyeksi dan obyek kateksis yang ambivalen. Berdasarkan teori Freud, Karl Menninger mengemukakan bahwa bunuh diri adalah pembunuhan yang retrofleksis, pembunuhan yang dibalikkan, sebagai hasil kemarahan pada orang lain, yang kemudian diarahkan pada diri sendiri atau digunakan untuk menghindari hukuman. Terdapat 3 komponen bunuh diri menurut Menninger, yaitu harapan untuk membunuh, harapan untuk dibunuh, dan harapan untuk mati. Bunuh diri timbul dari fantasi individu tentang apa yang akan terjadi jika mereka mencoba bunuh diri, dan apa konsekuensinya. Fantasi tersebut banyak melibatkan harapan akan membalas dendam, kekuasaan, konrol, dll.
Faktor yang menyebabkan korban untuk bunuh diri (kemungkinan) karena tuntutan yang belum bisa dicapai (frustasi) yang telah mengubahnya menjadi stres. Misalnya dalam tugas-tugas atau kewajiban selam kuliah yang harus diemban, namun belum bisa terpenuhi sesuai denga harapannya. Selain itu banyak faktor yang dapat menyebabkan suatu individu menjadi stres, antara lain:
1. Faktor Biologis: Gen, penyakit, tidur, postur tubuh, kelelahan.
2. Faktor Psikologis: Frustasi, perasaan dan emosi, pengalaman hidup, keputusan perilaku
3. Faktor Sosial: Keluarga, lingkungan, dunia kerja.
Faktor penyebab stres dilihat dari sudut pandang psikodinamik, mendasarkan diri mereka pada asumsi bahwa gangguan tersebut muncul sebagai akibat dari emosi-emosi yang direpres. Hal-hal yang akan direpres akan muncul akan menentukan organ tubuh mana yang terkena penyakit.
Stres bisa diatasi dengan cara sebagai berikut:
a. Jangan hanya bergantung pada diri sendiri, sebisa mungkin minta bantuan kepada orang terdekat jika memiliki msalah yang tidak bisa dihadapi sendiri.
b. Ciptakan tujuan yang terukur dan bisa tercapai.
c. Jangan menuntut kesempurnaan.
d. Bedakan antara stres yang nyata dan tidak nyata.
e. Tambah keimanan dan motivasi yang baik
f. Belajar mengelola waktu.
Sumber:
- Davison, Gerald C., Neale, John M.. (2001). Abnormal Psychology. 8th editon. New York: John Wiley & Sons.
- Kaplan, H.I., Sadock, B.J., Grebb, J.A.. (1994). Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences Clinical Psychiatry. 7th edition. Baltimore: Williams & Wilkins.
Jumat, 01 April 2016
Narsisme Berat
- Membutuhkan pujian dan kekaguman berlebihan
- Mengambil keuntungan dari orang lain
- Merasa diri paling penting
- Enggan atau tidak bisa menerima sudut pandang orang lain
- Kurangnya empati
- Berbohong, pada diri sendiri dan orang lain
- Terobsesi dengan fantasi ketenaran, kekuasaan, atau kecantikan
- Perasaan megah akan kepentingan pribadi.
- Keasyikan dengan khayalan akan keberhasilan, kekuatan, kecemerlangan, atau kecantikan yang tidak terbatas.
- Kepercayaan bahwa dia itu spesial dan unik.
- Kebutuhan akan kekaguman yang berlebihan.
- Perasaan akan pemberian judul.
- Kecenderungan menjadi meledak-ledak antar individu.
- Kekurangan empati.
- Sering cemburu terhadap orang lain atau percaya bahwa orang lain itu pun cemburu terhadapnya.
- Menunjukkan keangkuhan, perilaku atau sikap yang sombong.
- Terapi dengan kepribadian-kepribadian yang tidak mandiri terfasilitasi oleh fakta bahwa orang-orang ini mencari orang lain yang lebih kuat ada siapa mereka bergantung. Oleh karena itu mereka rela dan mau menerima pasien-pasien. Bagaimanapun, ciri seperti ini dapat membuat mereka terlalu terlalu bergantung pada ahli terapi dan tidak suka membuat keputusan-keputusan mereka sendiri dan mengambil tanggung jawab atas diri mereka sendiri. Millon menyarankan bahwa pendeketan-pendekatan yang bersifat tidak langsung bekerja lebih baik daripada yang bersifat perilaku karena mereka membantu perkembangan yang mandiri.
- Kepribadian narsistik tidak tetap dalam terapi untuk waktu yang lama, terlebih ketika sumber-sumber kegelisahan diperiksa (sebagian besar ahli terapi, tanpa menghiraukan orientasi teoritis, akan bersedia). Millon mengusulkan terapi kognitif untuk membantu kepribadian narsistik belajar untuk berpikir ketimbang untuk bertindak sesuai dorongan hati.
Minggu, 15 November 2015
Pengaruh Internet Bagi Perkembangan Anak
Dewasa ini banyak sekali anak kecil yang sudah “dipercaya” untuk memilki gadget keluaran anyar yang sangat canggih. Namun, perlu disadari juga bahwa peran orang tua masih sangatlah penting untuk pembentukan karakter seorang anak. Banyak anak-anak yang diberi gadget dan orang tua seakan lupa dengan perannya karena merasa gadget sudah sangat mewakili dalam mengajari anak belajar misalnya. Biasanya orang tua memberikan gadget dan memberi anak-anak tersebut aplikasi atau konten yang pantas untuk anak, lalu orang tua sibuk dengan tugasnya masing-masing tanpa memperhatikan apa yang si anak butuhkan.
- Disleksia, yaitu kategori bagi individu yang memiliki gangguan parah dalam hal membaca dan mengeja.
- Disgrafia, yaitu kesulitan belajar yang mencakup kesulitan dalam menulis dengan tangan. Anak-anak disgrafia lamban dalam menulis, hasil tulisannya sangat sulit dibaca, dan sering kali membuat kesalahan ejaan karena tidak mampu menyesuaikan bunyi dengan huruf.
- Diskalkulia, gangguan yang sering disebut dengan gangguan perkembangan aritmatika, yaitu kesulitan belajar yang terkait dengan perhitungan matematika.
