Jumat, 17 Juni 2016

Kasus Meninggalnya Mahasiswa UI

Saya setuju dengan istilah Mens sana in corpore sano (di dalam jiwa yang sehat ada dalam tubuh yang sehat) dan berikut merupakan salah satu kasus yang kurang adanya keseimbangan antara jasmani dan rohani dalam diri manusia. Berita yang diunggah oleh detik.com pada Selasa 31 May 2016, 15:14 WIB, telah membuktikan bahwa semua manusia itu membutuhkan kesehatan. Baik kesehatan jasmani atau rohani.

Kasus:
“UI Berbelasungkawa Atas Meninggalnya Mahasiswa Akutansi yang Diduga Gantung Diri” (Mei Amelia R – detikNews)
Jakarta - Civitas Akademika Universitas Indonesia (UI) menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Vincensius Billy, mahasiswa angkatan 2012 jurusan akuntansi kelas pararel. UI menyampaikan duka yang mendalam pada keluarga almarhum. "Rektor Prof Muhammad Anis beserta segenap civitas akademika berbelasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga atas meninggalnya Vincensius Billy," jelas Kepala Humas UI Rifelly Dewi Astuti, Selasa (31/5/2016).
Vincensius ditemukan meninggal dunia di kostnya di Kukusan, Depok. Vincensius ditemukan dengan kondisi leher terjerat seutas tali di kamar kosnya. Polisi menduga korban bunuh diri. "Dugaan sementara dari hasil olah TKP dan keterangan saksi-saksi, korban diduga gantung diri," ujar Kasat Reskrim Polres Depok Kompol Teguh Nugroho kepada detikcom.
Jasad korban ditemukan pada pukul 08.15 WIB ketika petugas kebersihan kosan, Mariaty, bersih-bersih di lorong kamar-kamar kos (dra/dra).

Analisis:
Diperkirakan sekitar 15% orang yang didiagnosa gangguan depresi mayor melakukan usaha bunuh diri (Maris et. Al., dalam Davison & Neale, 2001). Pengertian bunuh diri adalah usaha yang dilakukan untuk mengakibatkan kematian diri sendiri. seringkali bunuh diri dianggap sebagai jalan keluar dari masalah yang menyebabkan penderitaan yang mendalam. Bunuh diri sering kali diasosiasikan dengan kebutuhan yang tidak terpenuhi atau terabaikan, konflik yang ambivalen antara keinginan untuk bertahan dengan stres yang berat, perasaan tidak berdaya atau tidak ada harapan, menyempitnya pilihan yang dipersepsi, dan kebutuhan untuk melarikan diri (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1994).
Menurut Freud, orang yang bunuh diri menampilkan agresi yang diarahkan ke dalam dirinya untuk melawan introyeksi dan obyek kateksis yang ambivalen. Berdasarkan teori Freud, Karl Menninger mengemukakan bahwa bunuh diri adalah pembunuhan yang retrofleksis, pembunuhan yang dibalikkan, sebagai hasil kemarahan pada orang lain, yang kemudian diarahkan pada diri sendiri atau digunakan untuk menghindari hukuman. Terdapat 3 komponen bunuh diri menurut Menninger, yaitu harapan untuk membunuh, harapan untuk dibunuh, dan harapan untuk mati. Bunuh diri timbul dari fantasi individu tentang apa yang akan terjadi jika mereka mencoba bunuh diri, dan apa konsekuensinya. Fantasi tersebut banyak melibatkan harapan akan membalas dendam, kekuasaan, konrol, dll.
Faktor yang menyebabkan korban untuk bunuh diri (kemungkinan) karena tuntutan yang belum bisa dicapai (frustasi) yang telah mengubahnya menjadi stres. Misalnya dalam tugas-tugas atau kewajiban selam kuliah yang harus diemban, namun belum bisa terpenuhi sesuai denga harapannya. Selain itu banyak faktor yang dapat menyebabkan suatu individu menjadi stres, antara lain:
1. Faktor Biologis: Gen, penyakit, tidur, postur tubuh, kelelahan.
2. Faktor Psikologis: Frustasi, perasaan dan emosi, pengalaman hidup, keputusan perilaku
3. Faktor Sosial: Keluarga, lingkungan, dunia kerja.
Faktor penyebab stres dilihat dari sudut pandang psikodinamik, mendasarkan diri mereka pada asumsi bahwa gangguan tersebut muncul sebagai akibat dari emosi-emosi yang direpres. Hal-hal yang akan direpres akan muncul akan menentukan organ tubuh mana yang terkena penyakit.
Stres bisa diatasi dengan cara sebagai berikut:
a. Jangan hanya bergantung pada diri sendiri, sebisa mungkin minta bantuan kepada orang terdekat jika memiliki msalah yang tidak bisa dihadapi sendiri.
b. Ciptakan tujuan yang terukur dan bisa tercapai.
c. Jangan menuntut kesempurnaan.
d. Bedakan antara stres yang nyata dan tidak nyata.
e. Tambah keimanan dan motivasi yang baik
f. Belajar mengelola waktu.

Sumber:
- Davison, Gerald C., Neale, John M.. (2001). Abnormal Psychology. 8th editon. New York: John Wiley & Sons.
- Kaplan, H.I., Sadock, B.J., Grebb, J.A.. (1994). Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences Clinical Psychiatry. 7th edition. Baltimore: Williams & Wilkins.

Jumat, 01 April 2016

Narsisme Berat


A. Pengertian Narsisme Berat 
   Pada kesempatan menulis kali ini, saya akan membahas tentang Narsisme Berat pada suatu individu. Manusia yang sehat menunjukkan narsisme yang baik, yaitu ketertarikan akan tubuh sendiri. Walaupun demikian, dalam bentuk buruknya, narsisme menghalangi persepsi akan kenyataan sehingga segala sesuatu yang dimiliki orang narsistik dinilai tinggi dan segala sesuatu milik orang lain tidak bernilai. Individu dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki perasaan yang kuat bahwa dirinya adalah orang yang penting serta merupakan individu yang unik. Mereka merasa bahwa diri mereka spesial dan ingin diperlakukan khusus pula. Oleh karena itu, mereka sangat sulit atau tidak dapat menerima kritik dari orang lain.
    Individu narsistik terpaku pada diri sendiri, namun hal ini tidak terbatas hanya pada mengagumi diri dalam kaca. Keterpakuan pada tubuh sering menyebabkan Hipokondriasis (perhatian obsesif akan kesehatan seseorang). Fromm (dalam Feist&Feist, 2014) juga membahas Hipokondriasis Moral (keterpakuan dengan rasa bersalah akan pelanggaran yang sebelumnya terjadi). Orang-orang yang terfiksasi akan diri mereka sendiri cenderung menginternalisasi pengalaman-pengalaman mereka dan merenungkan kesehatan fisik serta kebaikan moral mereka.
   Sikap mereka mengakibatkan hubungan yang mereka miliki biasanya rentan (mudah pecah) dan mereka dapat membuat orang lain sangat marah, karena penolakan mereka untuk mengikuti aturan yang telah ada. Mereka juga tidak mampu untuk menampilkan empati. Kalaupun mereka memberikan empati atau simpati, biasanya mereka memiliki tujuan tertentu untuk kepentingan diri mereka senidiri.
   Individu dengan gangguan kepribadian narsistik tidak memilik self-esteem yang mantap dan mereka rentan untuk menjadi depresi. Masalah-masalah yang biasanya muncul karena tingkah laku individu yang narsistik misalnya sulit membina hubungan interpersonal, penolakan dari orang lain, kehilangan sesuatu atau masalah dalam pekerjaan. Kesulitan lainnya adalah mereka ternyata tidak mampu mengatasi stres yang mereka rasakan dengan baik. Prevalensi dari gangguan kepribadian narsistik berkisar antara 2-16% pada populasi klinis dan kurang dari 1% pada populasi umumnya. Prevalensi mengalami peningkatan pada populasi dengan orang tua yang selalu menanamkan ide kepada anaknya bahwa mereka cantik, berbakat, dan spesial secara berlebihan.

B. Gejala
  • Membutuhkan pujian dan kekaguman berlebihan
  • Mengambil keuntungan dari orang lain
  • Merasa diri paling penting
  • Enggan atau tidak bisa menerima sudut pandang orang lain
  • Kurangnya empati
  • Berbohong, pada diri sendiri dan orang lain
  • Terobsesi dengan fantasi ketenaran, kekuasaan, atau kecantikan
C. Kebiasaan
   Orang narsistik membutuhkan dan mengharapkan perhatian khusus. Mereka juga cenderung memanfaatkan dan mengeksploitasi orang lain bagi kepentingannya sendiri serta hanya sedikit menunjukkan sedikit empati. Ketika dihadapkan pada orang lain yang sukses, mereka bisa merasa sangat iri hati dan arogan. Dan karena mereka sering tidak mampu mewujudakan harapan-harapannya sendiri, mereka sering merasa depresi. Gangguan kepribadian narsistik dicirikan oleh keterpusatan diri. Mereka membesar-besarkan prestasi mereka, mengharapkan orang lain untuk mengakui mereka sebagai superior. Mereka cenderung pemilih teman, karena mereka percaya bahwa tidak sembarang orang yang layak menjadi teman mereka. Narsistik cenderung membuat kesan pertama yang baik, namun mengalami kesulitan menjaga hubungan jangka panjang. Mereka umumnya tidak tertarik pada perasaan orang lain dan dapat mengambil keuntungan dari mereka.
    Menurut DSM IV-TR, kriteria gangguan kepribadian narsistik yaitu, pandangan yang dibesar-besarkan mengenai pentingnya diri sendiri, arogansi, terfokus pada keberhasilan, kecerdasan, kecantikan diri, kebutuhan ekstrem untuk dipuja, perasaan kuat bahwa mereka berhak mendapatkan segala sesuatu, kecenderungan memanfaatkan orang lain, dan iri kepada orang lain.
Sebuah pola dari khayalan dan perilaku, diantaranya kebutuhan untuk kekaguman, dan kurangnya empati, seperti yang diindikasikan oleh minimal 5 dari yang dibawah ini:
  1. Perasaan megah akan kepentingan pribadi.
  2. Keasyikan dengan khayalan akan keberhasilan, kekuatan, kecemerlangan, atau kecantikan yang tidak terbatas.
  3. Kepercayaan bahwa dia itu spesial dan unik.
  4. Kebutuhan akan kekaguman yang berlebihan.
  5. Perasaan akan pemberian judul.
  6. Kecenderungan menjadi meledak-ledak antar individu.
  7. Kekurangan empati.
  8. Sering cemburu terhadap orang lain atau percaya bahwa orang lain itu pun cemburu terhadapnya.
  9. Menunjukkan keangkuhan, perilaku atau sikap yang sombong.
D. Penanganan dan Hasilnya
    Gangguan kepribadian narsistik secara umum sulit untuk dirawat, pada sebagian karena mereka adalah, menurut definisi, relatif kronis, dapat meresap, dan pola perilaku dan pengalaman di dalam diri yang tidak dapat diubah. Lebih jauh lagi, banyak tujuan dari perawatan yang berbeda dapat dirumuskan, dan beberapa lebih sulit untuk dicapai dari yang lainnya. Tujuannya mungkin termasuk keadaan sulit subjektif, mengubah perilaku disfungsional yang spesifik, dan mengubah keseluruhan pola perilaku atau keseluruhan struktur kepribadian.
   Pada banyak kasus, orang dengan kelainan kepribadian mengikuti perawatan hanya oleh desakan seseorang, dan mereka sering tidak percaya bahwa mereka harus berubah. Selanjutnya, mereka yang berasal dari Kelompok A yang aneh/eksentrik dan Kelompok B yang tidak teratur/dramatis mempunyai perbedaan-perbedaan yang umum dalam pembentukan dan memelihara hubungan baik, termasuk dengan seorang ahli terapi. Bagi mereka yang berasal dari Kelompok B yang tidak teratur/dramatis, pola dari tindakan, khas dalam hubungan mereka yang lainnya, dibawa ke dalam situasi terapi, dan daripada berhadapan dengan masalah mereka di tingkat verbal, mereka mungkin akan menjadi marah pada ahli terapi dan mengacaukan sesi.
    Sebagai tambahan, orang yang mempunyai 2 kelainan baik di Axis I dan Axis II rata-rata, melakukan perawatan yang baik untuk kelainan pada Axis I mereka sebagai pasien tanpa kelainan kepribadian. Ini sebagian dikarenakan orang dengan kelainan kepribadian mempunyai ciri-ciri kepribadian yang kaku dan berakar yang sering membawa kepada hubungan yang mengandung unsur pengobatan yang memprihatinkan dan apalagi membuat mereka bertahan melakukan sesuatu yang dapat meningkatkan kondisi Axis I mereka.

E. Jenis-jenis Terapi
    a. Terapi menurut Pendekatan Millon
     Ada sebuah informasi yang berdasar kepada penelitian kecil dalam merawat kelainan kepribadian sebagaimana adanya informasi dalam bagaimana mereka berkembang. Ada, meskipun, sebuah kesusastraan kasus klinis yang hidup dan berkembang dalam terapi-terapi untuk banyak kelainan-kelainan kepribadian. Walaupun garis besar ide-ide berikut ini adalah untuk bagian besar berdasarkan pada pengalaman-pengalaman klinis dari beberapa professional kesehatan mental, dan tidak pada studi-studi tentang yang berisikan pengawasan-pengawasan yang cocok, petunjuk pengobatan ini adalah semua yang tersedia dalam memperlakukan kelainan kepribadian.
     Sebuah perasaan terhadap apa yang terkandung dalam literatur dapat dipahami dari beberapa ide yang seterusnya ditanamkan oleh Millon (1981) dalam bukunya yang terkenal secara luas tentang kelainan-kelainan kepribadian (Millon sebelumnya adalah bagian dari tim DSM-III yang bekerja tentang kelainan-kelainan kepribadian). Dia menganjurkan bahwa:
  1. Terapi dengan kepribadian-kepribadian yang tidak mandiri terfasilitasi oleh fakta bahwa orang-orang ini mencari orang lain yang lebih kuat ada siapa mereka bergantung. Oleh karena itu mereka rela dan mau menerima pasien-pasien. Bagaimanapun, ciri seperti ini dapat membuat mereka terlalu terlalu bergantung pada ahli terapi dan tidak suka membuat keputusan-keputusan mereka sendiri dan mengambil tanggung jawab atas diri mereka sendiri. Millon menyarankan bahwa pendeketan-pendekatan yang bersifat tidak langsung bekerja lebih baik daripada yang bersifat perilaku karena mereka membantu perkembangan yang mandiri.
  2. Kepribadian narsistik tidak tetap dalam terapi untuk waktu yang lama, terlebih ketika sumber-sumber kegelisahan diperiksa (sebagian besar ahli terapi, tanpa menghiraukan orientasi teoritis, akan bersedia). Millon mengusulkan terapi kognitif untuk membantu kepribadian narsistik belajar untuk berpikir ketimbang untuk bertindak sesuai dorongan hati.
     Bagaimanapun juga, ini penting untuk diperhatikan bahwa, seperti orang lain yang menulis tentang tentang itu dan bekerja dengan kelainan-kelainan kepribadian, Millon sangat berhati-hati tentang berharap terlalu besar dari terapi ketika jarak dari masalah-masalah sangat lebar dan mencakup semua.

    b. Teknik Penanganan Terapeutik
       Teknik-teknik pengobatan harus sering dimodifikasi. Contohnya, mengenali bahwa psikoterapi individu tradisional cenderung untuk mendorong ketergantungan pada orang yang telah terlalu dependen, ini sering bermanfaat untuk mengembangkan strategi perawatan secara khusus bertujuan pada perubahan ciri-cirinya. Para pasien dari Kelompok C yang gelisah/ketakutan, mungkin akan menjadi hipersensitif terhadap berbagai kritikan yang mungkin mereka rasakan dari ahli terapi, jadi para ahli terapi harus sangat berhati-hati dalam memastikan itu tidak terjadi.
     Mengubah skema-skema yang mendasar ini sulit tetapi berada di inti dari terapi kognitif untuk kelainan kepribadian, yang menggunakan teknik-teknik kognitif standar dari memantau pikiran-pikiran otomatis, menantang logika yang cacat, dan menugaskan tugas yang berhubungan dengan perilaku dalam sebuah usaha untuk menantang kepercayaan pasien.

   c. Terapi Perilaku-Kognitif (Cognitive Behavioral Therapy)
     Terapi kognitif diarahkan pada usaha mengganti fantasi mereka dengan fokus pada pengalaman sehari-hari yang menyenangkan, yang memang benar-benar dapat dicapai. Strategi coping seperti latihan relaksasi digunakan untuk membantu mereka mengahadapi dan menerima kritik. Membantu mereka untuk memfokuskan perasaannya terhadap orang lain juga menjadi tujuannya. Karena penderita gangguan ini rentan mengalami episode-episode depresif, terutama pada usia pertengahan, penanganan sering dimulai untuk mengatasi depresinya. Tetapi, mustahil untuk menarik kesimpulan tentang dampak penanganan semacam itu pada gangguan kepribadian narsistik yang sesungguhnya.

   d. Terapi Kelompok (Group Therapy)
    Ahli terapi perilaku, dalam menjaga perhatian mereka pada situasi-situasi daripada ciri-ciri, tidak mempunyai perawatan khusus sebagaimana untuk kelainan-kelainan kepribadian lainnya yang yang ditunjukkan oleh DSM-III. Akan lebih baik mereka menganalisa masalah-masalah yang mana, diambil bersama mungkin dipertimbangkan oleh para pengikut dari DSM-III untuk menggambarkan sebuah kelainan kepribadian.
    Satu aspek dari kelainan kepribadian memerintahkan perhatian dari ahli terapi yang berketerampilan manapun. sebagaimana dari penolong professional lainnya, yaitu yang dinyatakan melekat secara mendalam, berdiri lama, dan dapat menembus sifat dasar dari masalah. Ahli terapi manapun yang bekerjasama dengannya harus betul-betul mempertimbangkan implikasi-implikasi yang luas dari masalahnya. Sebelum seorang yang mempunyai kecurigaan yang tinggi dapat mengekspresikan emosinya secara terbuka dan sewajarnya.



Sumber:
Fausiah, F. dan Julianti Widury. (2008). Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Feist, J. dan Gregory J. Feist. (2014). Teori Kepribadian Edisi 7. Jakarta: Salemba Humanika.

Minggu, 15 November 2015

Pengaruh Internet Bagi Perkembangan Anak



Dewasa ini banyak sekali anak kecil yang sudah “dipercaya” untuk memilki gadget keluaran anyar yang sangat canggih. Namun, perlu disadari juga bahwa peran orang tua masih sangatlah penting untuk pembentukan karakter seorang anak. Banyak anak-anak yang diberi gadget dan orang tua seakan lupa dengan perannya karena merasa gadget sudah sangat mewakili dalam mengajari anak belajar misalnya. Biasanya orang tua memberikan gadget dan memberi anak-anak tersebut aplikasi atau konten yang pantas untuk anak, lalu orang tua sibuk dengan tugasnya masing-masing tanpa memperhatikan apa yang si anak butuhkan.

Sebenarnya saya cukup prihatin dengan perkembangan anak di zaman sekarang ini. Banyak anak yang perkembangannya kurang matang di masanya. Saya ambil contoh pada perkembangan motorik anak usia 3 tahun, biasanya anak-anak gemar melakukan gerakan-gerakan sederhana, seperti melompat serta berlari kesana-kemari; hal tersebut dilakukan untuk sekedar menyenangkan hati ketika menampilkan hal tersebut. Aktvitas pada anak usia 3 tahun tersebut dapat menjadi sumber kebanggaan dan prestasi yang cukup berarti jika dibandingkan dengan hanya bermain gadget. Pada usia ini, biasanya anak-anak juga senang bermain puzzle sederhana, ia masih meletakkan potongan-potongan itu dengan agak kasar. Bahkan ketika mereka belum mampu meletakkannya dengan benar, sering kali mereka terus mencoba meletakkan potongan puzzle tersebut dengan penuh semangat. Pada usia 4 tahun, anak-anak masih menikmati berbagai aktivitas sejenis, namun pada usia ini biasanya akan lebih berani. Dan koordinasi motorik halus pada anak usia 4 tahun sudah dapat memperlihatkan kemajuan yang bersifat substansial dan ia juga menjadi lebih cermat. Sedangkan pada anak usia 5 tahun, anak-anak mengembangkan jiwa petualang yang lebih besar lagi, si anak mulai mampu berlari kencang dan gemar berlomba dengan kawan-kawan sebaya maupun orang tuanya.  Koordinasi motorik halus pada usia ini telah memperlihatkan kemajuan yang lebih jauh lagi. Tangan, lengan, dan tubuh, semuanya bergerak bersama di bawah komando mata.

Bila dilihat untuk jam tidur si kecil, para ahli merekomendasikan agar anak-anak tidur selama 11-13 jam setiap malam (National Sleep Foundation, 2010). Sebagian besar anak-anak kecil tidur sepanjang malam dan satu kali tidur siang. Tidak hanya waktu tidur yang penting bagi anak-anak, tapi juga tidur yang tidak terganggu. Studi terbaru lainnya mengungkap bahwa anak-anak yang memiliki masalah tidur dari usia 3-8 tahun cenderung mengembangkan masalah remaja, seperti penyalahgunaan obat dan depresi di usia dini (dalam Santrock: Wong, Brower, &Zucker, 2009).

Selanjutnya ada pada masalah malasnya berolahraga. Dikarenakan sudah terlalu asyik untuk bermain gadget, biasanya anak-anak malas untuk diajak berolahraga. Karena, merasa game di gadget-nya itu lebih asyik daripada harus berlari atau berpanas-panasan di luar.

Selanjutnya dilihat dari proses belajar anak. Biasanya anak yang sudah terikat oleh gadget itu sulit untuk diajak belajar (meskipun tidak semua anak memiliki gangguan yang sama). Karena saat anak sudah di depan layar gadget, anak hanya akan diam terpaku oleh animasi-animasi dalam game atau aplikasi lainnya di gadget. Pada proses belajar ini, anak-anak akan semakin malas untuk diajak belajar dan dapat berkembang menjadi anak yang mengalami kesulitan belajar (learning disability) yang meliputi pemahaman atau menggunakan bahasa lisan maupun tulisan, dan kesulitan tersebut terlihat dalam hal mendengar, berpikir, membaca, menulis, dan mengeja. Berikut merupakan tiga macam kesulitan tersebut adalah:
  1. Disleksia, yaitu kategori bagi individu yang memiliki gangguan parah dalam hal membaca dan mengeja.
  2. Disgrafia, yaitu kesulitan belajar yang mencakup kesulitan dalam menulis dengan tangan. Anak-anak disgrafia lamban dalam menulis, hasil tulisannya sangat sulit dibaca, dan sering kali membuat kesalahan ejaan karena tidak mampu menyesuaikan bunyi dengan huruf.
  3. Diskalkulia, gangguan yang sering disebut dengan gangguan perkembangan aritmatika, yaitu kesulitan belajar yang terkait dengan perhitungan matematika.

Jadi, untuk para orang tua atau kita yang senang dengan anak-anak. Perhatikanlah apakah si anak tersebut mengalami perkembangan yang baik atau tidak. Baik pada ruang lingkup kognitif, emosi, dan proses sosialnya di lingkungan. Tidak ada pelarangan dalam bermain gadget, tapi akan lebih baik bila orang tua mendampingi dan mengawasi anak dalam bermain gadget dan memperhatikan intensitas waktu yang telah dihabiskan anak dalam bermain gadget. Sudah seharusnya, orang tua menjadi pendamping yang baik untuk anak. Perhatikan perkembangan anak, apakah si anak melewati periode perkembangan sesuai usianya atau tidak. Perhatikan juga jam biologis anak yang seharusnya mereka dapatkan sesuai usianya. Bila ada yang terlewati pada periode seharusnya, maka saat remaja atau dewasa nanti si anak akan mengalami hal-hal yang tidak seharusnya terjadi dan menjadi kebiasaan yang berkelanjutan.







Sumber:

Santrock, John W. 2012. Perkembangan Masa Hidup Edisi Ketigabelas Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Senin, 19 Oktober 2015

Apakah Kaitan Antara Psikologi dengan Teknologi Internet?

Selamat menikmati bacaan blog saya, para blogger. Kali ini saya akan membahas tentang kaitan antara ilmu psikologi dengan adanya teknologi internet. Berhubung zaman sekarang adalah zaman era modern, zaman dimana semuanya serba canggih dan manusia semakin lupa dengan lingkungan disekitarnya.
Bila kita perhatikan saat di tempat umum, adakah orang yang mengobrol bertatap muka untuk membahas hal-hal yang sekiranya berita penting di masyarakat? Saya rasa tidak, orang-orang yang memiliki gadget canggih kemungkinan akan berkutat pada layar gadget-nya. Di zaman seperti ini, banyak orang yang apatis terhadap lingkungannya sendiri. Saya ambil contoh, saat saya berada di Angkutan Umum Antar-Kota (angkot), lalu di transportasi lain seperti KRL, dan di tempat lainnya, saya merasa hampir sebagian orang disekitar saya tidak memperdulikan lingkungannya dan lebih memilih untuk setia terhadap gadget-nya. Tidak usah jauh-jauh, saat kalian sedang asyik mengobrol dengan teman kelas kalian. Perhatikan saja, apakah dia menatap wajah langsung atau tatapannya hanya tertuju pada layar gadget-nya? Itu merupakan salah satu tanda bahwa teknologi internet sudah sangat menjiwai para penggunanya. Nah, mungkin teman-teman masih bingung. “Lalu, apa hubungannya psikologi sama internet? Masih bingung deh...”. Baik, saya akan menjelaskan tentang psikologi terlebih dahulu.
Psikologi itu kan ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia dan fungsi mentalnya secara ilmiah. Dan bila kita kaitkan dengan adanya teknologi internet, kita dapat memperhatikan perilaku apa saja yang sekiranya dapat membuat perilaku manusia berubah secara cepat ataupun lambat. Dalam ilmu psikologi, orang yang sudah kecanduan akan gadget-nya masing-masing dan takut dipisahkan dengan gadget-nya dapat disebut dengan Nomophobia (No Mobile No Phone Phobia).
Dewasa ini, banyak usia anak SD yang sudah memiliki gadget canggih keluaran terbaru. Dan dari adanya gadget itulah akan timbul banyak permasalahan baru dalam perilaku anak sehari-hari. Meskipun tidak melulu menimbulkan masalah, gadget juga dapat memberikan manfaat jika intensitas penggunaannya benar. Saya kira, untuk kalangan anak SD masih butuh pendampingan orangtua dalam mengakses internet. Apalagi teknologi zaman sekarang tidak dapat dipredeksi konten apa saja yang akan muncul, yang akan membuat si anak penasaran dengan konten tersebut. Bagus jika kontennya berbobot untuk anak seusianya, tapi bagaimana jika konten tersebut adalah konten yang buruk dan akan mengahancurkan otaknya? Maka dar itu,pendampingan orangtua sangatlah dibutuhkan saat si anak mengakses internet. Orangtua juga harus bisa memberi masukan saat si anak mengakses internet, masukkan yang dimaksud seperti bagaimana cara membuat prakarya dari sisa bahan-bahan bekas? Bukankah itu masukkan yang baik bukan?
Berikut saya akan sedikit menjelaskan apa saja dampak positif dan negatif pada teknologi internet. Dimulai dari dampak positifnya terlebih dahulu:
1. Dari segi pendidikan: siswa dapat mencari bahan untuk mengembangkan ilmu mereka, dapat mencari program beasiswa yang diadakan di seluruh dunia melalui internet, dapat lebih kreatif untuk mengembangakn bakat atau skill.
2. Dari segi ekonomi: semakin mudah untuk melakukan transaksi online, jual-beli online yang dewasa ini semakin pesat perkembangannya.
3. Dari segi sosial: komunikasi dapat terjalin meskipun dengan jarak yang jauh keberadaannya, dapat mengakses berbagai hiburan yang mereka inginkan, dan lain-lain.
Sekarang saya akan menjelaskan dampak negatif yang akan ditimbulkan:
1. Dari segi pendidikan: akan membuat siswa menjadi malas karena merasa mudah dengan adanya internet, bisa tinggal copy-paste. Dan semua tugas akan selesai begitu saja, tanpa harus menelaah terlebih dahulu.
2. Dari segi ekonomi: banyaknya penipuan yang mengatas namakan toko online, maraknya pencurian data perusahaan oleh orang yang tak bertanggung jawab.
3. Dari segi sosial: Banyak orang yang malas bertatap muka langsung, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, orang akan lebih individual, apatis dengan lingkungan sekitar, dan anti sosial.
Saat teknologi internet diaskses dengan baik, tentunya akan menghasilkan hal yang baik dan menguntungkan pula untuk kita sebagai penggunanya. Semuanya kembali lagi tentang bagaimana si pengguna mengakses internet tersebut. Oleh sebab itu, kita harus bijak dalam mengakses internet. Entah dalam kontennya, intensitas waktu yang dihabiskan untuk mengakses internet, atau bahkan kita sudah benar-benar lupa akan waktu yang seharusnya kita habiskan dengan orang disekitar kita. Pesan saya, jadilah orang yang bijak dalam berinternet. Selamat malam...

Kamis, 25 Juni 2015

BERPIKIR DAN BERBAHASA PADA ANAK

                

Menurut Behaviorisme, berpikir merupakan penguatan antara stimulus dan respons. Menurut Asosiasionis, berpikir merupakan asosiasi antara tanggapan yang satu dengan yang lain. Dari segi Kognisi, berpikir merupakan pemrosesan informasi dari stimulus yang ada (starting position) sampai ke pemecahan masalah (finishing position atau goal state). Berpikir yang kadangkala dipandang sebagai penalaran, meliputi proses mental yang digunakan untuk membentuk konsep, memecahkan masalah, dan ikut serta melakukan aktivitas-aktivitas kreatif.

Simbol yang digunakan dalam berpikir pada umumnya adalah kata-kata atau bahasa. Bahasa hanya merupakan salah satu alat. Masih ada alat lain, yaitu image (gambaran) atau yang biasa disebut dengan Visual Map/ Cognitive Map. Selanjutnya ada fungsi dari sebuah konsep, menurut Plotnik, yang dijalankan dengan dua macam fungsi, yaitu:
a.      Organize Information:
Konsep yang memungkinkan anak dalam mengelompokkan segala sesuatu ke dalam kategori-kategori dan mengorganisasikannya secara lebih baik kemudian menyimpan informasi tersebut ke dalam memori.
b.      Avoid Relearning:
Anak dapat dengan mudah mengklasifikasikan atau mengelompokkan sesuatu yang baru tanpa mempelajari ulang sesuatu tersebut.

Menurut Walgito (1980: 180) dalam pemecahan masalah, subjek diarahkan untuk mencari pemecahan masalah dan dipacu untuk mencapai pemecahan tersebut. Jadi, pemecahan masalah (problem solving) merupakan tugas subjek untuk menemukan cara memecahkan masalah. Sementara menurut Plotnik, pemecahan masalah meliputi pencarian beberapa aturan (kaidah), rencana atau strategi yang membuat kita berhasil mencapai satu tujuan yang sekarang belum tercapai. Jadi, pemecahan masalah ada dua aturan, yaitu:
a.       Kaidah Algoritma:
Suatu perangkat kaidah atau aturan yang apabila aturan ini diikuti dengan benar, maka akan ada jaminan keberhasilan pemecahan masalah.
b.      Kaidah Horistik:
   Strategi yang didasarkan pada pengalaman dalam menghadapi masalah yang mengarah pada pemecahan masalah, walaupun tidak ada jaminan akan kesuksesan.

Ciri-ciri utama dalam berpikir adalah adanya abstraksi. Abstraksi dalam hal ini berarti anggapan lepasnya kualitas atau relasi dari benda-benda, kejadian-kejadian dan situasi-situasi yang mula-mula dihadapi sebagai kenyataan. Sebagai contoh, kita lihat sebungkus rokok, rokok itu sebuah benda yang konkrit. Jika kita pandang hanya warna bungkus rokok itu, maka warna isi kita lepaskan dari semua yang ada pada sebungkus rokok itu (bentuknya, rasanya, beratnya, baunya, dan sebagainya). Mula-mula warna itu hanya pada benda konkrit yang kita hadapi dan merupakan bagian dari keutuhan yang tidak dapat dilepaskan. Sekarang warna itu sendiri kita pandang, dan kita pisahkan dari keseluruhan bungkus rokok. Dengan demikian dalam arti luas kita dapat mengatakan bahwa berpikir adalah bergaul dengan abstraksi-abstraksi. Dalam arti yang sempit, berpikir adalah meletakkan atau mencari hubungan pertalian antara abstraksi-abstraksi. Berpikir erat hubungannya dengan daya-daya jiwa yang lain, seperti dengan tanggapan, ingatan, pengertian, dan perasaan. Tangapan memegang peranan penting dalam berpikir meskipun ada kalanya dapat mengganggu jalannya berpikir.

Ingatan merupakan syarat yang harus ada dalam berpikir, karena memberikan pengalaman-pengalaman dari pengamatan yang telah lampau. Pengertian meskipun hasil berpikir dapat memberi bantuan yang besar pula dalam suatu proses berpikir. Perasaan selalu menyertai pula, ia merupakan dasar yang mendukung suasana hati atau sebagai pemberi keterangan dan ketekunan yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah.

Perkembangan kemampuan berpikir dan berbahasa pada anak berjalan secara bersamaan, karena salah satu hasil kemamapuan berpikir adalah berbahasa. Piaget mengelompokkan tahap-tahap perkembangan kognitif menjadi empat tahap, yaitu:
1.       Tahap Sensorimotor (0-2 tahun):
Pada tahap ini, kegiatan intelektual anak hampir seluruhnya merupakan gejala yang diterima secara langsung melalui indera. Pada saat anak mencapai kematangan dan secara perlahan mulai memperoleh keterampilan berbahasa, mereka menerapkannya pada objek-objek yang nyata. Pada tahap ini anak mulai memahami hubungan antara benda dengan nama benda tersebut.
Piaget membagi sensorimotor menjadi enam subtahap, yaitu:
a)      Refleks Sederhana (0-1 bulan)
b)      Kebiasaan (1-4 bulan)
c)       Reproduksi Kejadian yang Menarik(4-8 bulan)
d)      Koordinasi Skemata(8-12 bulan)
e)      Eksperimen (12-18 bulan)
f)       Representasi (18-24 bulan)
2.       Tahap PraOperasional (2-7 tahun):
Perkembangan yang pesat dialami oleh anak pada tahap ini. Anak semakin memahami lambang-lambang bahasa yang digunakan untuk menunjukkan benda-benda. Keputusan yang diambil hanya berdasarkan intuisi, bukan atas dasar analisis rasional. Kesimpulan yang diambil merupakan kesimpulan dari sebagian kecil yang diketahuinya, dari suatu keseluruhan yang besar. Anak akan berpendapat bahwa pesawat terbang berukuran kecil karena itulah yang mereka lihat di langit ketika ada pesawat terbang yang lewat.
3.       Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun):
Pada tahap ini anak mulai berpikir logis dan sistematis untuk mencapai pemecahan masalah. Masalah yang dihadapi dalam tahap ini bersifat konkret. Anak akan merasa kesulitan bila menghadapi masalah yang bersifat abstrak. Pada tahap ini anak menyukai soal-soal yang telah tersedia jawabannya.
4.       Tahap Operasional Formal (11 tahun ke atas):
Anak mencapai tahap perkembangan ini ditandai dengan pola pikirnya yang seperti orang dewasa. Anak telah dapat menerapkan cara berpikir terhadap permasalahan yang konkret maupun abstrak. Pada tahap ini anak sudah dapat membentuk ide-ide dan berpikir tentang masa depan secara realistis.
               
Menurut Plotnik (2005: 312), bahasa adalah bentuk komunikasi khusus yang meliputi penggunaan kaidah-kaidah pembelajaran yang kompleks untuk menyusun dan mengombinasikan simbol-simbol (kata-kata atau gerak isyarat) ke dalam sejumlah tak terbatas kalimat-kalimat yang bermakna. Sistem-sistem aturan bahasa, meliputi:
a.  Fonologi, yaitu satuan bunyi terkecil yang terdapat dalam bahasa.
b. Morfologi, yaitu sistem mengenai satuan-satuan bermakna yang digunakan untuk membentuk kata.
c.  Sintaksis, yaitu sistem mengenai cara mengombinasikan kata-kata untuk membentuk frase dan kalimat yang masuk akal.
d.  Semantik, yaitu sistem mengenai makna kata atau kalimat.
e.  Pragmatik, yaitu sistem mengenai cara menggunakan percakapan yang sesuai dan pengetahuan mengenai cara menggunakan bahasa secara efektif sesuai konteksnya.
               
Menurut Pinker (1994) dalam kenyataannya perkembangan bahasa semua anak tidak tergantung budaya atau bahasa, melewati tahap-tahap yang sama, yaitu: Babbling (ocehan atau celotehan), Single Word (kata tunggal), Two-Word Combinations (kombinasi dua kata), Sentences (kalimat-kalimat).

Gangguan keterlambatan bicara adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya. Pada umumnya mereka mempunyai perkembangan intelegensi dan sosial-emosional yang normal. Menurut penelitian, problem ini terjadi atau dialami 5-10% anak-anak usia prasekolah dan lebih cenderung dialami oleh anak laki-laki dari pada perempuan.  Pada kasus-kasus tertentu, hambatan berbicara  dan berbahasa terlihat dari adanya hambatan dalam menulis. Adapun penyebab dari keterlambatan bicara ini disebabkan oleh beragam faktor, seperti:
1.   Hambatan Pendengaran
Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga.
2. Hambatan Perkembangan pada Otak yang Menguasai Kemampuan Oral-Motor
Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.
3.    Masalah Keturunan
Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.
4.    Masalah Pembelajaran dan Komunikasi dengan Orang Tua
Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun. Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat. Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan "memasukkan" segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.
5.    Faktor Televisi
Anak batita yang banyak nonton TV cenderung akan menjadi pendengar pasif, hanya menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang). Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.



Sumber:
- Basuki, H. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.
- Mulyani Sumantri dan Nana Syaodih. (2006). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Universitas Terbuka.
- Santrock, W. John. (2012). Life Span Development-13th ed.. Jakarta: Erlangga.